Berwisata ke Pasar Tradisional

Pasar tradisional Sindhu dan pasar Kumbasari di Denpasar, Bali menjadi langganan wisatawan mancanegara, lantaran kekhasannya.

Pasar tradisional yang biasanya dipersepsikan kumuh,kotor, becek dan bau apek itu tidak terjadi di Bali. Salah satunya pasar tradisional Sindhu yang terdapat di Sanur, Denpasar.

Fakta menarik  pasar Sindhu ini sangat tertata, rapi dan dijaga kebersihannya. Bahkan menjadi langganan wisatawan asing. Pasar tradisional ini sebelumnya direvitalisasi agar bisa bersaing dengan pasar modern.  Selain itu beberapa hotel memasukan pasar tradisional ini dalam paket kunjungan wisata.

Pasar Sindhu ini lantaran keunikan dan penataannya kemudian memperoleh penghargaan peringkat pertama dalam daftar trending atraksi di Asia Tenggara.

Nama asli Pasar Sindhu adalah Pasar Ramah dan Segar. Teretak di Jalan Danau Tamblingan, pasar ini sangat ramai menjelang petang. Saat malam, Pasar Sindhu sering disebut juga Pasar Senggol karena menjadi spot wisata kuliner.

Selain pasar Sindhu, ada juga pasar Kumbasari. Pasar Kumbasari ini termasuk yang terbesar di Denpasar. Pasar tradisional ini buka selama 24 jam dalam setiap harinya, di mana pada pagi harinya pasar ini digunakan untuk menyediakan berbagai kebutuhan pokok dan di siang dan malam harinya berganti menjadi tempat berjualan aneka cinderamata kerajinan tangan yang dibuat masyarakat Bali seperti Kerajinan Perak, Batik Bali, Lukisan, Aksesoris dan pernak khas Bali, serta Tenun Ikat Bali.

Pasar Kumbasari sendiri berdiri di atas lahan sekitar 6.230 meter persegi dengan mengandalkan arsitektur khas Bali. Pasar ini terdiri dari dua lantai, yang mana untuk menjual berbagai bahan kebutuhan pokok berada di lantai dasar, sedangkan di lantai atasnya terdapat art-shop untuk menjual berbagai macam cinderamata dan kerajina tangan khas Bali. Harga jual di Pasar Kumbasari ini jauh lebih murah dibandingkan bila membeli ditempat lain, kuncinya, harus berani menawar.

Pasar Tradisional Kumbasari Badung dibuat pada tahun 1977 namun sempat terbakar pada tahun 2000 yang kemudian dibangun kembali pada tahun 2001. Menurut sejarah konon tukad Badung menjadi lintasan bagi pasukan ekspedisi Belanda yang bergerak menuju Pemecutan dari Denpasar pada peristiwa Puputan Badung tanggal 20 September 1906.

Tidak hanya masyarakat lokal Bali yang datang ke sini untuk berbelanja, namun terkadang juga banyak turis mancanegara datang mencari dan membeli pernak-pernik murah khas Bali. Kalau dibandingkan harga barang di kuta atau Legian, harga  barang-barang seni di Pasar Kumbasari ini yang jauh lebih murah.

Kepopuleran Bali memang sudah dikenal hampir si seantero dunia. Tak ada hentinya turis lokal maupun asing menjelajahinya. Jika sudah bosan berjemur di pantai dan menyusuri kedai-kedai di Kuta, bagaimana jika anda mencoba menjelajahi pasar tradisional di Denpasar, banyak sekali pasar tradisional yang menawarkan keunikan-keunikan yang jarang terlihat di tempat lain.

Setidaknya ada tiga pasar yang rugi jika dilewatkan. Masing-masing bisa dikunjungi untuk membeli oleh-oleh, maupun sekadar menjepretkan kamera. Berikut pasar-pasar tradisional di Denpasar yang bisa dikunjungi.

Selain dua pasar tersebut, ada juga Pasar Burung Denpasar. Ini surganya pecinta unggas. Kicauan burung seakan tak pernah berhenti di tempat ini. Atraksi-atraksi unik hewan pun dipamerkan. Pantas diabadikan lewat kamera.

Tidak hanya burung, hewan lain seperti kelinci, marmut, bahkan monyet pun dijual. Selain itu, warga juga menciptakan sarang burung unik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Jika ingin ke sana, letaknya di Jalan Veteran. Tepatnya, sebelah Timur Rumah Sakit Umum Denpasar.

Kota Denpasar memang telah dijejali dengan berbagai pasar retail modern yang menjamur, tetapi pasar rakyat atau pasar tradisional tetaplah memberikan pesona yang luar biasa. Budaya lokal yang tetap terjaga, menyebabkan pasar rakyat di Kota Denpasar masih menunjukan eksistensinya.

Mungkin itu mengapa Bali ibukotanya Denpasar. Ya karena Bali terkenal dengan pasar tradisionalnya yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri serta budaya kerakyatan yang tetap dilestarikan. Itulah pasar tradisional di Bali seperti mengandung spirit perang Puputan. (PBL)

 

Related posts

Leave a Comment