Avenger Vs Thanos

Jakarta,Gpriority-Avenger vs Thanos bukanlah judul terbaru dalam film Avenger,melainkan judul seminar yang diadakan oleh Asean Study Center Fisip UI di Shangrila Hotel, Kamis (27/9).

Seminar ini diadakan untuk menjawab pertanyaan apakah Indonesia sudah dalam trajektori yang tepat dalam mempersiapkan bonus demografi, pencapaian Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan selama ini dan tantangan serta peluang Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi global baik jangka panjang maupun pendek.

Seminar sendiri dihadiri oleh Prof.Dr.Bambang Brodjonegoro selaku Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Emil Salim, Kepala Lembaga Demografi FEB UI Turro Selrits Wongkaren Ph.D, Rektor Unika Atma Jaya Dr. A. Prasetyantoko, Chief Economist Bank Mandiri Anton H Gunawan dan Dr. Ir. Leonard V.H Tampubolon M.A selaku Deputi PPN/Bappenas Bidang Ekonomi.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P.S Brodjonegoro mengatakan apakah pesisme yang diwakili Thanos relevan untuk menjawab ketidakpastian global dan memenuhi kebutuhan akan pembangunan yang berkelanjutan. Jawabannya adalah tergantung pada modal dasar, kondisi awal atau trajectory pembangunan yang telah dicapai.

Dan yang kedua apakah perang antara Thanos vs Avenger (perang dagang antara Amerika vs China) yang tidak hanya berdampak pada keseluruhan perekonomian negara-negara dunia menjadi peluang atau ancaman? Jawabannya adalah tantangan dan peluang serta strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Kesimpulannya,ada ancaman dunia akan dikuasai satu pihak yang ingin dunia ini sesuai dengan keinginannya. Untuk itulah multiralism inilah yang menjadi patokan untuk kedepannya.
Pertanyaannya bagaimana Indonesia memenangkan invinity war. Yang pertama Indonesia harus dapat memanfaatkan demografi secara lebih efektif untuk menarik keuntungan di era globalisasi. Kedua, menciptakan lapangan kerja baru dengan mempromosikan kewirausahaan berbasis teknologi.Ketiga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keterampilan, keempat meningkatkan pendidikan dan keterampilan pekerja untuk menyesuaikan dengan perubahan teknologi. Kelima mengurangi ekspor ke Amerika. Terakhir memanfaatkan investasi dari penduduk usia produktif secara optimal melalui efisiensi dan pengembangan instrumen untuk pengembangan pembangunan. (Hs.Foto:Hs)

Related posts

Leave a Comment