Bhineka Tunggal Ika Sebagai Aset Yang Wajib dijaga

Ketika melihat televisi atau membaca berita di koran, banyak ditemui berita-berita yang memuat tentang perpecahan yang terjadi antar agama dan juga suku bangsa. Mereka sepertinya tidak lagi peduli lagi dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Beberapa bulan yang lalu netizen Indonesia dihebohkan dengan penghinaan kitab suci alqur an yang dilakukan oleh seorang wanita yang berasal dari Karimun. Dalam foto tersebut, wanita yang disamarkan namanya ini tengah menginjak alqur’an. Kontan saja ini mengundang reaksi netizen yang meminta agar wanita tersebut dipenjarakan.

Masih dalam akun facebok, seorang pria yang mengaku aktivis agama islam menggugah kata-kata yang menyerukan perang dengan agama lain. Dalam facebook juga terjadi perang kata-kata antar suku.

Maraknya kasus SARA yang belakangan ini terjadi mengundang keprihatinan sebagian besar masyarakat salah satunya adalah kelompok antropolog. Untuk itulah pada tanggal 6 januari 2017 mereka menyambangi Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, untuk menemui Presiden Joko Widodo.

Usai pertemuan, para antropolog menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang berstatus ‘Darurat Kebhinekaan’. Dijelaskan oleh seorang antropolog yang bernama Yando Zakaria, ada tiga persoalan utama yang perlu diselesaikan dalam rangka darurat kebhinekaan. Yang pertama dunia pendidikan. Menurut Yando persoalan intoleransi ini berdasarkan pengamatan mereka dimulai dari tingkat pendidikan paling dasar mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi.

“Kami minta Presiden agar pelaksanaan dunia pendidikan ini jangan sampai menjadi arena untuk memperkuat sektarian dan seterusnya,” ucap Yando Zakaria.

Kedua, munculnya intoleransi yang disebabkan dari tidak adanya keadilan ekonomi. Dan yang terakhir karena proses hukum. Dijelaskan oleh Yando, dibanyak negara , bagi yang melanggar hukum terkait penistaan agama langsung dihukum,sedangkan di Indonesia hanya dilakukan proses saja. Untuk itulah mereka meminta agar orang yang menistakan agama langsung dihukum sehingga memberi efek jera kepada pelakunya.

Sebagai orang nomor satu di Indonesia, Jokowi tidak tinggal diam. Dalam sambutannya di acara  Silaturahmi Nasional Ulama Rakyat di Econvention Ancol Jakarta, Sabtu (12/11) Jokowi menegaskan sistem ketatanegaraan Indonesia menghargai dan menjamin kemajemukan dan kebhinekaan sehingga sesuatu yang berbeda-beda tersebut harus dijaga.

“Sistem kenegaraan, ketatanegaraan kita menghargai dan menjamin kemajemukan dan kebinekaan itu dan tugas kita menjaga,” kata Presiden Jokowi.

Mantan Gubernur DKI itu mengatakan Indonesia dianugerahi keberagaman dan kemajemukan termasuk dalam hal suku yang jumlahnya lebih dari 700, bahasa daerah 340, seni, dan budaya yang seluruhnya berbeda-beda. Bahkan tarian daerah yang bila dikumpulkan bisa mencapai lebih dari 4.000 ragam.

“Macam-macam, beda-beda inilah yang harus kita sadari,” katanya.

Presiden mengatakan Indonesia dari mulai ujung barat sebelah utara di Pulau Natuna, paling utara di Pulau Miangas, hingga ke Wamena, Yahukimo, dan Puncak di Papua seluruhnya memiliki adat, budaya, dan bahasa yang berbeda.

“Ini sebuah karunia, anugerah yang patut disyukuri, tugas kita menjaga dan merawat,” katanya.

Jokowi dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, Kamis (26/1/2017) juga mengatakan tentang kebhinekaan. Menurut beliau, materi pembelajaran kegiatan-kegiatan sosial telah mulai ditinggalkan. Alhasil pada saat ini masyarakat lupa untuk memupuk rasa sosial antar sesama kepada generasi penerus bangsa. Untuk itulah dirinya berharap agar sekolah bisa mengajak siswanya untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial guna memupuk rasa kebersamaan.

Jokowi juga meminta kepada para guru untuk melantunkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan membacakan Pancasila sebelum dilakukannya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Jokowi juga meminta kepada guru untuk mengingatkan kepada pelajarnya tentang pentingnya kebhinekaan.

“ Dengan demikian masalah kebhinekaan yang tengah melanda bangsa kita bisa teratasi demi kesatuan dan persatuan NKRI,” tutupnya. (HS)

Related posts

Leave a Comment