Awas Narkoba Mengancam Generasi Muda

“ Berikanlah aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru beserta akarnya. Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”.

Kutipan pidato dari Presiden RI Pertama, Ir.Soekarno  jelas menandakan bahwa pemuda memiliki peranan yang cukup besar dalam  pembangunan pada masa kini dan masa yang akan datang. Kompetensi dan daya saing pemuda merupakan bagian integral dari pembangunan karakter menghadapi tantangan global.

Yang membuat Soekarno yakin kehadiran anak muda bisa membangun bangsa ini adalah pendapat filsuf ternama asal Yunani Aristoteles.  Aristoteles mengatakan,  orang muda mempunyai sifat  yaitu memiliki hasrat-hasrat yang sangat kuat dan  cenderung untuk memenuhi hasrat-hasrat itu tanpa membeda-bedakannya. Kontrol diri manusia dilakukan oleh rasio (akal) dan rasio inilah yang menentukan arah perkembangan manusia. Potensi pemuda ini harus dibangun menjadi sumber daya yang ahli, terampil, dan profesional. Hal ini sangat penting dalam peranannya sebagai generasi penerus bangsa.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, jumlah  pemuda mencapai 130,19 juta orang.  Jumlah ini   sangat mendukung sekali untuk meningkatkan sektor pembangunan dan  perkembangan ekonomi Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Namun fakta berbicara lain, Pemuda Indonesia  rupanya masih belum bisa diharapkan untuk meningkatkan sektor pembangunan dan perkembangan ekonomi. Ada berbagai macam penyebab, salah satunya adalah penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). 

Penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda belakangan ini memang semakin meningkat. Hal ini dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih.

Berdasarkan Laporan Badan Nasional Narkotika (BNN) Tahun 2014, jumlah pemakai narkoba di kalangan pemuda Indonesia sebanyak 3,8 juta – 4,1 juta orang atau sekitar 2,10% – 2,25% dari total seluruh penduduk Indonesia usia produktif. Tahun 2017 jumlah penyalah guna narkoba  meningkat 2,8% atau setara dengan 5,1 – 5,6 juta jiwa dari populasi penduduk Indonesia berusia produktif.

Menurut Bobi (salah seorang pemakai yang kini sudah insaf). Ada tujuh faktor utama yang membuat pemuda mengkonsumsi narkoba. Yang pertama,pergaulan.  Ketika kita sedang berkumpul dengan teman, sudah pasti ada teman yang menawari kita untuk memakai narkoba.Jika tidak mau maka akan dibuly dan dimusuhi. Karena tidak mau dibuly dan dimusuhi, akhirnya terpaksa ikut-ikutan. Dan keterpaksaan itulah yang membuat kita menjadi ketagihan, sebab setelah mengkonsumsi narkoba, biasanya kita terus menjadi ketagihan.

Kedua, Kurangnya Pengendalian Diri. Orang yang coba-coba menyalahgunakan narkoba biasanya memiliki sedikit pengetahuan tentang narkoba, bahaya yang ditimbulkan, serta aturan hukum yang melarang penyalahgunaan narkoba.

Ketiga, Konflik Individu/Emosi.  Bagi mereka yang belum bisa menangani konflik akan mengalami frustasi. Akibatnya menggunakan narkoba menjadi pilihannya, karena mereka berpikir bahwa kecemasan yang ditimbulkan oleh konflik dapat dikurangi dengan mengkonsumsi narkoba.

Keempat,Terbiasa Hidup Senang / Mewah. Orang yang terbiasa hidup mewah kerap berupaya menghindari permasalahan yang lebih rumit. Biasanya mereka lebih menyukai penyelesaian masalah secara instan, praktis, atau membutuhkan waktu yang singkat sehingga akan memilih cara-cara yang simple yang dapat memberikan kesenangan melalui penyalahgunaan narkoba yang dapat memberikan rasa euphoria secara berlebihan.

Kelima, Kurangnya kontrol keluarga. Orang tua terlalu sibuk sehingga jarang mempunyai waktu mengontrol anggota keluarga. Anak yang kurang perhatian dari orang tuanya cenderung mencari perhatian diluar, biasanya mereka juga mencari kesibukan bersama teman-temanya.

Keenam,Kurangnya penerapan disiplin dan tanggung jawab .Tidak semua penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh remaja dimulai dari keluarga yang broken home, semua anak mempunyai potensi yang sama untuk terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Penerapan disiplin dan tanggung jawab kepada anak akan mengurangi resiko anak terjebak ke dalam penyalahgunaan narkoba. Anak yang mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya, orang tua dan masyarakat akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum mencoba-coba menggunakan narkoba.

