9 Ruang Abstrak, Penandaan Sekumpulan Kegelisahan

Pada tanggal 10 hingga 30 Oktober 2017, 9 pendekar abstrak mengadakan pameran bersama di Gedung D Galery Nasional, Gambir, Jakarta Pusat.

Pameran yang dibuka pada 10 Oktober jam 19.30 ini mengangkat tema 9 ruang abstrak. 9 ruang abstrak adalah sebuah penandaan sekumpulan kegelisahan, dan impian serta langkah kongkrit untuk menjawabnya. Ini sebuah mata rantai terbaru dari perjalanan para pendekar abstrak yang notabene terkoneksi oleh pertalian batin dan kegelisahan bersama tentang kehadiran serta pengabdian mereka untuk merayakan hidup di alam semesta, dan kebersyukuran melalui keseniannya.

Bila merujuk lahirnya paradigma seni abstrak sebagaimana diulas di awal, dapat diyakinkan bahwa apa yang menggerakkan 9 Ruang Abstrak tidak jauh berbeda dengan para dedengkot pendiri seni lukis abstrak dunia, yang sedianya selalu menanyakan dirinya kembali tentang nilai apa yang paling hakiki, ‘tersembunyi’ dan berpengaruh sebagai tanggapan terhadap realitasnya sebagai subyek yang kreatif, yang suka tidak suka harus rela terperangkap untuk selalu menanggapi posisinya yang interaktif dengan kehidupan.

Keutuhan praksis dari 9 Ruang Abstrak (representasi 9 perupa) ini dalam perhelatan seni adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang, setidaknya dari intensitas para pelukis abstrak yang berafiliasi dengan sosok Sulebar M. Soekarman, yang saat ini layak disebut begawannya abstrak yang masih kuat dan komit terhadap rasa dan laku keseniannya.

Kendatipun silih berganti para partisipan di dalamnya, setidaknya dimulai saat kebersamaan dalam misi dan visi mereka kian mengkristal dan kemudian melahirkan manifesto abstrak di Jakarta, tahun 2005. Kemudian berlangsung berturut-turut dari diskursus ke diskursus yang ditempuhnya, pameran-pameran yang digelar yang hingga kini sudah terhimpun sampai 16 kali, dan rata-rata diberlangsungkan hampir per tahun, mereka senantiasa berupaya memperbaharui gagasan, mengelaborasi hipotesis, meninjau sikap kreatifnya, meluaskan jiwa untuk melihat pencerahan-pencerahan baru dan seterusnya sebagai proyeksinya adalah mampu menyodorkan tawaran-tawaran atau cara pandang lebih baru dalam mencermati apa, kenapa dan bagaimana seni lukis abstrak memiliki tautan nilai pada kehidupan.

Kali ini kontinum dari soul scape ataupun “abstract to day” dihelatkan karya-karya dari 9 orang pelukis abstrak yang sudah menempuh jurnal kekaryaan yang recognible di arena seni rupa Jakarta, Indonesia bahkan sudah menganyam nama di kawasan regional dan mondial. Angka 9 tampaknya bukanlah sekadar disematkan karena sebagai simbol jumlah peserta pameran, tetapi juga berkonsiderasi terhadap transendensi angka 9 sebagai puncak kesempurnaan dari deretan bilangan. Boleh jadi berafilial dengan asosiasi metafisis tentang Wali Sembilan.

Tentu hal ini rasanya bukan semata kelakar, namun justru memperkuat peletakan posisi pemikiran mereka terhadap fase-fase kontemplasi ilmu pengetahuan yang termediasi lewat seni. Yang sekali lagi bahwa seni rupa abstrak adalah kendaraan untuk mentransendentir kecamuk realitas.

Seni lukis abstrak adalah wahana untuk mengolah jiwa, menyemai hening hingga sampai kulminasi spiritual dan membagikannya sebagai alat pencerahan bersama. Relevan terhadap makna kata abstrahere, yakni senantiasa mengambil jarak atas keberlarutan ke dalam fenomena realitas, menuju keterjagaan dalam kesadaran yang selalu, kepengenalan diri yang intensif dan akhirnya menuju hening dan Manunggaling kawula Gusti (sublimasi terhadap eksistensi dialektis atas hamba dan tuannya).

Ruang Abstrak yang terdiri dari Andi Suandi, Ar.Sudarto, Baron Basuning, FX. Jefrrey Sumampouw, Gogor Purwoko, Irawan Karseno, Krishnaeta, Nunung WS dan Sulebar M. Soekarman.

Menyimak dengan takzim pada karya serta melalui pengenalan etnografis kepada masing-masing sosoknya, menjadi terbaca bahwa sembilan perupa ini sudah terwadahi oleh berbagai kerangka terminologis, ontologi dan kekuatan prosesi sejarah yang mereka jalani baik sebagai individu ataupun kolegial. Pun dalam rangka pendekatan idealisasi nilai seni abstrak yang mereka suguhkan, telah membuktikan upaya keras mereka memenuhi faktor-faktor ideal, profesionalisme dan transparansi terhadap kulminasi spiritual yang dialaminya. Al hasil tatkala karya-karya sudah menjelma dan dinikmati oleh sang liyan, pencerahan dirinya adalah pencerahan untuk sang liyan, dan tatkala nilai-nilai luhur dari prosesi estetika kreatifnya tersebut menjadi ekspresi keseharian yang nyata, maka ekspresi sang liyan pun akan menuju kepada penyertaan dan harmoni. 9 Ruang Abstrak telah menyambungkan garis sejarahnya, lebih general kepada aim seni lukis abstrak Indonesia bahkan boleh jadi lingkup dunia. Kehadiran mereka tentu signifikan dengan pemuliaan terhadap perkembangan sejarah seni rupa abstrak. Keberadaannya yang menebarkan nilai-nilai harmoni kemanusiaan, harmoni ruhaniahnya sebagai sang tinitah (pemegang amanah), harus didukung oleh infra struktur dan supra struktur. Kekuatan sejarah mereka akan makin menguat tentu apabila tradisi kritik atas manifesto kekaryaanya, ditumbuhkan kembali. Kritik yang dimaksudkan adalah sebagai alat elaborasi, media analisa konstruktifis, upaya untuk memberikan pemetaan epistimologis atas derap kehadiran mereka, mengidentifikasi gejala-gejala yang mereka geliatkan dan juga dalam rangka memberikan kerangka taksonomi atas keragaman mereka. Tampaknya melalui pameran 9 Ruang abstrak ini, genderang intelektualitas seni rupa memang harus ditabuh lebih kencang.(*.foto: Dok:9 perupa)

Related posts

Leave a Comment