Emha Ainun Najib, Sosok Yang Karismatik

“Aku menyebut diriku muslim saja aku tidak berani
Karena itu merupakan hak prerogatifnya Allah
Untuk menilai aku ini muslim atau bukan”

“Kebanyakan manusia berjuang mengada-adakan dirinya
Menonjol-nonjolkan dirinya, bahkan untuk itu mereka meniadakan mahluk selainnya
Sampai tega meniadakan Tuhannya, itulah kematian”

Itulah dua  kata mutiara yang disampaikan ketika ia memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu yang lalu. Dalam menyampaikan kata mutiaranya, Cak Nun begitu beliau biasa disapa menggunakan bahasa yang lugas, mudah dipahami, serta tidak suka berbelit-belit. Tidak heran jika hingga saat ini banyak sekali jemaah yang menggemari Kata Mutiara Cak Nun dalam berdakwah.  Banyaknya orang yang menggemari kata mutiara, membuat acara dakwah yang dilakukannya selalu dibanjiri jamaah. Hal ini tentu saja membuat dirinya mendapat julukan sebagai pria berkarismatik oleh media.    

Cak Nun yang dihubungi via telepon hanya tertawa dengan perkataan di atas dan mengaku bersyukur jika banyak orang datang untuk mengikuti tausyiahnya.

Kepada GPriority, Cak Nun bercerita bahwa beliau adalah anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya bernama MA Lathif (almarhum) yang bekerja sebagai seorang petani. Meskipun dari keluarga petani, Cak Nun bersyukur karena bisa bersekolah. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.

Cak Nun juga mengaku bahwa dirinya pernah menjadi gelandangandi Malioboro, Yogyakarta selama lima tahun (1970-1975) hanya untuk belajar sastra kepada guru yang  amat dikaguminya, Umbu Landu Paranggi. Umbu sendiri merupakan seorang sufi yang hidupnya misterius, meskipun demikian beliau sangat mempengaruhi perjalanan karir Cak Nun.

Cak Nun mengatakan dirinya pernah bekerja sebagai pengasuh ruang sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi wartawan/redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976). Karirnya semakin melejit di kala puisi-puisinya termuat di beberapa media cetak. Kini Cak Nun bekerja sebagai pimpinan  Teater Dinasti (Yogyakarta) dan bergabung bersama grup musik Kyai Kanjeng.

Lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985) adalah nama-nama acara yang pernah diikuti oleh Cak Nun. Beliau sendiri mengaku bangga bisa mengikuti acara tersebut dikarenakan mampu menambah wawasan dirinya.

Dalam kesehariannya, Cak Nun dikenal sebagai ulama yang mau terjun langsung ke masyarakat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas masyarakat.

Cak Nun juga rutin melakukan aktivitas bulanan dengan komunitas masyarakat Padang Bulan. Bersama grup musik Kyai  Kanjeng,  ia sering berkeliling ke berbagai wilayah nusantara.

Cak Nun juga dikenal sebagai penggagas acara Kenduri Cinta yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki sejak tahun 1990. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

   Kesalahpahaman harus diluruskan

Isu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul di dalam forum komunitas Masyarakat Padang Bulan. Berkali-kali pria yang menolak dipanggil kyai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah.

“Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah pasti dia telah melakukan dakwah,” katanya.

Dakwah harus digarap secara kultural

Ketika berdakwah, ada kemiripan antara Cak Nun dengan Sunan Kalijaga. Keduanya sama-sama mengemas dakwah  secara kultural yakni menggunakan musik sebagai media dakwah. Ada cerita menarik ketika Cak Nun bersama Kyai Kanjeng bertemu dengan Yusuf Islam (Cat Stevens) seorang penyanyi pop lawas di London. Yusuf Islam yang Mualaf ini heran, dipikirnya seorang muslim itu diharamkan main musik. “ Rupanya mas Yusuf ini mengartikan ayat (hadits) secara harfiah atau tekstual. Tahu khan bunyi hadits-nya? sip, pinterrr” ujarnya.

Cak Nun  pun menjelaskan kepada Yusuf bahwa musik itu netral, tidak ada agamanya, dan bisa dipakai sebagai kendaraan ke surga atau ke neraka. “ Bermusik boleh saja, asalkan tujuannya untuk mengagungkan Allah. Masjid pun kalau untuk memusuhi Allah, justru jadi sarana masuk neraka, ” jelas Cak Nun yang menggunakan musik Kyai Kanjeng sebagai kendaraan untuk berdakwah. Mendapat penjelasan dari Cak Nun, Yusuf pun melanjutkan kegiatan musiknya sampai sekarang.  

Dikalangan masyarakat, Cak Nun dikenal sebagai penceramah yang tidak pernah berpakaian layaknya seorang kyai, ia lebih senang menggunakan pakaian biasa. Menurutnya, jika dirinya datang dengan berpakaian gamis dan sorban takutnya  orang akan berkesimpulan bahwa dirinya lebih pandai daripada yang lain.

“Lebih parahnya lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa saya lebih alim dan ternyata tidak benar, itu kan namanya penipuan. Kalaupun memang benar, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain (melalui pakaian)? Tidak boleh kan? Maka semampu-mampu saya, berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi ‘penipuan’ saya kepada Anda”, ujarnya.

Ketika bersama para jamaah, Cak Nun selalu memposisikan dirinya sama, sama-sama belajar. Cak Nun juga mengakui bahwa dirinya lebih senang dengan jamaah yang sedang berproses dibandingkan yang sudah ahli ibadah. “Pasalnya, orang yang sudah ahli ibadah selalu merasa pintar dan tinggi hati”, tutupnya. (Hs.Foto:Istimewa)

 

Related posts

Leave a Comment