Ketujuh, Masyarakat Yang Individualis.Lingkungan yang individualistik dalam kehidupan kota besar cenderung kurang peduli dengan orang lain, sehingga setiap orang hanya memikirkan permasalahan dirinya tanpa peduli dengan orang sekitarnya. Akibatnya banyak individu dalam masyarakat kurang peduli dengan penyalahgunaan narkoba yang semakin meluas dikalangan remaja dan anak-anak.

Pemerintah sendiri tidak tinggal diam dengan maraknya narkoba di kalangan pemuda. Presiden Jokowi pun mengatakan bahwa Indonesia sudah darurat narkoba dan memerintahkan BNN untuk melakukan pemberantasan.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso dalam acara Forum Tematik Bakohumas yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), di Hotel Best Western Premier The Hive, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (11/7/2017) pagi mengatakan, sebagai aparat negara yang bertugas khusus di bidang narkotika, banyak upaya yang telah dilakukan BNN dalam upaya mencegah dan memberantas narkoba. Namun ia mengingatkan, yang penting dalam pemberantasan masalah narkoba ini ada 2 hal, yaitu masalah demand dan supply.

“Demand adalah pangsa pasarnya dan ini berhubungan dengan supply (pemakai). Oleh karena bagaimanapun pangsa pasar ini masih ada, maka supply masih besar,” jelasnya.

Buwas juga menyebut narkotika diproduksi oleh sekitar 11 negara. Beberapa negara di antaranya yakni Taiwan, Hong Kong, Filipina, Singapura, dan yang terbesar yaitu Afrika dan China. Seluruh negara itu menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar terbesarnya.

 “Negara kita Indonesia tidak boleh dijadikan lalu lintas atau peredaran apalagi produksi barang haram tersebut. Saatnya kita perang melawan narkoba. Kata-kata tidak diperlukan lagi, kita membutuhkan tindakan konkret dan nyata, semua harus bersinergi, harus melakukan langkah yang terpadu melawan narkoba yang mengalahkan kelicikan para bandar narkoba dan tidak kalah penting semua harus mengalahkan ego sektoral,” tandasnya.

Letak Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang besar menjadikannya sebagai salah satu wilayah target penjualan narkoba internasional. Oleh karena itulah, selama ini aparat penegak hukum berusaha mengejar dan menangkap para penyelundup dan pengedar narkoba tersebut.

Lebih lanjut, upaya-upaya untuk menekan pergerakan peredaran narkoba juga dilakukan dengan cara melakukan razia di tempat-tempat hiburan malam, seperti yang dilakukan BNN di beberapa tempat karaoke di beberapa daerah termasuk Jakarta.

Selain itu, penggeledahan di lembaga permasyarakatan (Lapas) juga sering dilakukan BNN untuk menekan peredaran narkoba di lapas.

BNN juga sering melakukan sosialisasi baik dilingkungan artis, instansi pemerintah, sekolahan, kampus, maupun lingkungan masyarakat.

Upaya-upaya tersebut menunjukkan bagaimana keseriusan pemerintah dalam memberantas narkoba dan menyelamatkan generasi muda.

Dengan melakukan upaya tersebut diharapkan peredaran narkoba di Indonesia dapat benar-benar hilang. Akan tetapi, dibutuhkan juga dukungan dari masyarakat di dalam perang melawan narkoba tersebut. Karena masyarakat dapat memberikan informasi kepada aparat jika di wilayahnya terdapat peredaran narkoba.

Kinerja yang dilakukan oleh BNN mendapat respon positif dari penyanyi Ashanty. Istri dari musisi Anang Hermansyah yang ditemui penulis seusai acara pembukaan rapat kerja nasional (rakornas) pariwisata (26/9) mengatakan sangat mengapresiasi sekali keseriusan BNN dalam memberantas narkoba.

“ Saya berharap agar BNN mau melibatkan para artis yang pernah terkena narkoba dan sudah insaf ketika melakukan sosialisasi. Pasalnya keterangan dari mereka bisa membuat pemuda takut untuk menggunakannya,” ucap Ashanty.

Ashanty juga mengaku sempat merasa takut untuk mengkonsumsi obat pelangsing, karena takut dioplos dengan narkoba. “ Untunglah BNN memberikan penyuluhan kepada artis-artis sehingga kami semua tahu obat jenis apa saja yang masuk ke dalam golongan narkoba,” ucapnya.

Ashanty juga memberikan tips agar para pemuda terhindar dari narkoba. Yang pertama agar keluarga mau memberikan perhatian  dan kasih sayang kepada anaknya. Karena dengan memberikan perhatian dan juga kasih sayang kepada anak, saya yakin mereka tidak akan terjerumus ke dalam narkoba.

Kedua, pendekatan terhadap agama. Agama bisa menjadi tameng seseorang terhindar dari jerat narkoba. Karena agama mampu membentuk karakter seseorang untuk menjadi orang yang baik dan berakhlak mulia. (HS.Foto:HS/istimewa)

Related posts

Leave a Comment