ANTARA SPIRIT PEMUDA DAN BANGSA

Tokoh ini ikut menorehkan sejarah bangsa. Sejak muda ia memiliki semangat yang tak diragukan lagi dalam membangun bangsa.

Lelaki ini bernama Abdul Gafur Tengku Idris. Kelahiran Patani, Halmahera, 20 Juni 1939. Ia tercatat menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Pembangunan III dan IV di era Presiden Soeharto.

Dr. Abdul Gafur, seperti tertuang dalam buku KEMALA MOTIK Berkarya Tanpa Jeda Sebuah Biografi yang ditulis oleh Ayu Arman (2014) menurut Kemala Motik adalah lelaki sabar, super sabar, sangat damai hatinya, sangat setia, sangat pengalah, sangat bijak, sangat likeable dan religius. Kemala menyebut lelaki itu sebagai belahan jiwanya.

Ditemui di kediamannya di Jalan Teuku Umar No.56, Menteng Jakarta Pusat baru-baru ini, Dr. H. Abdul Gafur Tengku Idris banyak bercerita mengenai karir hidupnya yang turut serta mewarnai perjalanan sejarah Indonesia.

Ia masih tampak segar dan ingatannya masih kuat. ia menyambut kami dengan ramah. Sebagai orang yang berpengalaman turut memajukan bangsa dan negara Indonesia ini, ia pun  mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi kekinian.

Abdul Gafur mengatakan, waktu di zaman Pak Harto masalah keamanan terjamin sekali. Sementara sekarang ini pengembangan demokrasi sudah kebablasan. “ Reformasi dalam hal demokrasi ini saya katakan kebablasan, tidak sesuai dengan kultur bangsa sehingga di mana-mana bisa Anda rasakan dampaknya sendiri,” ungkapnya.

Disinggung menyangkut sistem otonomi daerah, Abdul Gafur menengarai sampai hari ini memang ada kemajuan tapi  ada banyak kekurangannya. Ia melihat kekuasaan yang diberikan kepada kepala daerah yang begitu luasnya, tetapi pengaturannya kurang maksimal, malah tercipta raja-raja kecil. Korupsi merajalela.

“Untuk itulah otonomi ini mesti diatur kembali  di tingkat 2 atau ditingkat 1 . Saya  pribadi cenderung  otonomi itu mesti ditingkat 1, di tingkat Gubernur. Sebagai wakil pemerintah pusat dia kontrol daerahnya dengan baik, sehingga bupati-bupati itu betul-betul di bawah dia. Sekarang kan tidak, “ jelasnya.

Melihat situasi sekarang, Abdul Gafur juga tidak menghendaki kembali seperti jaman Orde Baru. Yang menjadi sorotannya adalah bagaimana menata kembali sistem kenegaraan ini. Misalnya menyangkut GBHN yang perlu dihidupkan kembali.

Abdul Gafur juga tidak setuju dengan pembubaran DPA. Menurutnya, DPA itu lembaga yang dibentuk dalam Revolusi Kemerdekaan. Anggotanya tidak terlalu banyak, namun di zaman Pak Harto terlalu banyak 45 orang. Waktu jaman Bung Karno Cuma 16 orang.

Keluarga dan Karir Politik Beliau bercerita bahwa kakeknya berasal dari Aceh, bernama Tengku Idris anak buah Teuku Umar yang dibuang oleh Belanda ke Maluku. kakeknya itu lalu menikah dengan putri Tidore. Mendapat putra 4 orang, termasuk ayahnya Abdul Gafur yang paling tertua namanya Tengku Abdul Hamid.  Kakeknya meninggal di Patani dan dikuburkan di sana.

Abdul Gafur merupakan 9 bersaudara. Dalam keluarganya hanya dua laki-laki yakni beliau dan kakaknya bernama Abdul Razak.

Di masa mudanya Abdul Gafur merupakan sosok pemuda yang cerdas dan aktif. Keaktifannya sudah dimulai sejak duduk di bangku SMAN 3.

Setelah lulus SMA, Gafur melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Dan setelah lulus sebagai dokter muda, Gafur mengambil pendidikan tingkat doktoral ikatan dinas Angkatan Udara.

Saat Abdul Gafur menjadi mahasiswa kedokteran, ia tercatat aktif di berbagai organisasi, antara lain bendahara Senat FK UI tahun 1963-1964 dan wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI tahun 1963-1965.

Di luar kampus Abdul Gafur dikenal sebagai mahasiswa yang cukup berpengaruh, seperti diungkapkan dalam buku KEMALA MOTIK. Abdul Gafur adalah anggota HMI (KAMI) UI/ pembantu umum KAMI Pusat tahun 1966. Bersama teman-temannya di KAMI, ia menantang Presiden Soekarno yang menolak pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).

Setelah lulus dari doktoral ikatan dinas Angkatan Udara, Gafur memilih jalur pengabdian kepada bangsa dan negara dengan menerima tawaran bertugas di Malang sebagai dokter dan kepala Seksi Kesehatan Umum Rumah Sakit Angkatan Udara (1967-1968).

Tiga tahun bertugas di pangkalan Angkatan Udara Abdurrahman Saleh di Malang, Gafur ditarik ke Surabaya untuk menjadi Kepala Poliklinik KB RSAU Surabaya (1969-1972).  Dalam pada itu juga ia tetap aktif berorganisasi dengan payung politik Golongan Karya (Golkar).

Tahun 1972, Gafur ditarik ke Jakarta dan diarahkan oleh pimpinan AURI untuk menjadi Anggota DPR RI Fraksi ABRI. Pada tahun 1972 secara resmi dr. Abdul Gafur yang telah berpangkat Kapten diangkat menjadi Anggota DPR RI dari unsur Angkatan Udara.

Selama menjadi anggota DPR itulah berbagai kegiatan kepemudaan dan politik tidak pernah ia tinggalkan. Pada tahun 1973, ia adalah ketua Panitia Pembentukan KNPI, dan setelah kongres pertama, ia dipercaya menjabat sebagai salah seorang wakil ketua dan ketuanya adalah Alm. David Napitupulu. Abdul Gafur juga mewakili pemuda Indonesia sebagai wakil presiden pemuda sedunia.

Karena sejarah aktivitas Gafur sebagai mahasiswa tahun 1966 (perjuangan Tritura), maka salah seorang Menteri saat itu, Jend. Ali Murtopo berbicara dengan Presiden Soeharto untuk mengusulkan Abdul Gafur menjadi salah seorang Menteri. Pertimbangan Jenderal itu pun diterima presiden. Maka pada tahun 1978, Abdul Gafur diangkat menjadi Menteri Urusan Pemuda.

Gafur menikah dengan gadis bernama Ema, mahasiswi Universitas Nasional, Jakarta. Menikah pada tahun 1967. Dari pernikahan ini dianugrahi tiga orang anak,yaitu Shevika Purnamasari, Abduh Reza Pahlawan dan Gamal Surya.

Ema meninggal dunia pada awal bulan Februari tahun 1984. Dan selanjutnya pada tahun 1985, Gafur menikah lagi dengan tokoh wanita Indonesia, Kemala Motik.

Abdul Gafur sempat dua kali mencalonkan diri menjadi Gubernur Maluku Utara.  HS

 

Related posts

Leave a Comment