Ahmad Syafii; Maarif Guru Besar Bangsa

Dedikasinya yang sangat tinggi terhadap pendidikan bangsa, membuat Ahmad Safii Maarif dijuluki sebagai guru besar bangsa oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif merupakan ulama dan guru yang sangat terkenal di Indonesia. Sebagai guru, Buya begitu ia biasa disapa tidak segan untuk membagi ilmu kepada publik, baik lewat ceramah, tulisan-tulisan di buku, opini, atau komentarnya di media cetak. Lebih dari itu, beliau juga tampil memberikan teladan untuk mengamalkan ilmu yang dibicarakannya dalam kehidupan sehari-hari. Guru dalam pengertian sosok yang patut digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh) sungguh lekat secara otentik pada figurnya.

Buya dikenal juga sebagai sosok guru yang membaktikan diri untuk bangsa Indonesia. Bangsa dalam arti luas, yaitu seluruh tumpah darah negeri ini, bukan untuk satu golongan, kelompok, suku, atau agama tertentu. Sosoknya mewakili seorang ulama intelektual sekaligus  bangsawan, dalam pengertian figur yang sungguh-sungguh memikirkan dan bekerja untuk bangsa.

Sebutan sebagai cendekiawan yang arif, baik dalam pergulatan keilmuan, keagamaan dan pergaulan kemasyaratan, kebangsaan dan kenegaraan, toleransi, perdamaian serta kemanusiaan juga melekat pada diri Buya.

Pesan, pemikiran dan pandangan serta kritik yang dilontarkan Buya sangat terasa bening dan tulus. Dia tidak pernah terlihat mengusung beban kepentingan sendiri atau kelompoknya. Suaranya mampu mendorong semua orang untuk meninggalkan kemungkaran menuju kebaikan.

Kehadirannya, bak sebuah obor yang mampu menerangi sekitar serta menembus kegelapan. Ya, Buya selalu memberi cahaya pencerahan berpikir mengatasi masalah, juga berani untuk memperjuangkan kebenaran demi kepentingan umum, meskipun beliau harus berhadapan dengan tekanan, ancaman dan cibiran.

Buya yang pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI  tahun 1999 hingga 2003 ini tidak pernah merasa sungkan untuk melontarkan kritikan dan pandangan atas sesuatu yang menurutnya harus diperbaiki baik itu kepada penguasa, ulama,  sahabat maupun kerabat dekat. kemampuan itu, sudah menjadi sifat dan karakter yang menyatu dalam dirinya.

Rendah hati sebagian dari iman

Dalam kehidupan sehari-hari, Buya dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati dan juga bersahaja. Bagi pria kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat 31 mei 1938  ini , sifat rendah hati merupakan bentuk dari refleksi iman.

Sifat rendah hati yang dimiliki Buya memang tidak lepas dari pendidikan agama dan budi pekerti yang diberikan oleh almarhum ibu dan ayahnya sejak beliau masih kecil. Masih terngiang dalam ingatan Buya, pesan almarhum orang tuanya bahwa sifat rendah hati ini bisa membuat dirinya dihargai oleh orang lain.

Kendati sudah meraih gelar profesor doktor, menjelajah berbagai belahan dunia, bergaul dengan berbagai lapisan elit dunia, mendapatkan berbagai macam penghargaan sepertiMagsaysay Award (2008) dan Habibie Award dalam bidang harmonisasi kehidupan beragama (2010),   Buya  tetap senang dianggap sebagai orang desa dan si anak kampung. Sekadar contoh, menginjak usia emas, Buya tidak merasa canggung berbelanja di pasar dan memasak sendiri jika istri sedang tidak di rumah. Bahkan, dia berani bertanding masak dengan siapa saja, dari segi rasa dan tanpa bumbu yang aneh-aneh. Pada usia mendekati 80 tahun, dia pun masih terbiasa menyetir mobil sendiri, untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh. Dia tidak pernah merasa menjadi kecil dengan kebiasaan itu dan juga tidak merasa besar jika kehidupan ala kampung itu ditinggalkan.

Bhineka tunggal ika

“Negara Indonesia yang majemuk merupakan anugerah Tuhan, untuk itulah Kita perlu merawatnya dengan memelihara dan saling menghargai di tengah kebhinekaan suku, agama, budaya, dan bahasa.”, itulah kalimat yang selalu dilontarkan Buya ketika dia berpidato disejumlah acara.

Lebih lanjut dikatakan oleh Buya gagasan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari Empu Tantular telah ditetapkan sebagai prinsip bangsa Indonesia dan tertera dalam lambang negara.  “Jika negara lemah atau kurang peduli, kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki hati nurani dan akal sehat harus terus tampil memperjuangkan cita-cita kerukunan dalam kebhinekaan itu”, ujarnya.

Semangat ini juga diajarkan dalam agama-agama. “Islam mengajarkan, manusia diciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, untuk saling mengenal. Pengenalan ini juga berarti bertukar kebudayaan,” katanya.

Untuk itulah Buya berpesan agar semangat ini terus digalakkan, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia semakin kokoh. (HS.Foto:istimewa)

Biografi:

Tempat/Tgl Lahir              :  Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935

Kebangsaan                       :  Indonesia

Istri                                      : Hj. Nurchalifah

Pendidikan                         : Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1956)

                    Universitas Cokroaminoto Surakarta (1964)

        IKIP Yogyakarta (1968)

        Ohio State University

                    Chicago University (1993)

 

 

 

Related posts

Leave a Comment