9 Jawara Abstrak Gelar Pameran di Galeri Nasional

Bagi penikmat seni abstrak, sejak tanggal 10 Oktober hingga 30 Oktober disuguhkan pameran menarik di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat yang berjudul “9 ruang abstrak”.

9 Ruang Abstrak sengaja dipilih oleh 9 jawara abstrak  yang terdiri dari; Andi Suandi, Ar.Soedarto, Baron Basuning, FX. Jefrrey Sumampouw, Gogor Purwoko, Irawan Karseno, Krishnaeta, Nunung WS dan Sulebar M. Soekarman karena didalamnya terdapat sebuah penanda sekumpulan kegelisahan, dan impian serta langkah kongkrit untuk menjawabnya. Bila merujuk lahirnya paradigma-paradigma seni abstrak, dapat diyakinkan bahwa apa yang menggerakkan 9 Ruang Abstrak  tidak jauh berbeda dengan para dedengkot pendiri seni lukis abstrak dunia, yang sedianya selalu menanyakan dirinya kembali tentang nilai apa yang paling hakiki, ‘tersembunyi’ dan berpengaruh sebagai tanggapan terhadap realitasnya sebagai subjek yang kreatif, yang suka tidak suka harus rela terperangkap untuk selalu menanggapi posisinya yang interaktif dengan kehidupan.

Ketika ditemui penulis seusai acara pembukaan 9 ruang abstrak, salah satu peserta pameran lukis 9 ruang abstrak, Andi Suandi mengatakan, bahwa angka 9 sengaja dipilih sebagai simbol jumlah peserta pameran.

Andi juga mengatakan, dalam pameran ini dirinya menampilkan lukisan bertema “ tatabuhan” yang mengandung arti merefleksikan kembali nilai rasa syukur terhadap alam dan sang pencipta. Dijelaskan oleh Andi, dirinya mendapat tema itu di dalam lukisannya, usai melihat kegiatan ritual tarawangsa (menerawang kepada yang Esa) yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Sumedang Larang.

“ Dalam proses ritual tersebut, disuguhkan hasil bumi, seperti buah-buahan, sayuran, makanan yang ditata menarik dan penuh perhitungan nilai-nilai estetika.  Pembakaran kemenyan yang menampilkan

Andi Suandi

4 warna dalam ritual tersebut (merah, kuning, putih dan hitam) dan berbagai macam ritual lainnya yang menjadi sumber inspirasi saya dalam melukis,” ucap Andi.

Lebih lanjut dikatakan oleh Andi, melihat dan mengamati perkembangan seni sampai saat ini, ternyata ada benang merah yang tidak bisa diabaikan begitu saja dengan ajaran para leluhur kita. Dan ini terlihat jelas jika kita bisa menarik jarak dan berkonsentrasi sejenak untuk mengembalikan seluruh potensi dan keyakinan kita pada diri sendiri.

Dari sinilah hubungan antara seni dan leluhur mulai bisa ditarik, dan itu tergantung kepada potensi masing-masing diri.

“ Yang jelas alam, manusia dan pencipta menjadi satu kesatuan untuk saling bersinergi, dan karyalah ujung dari seniman,” tutup Andi.(HS.Foto:HS)

  

Related posts

Leave a Comment