Emte: Passion dan Kejujuran dalam Berkarya

Sempat berkolaborasi dengan penulis sastra Aan Mansyur dalam buku Melihat Api Bekerja, Muhammad Taufiq atau yang akrab disapa Emte ini sudah menekuni passionnya sebagai ilustrator sejak usia dini. Karya-karyanya pun  sudah sering dipublikasikan di sejumlah media, buku, dan pameran.

Hobinya dalam menggambar sudah tertanam sejak kecil. Diakui oleh pria yang lahir di Jakarta 39 tahun lalu itu, saat kecil dirinya kerap terinspirasi dari komik-komik yang ia baca.“Dari komik. Ya waktu jaman kecil kan ngga ada internet. Jadi cuma bener-bener baca, nonton, main,” ungkapnya. Emte sangat rajin sekali mengarsipkan karyanya. Bahkan, sejumlah karya yang ia buat sejak kecil, masi ia simpan dengan sangat rapi.

Beranjak ke jenjang sekolah menengah, Emte mulai mengembangkan hobinya tersebut. Di bangku SMP, ia mulai memberanikan diri untuk menyebarluaskan karyanya dengan memfotokopi dan menjual karyanya ke teman-teman. “Sejak saat itu, ngerasa kalo wah dari gambar bisa menghasilkan nih,” ujar Emte. Tak berhenti sampai di situ, Emte pun kerap mengirimkan karyanya dalam bentuk komik strip ke sejumlah media. Sejak saat itu, ia mulai merasa bahwa menggambar akan menjadi profesinya “Sejak SMP. Sejak melihat karya sendiri masuk ke tabloid terus masuk koran, terus dapet honor. Nah dari situ tu merasa,” paparnya.

Pria yang menempuh pendidikan Visual Communication Design di Institut Kesenian Jakarta ini, kemudian aktif sebagai kontributor ilustrator di sejumlah majalah saat masa kuliah. “Yauda karena dari situ statusnya freelance, networking aja terus,” ujarnya. Kemudian karirnya pun berkembang menjadi ilustrator untuk kover buku sampai sekarang. Ia pun mengaku bahwa hal tersebut membuatnya menjadi semakin mandiri. “Lumayan, jadi mandiri aja,” imbuhnya.

Selain menjadi freelance ilustrator, tak jarang, karyanya terdaftar dalam sederet pameran. Di tahun 2001, ia bersama teman-temannya pertama kali mengikuti pameran yang diadakan di kampusnya. Di tahun 2002 sampai 2008, Emte justru tengah aktif mengambil job sebagi ilustrator. Sampai di tahun 2009, ia baru mengikuti pameran kembali. “Udah tuh mulai ikut-ikut lagi. Disamping kerja, juga ikut projek lain,”ungkapnya.

Berangkat dari Kesenangan

“Kalau saya sih ngerasanya gini, kenapa ngerasa bahwa wah ini passion nih. Ketika saya lakuin, ngga mikir apa-apa. Seneng aja gitu. Ngga merasa ini harus bisa menghasilkan. Ngga ada beban itu,” jelas Emte. Kecintaannya dalam menggambar dan menghasilkan karya seni hingga menjadi sesuatu yang profesional, diakui Emte memang berangkat dari kesenangan semata. “Balik lagi ke awal, saya nyemplung ke dunia ini tuh karena seneng,” lugasnya.

Dari hal itulah, ia merasa bahwa ia akan terus mengerjakan apa yang ia cintai, sekalipun dalam hal tersebut ia menemukan banyak rintangan. Memasuki industri kreatif yang menuntut profesionalisme dan kedisiplinan dalam berkarya, Emte pun merasa tak masalah akan hal itu. “Dulu sih berfikir kalau ya sesuai mood. Tapi kalau sekarang ngga sih. Karena terbiasa kerja, jadi kerjaan kan ada deadline terus harus disiplin. Jadi kadang attitude itu terbawa pas lagi buat karya. Jadi ngerasa lebih profesional aja,” tuturnya.

Ia pun menganggap bahwa hal tersebut justru menantangnya untuk tetap menjaga kualitas karyanya. “Ya sebenernya sih males bisa aja. Tapi saya memilih untuk ngga ah, kerjain aja. Kenapa ngga?Jadi tetep bisa menjaga kualitas walaupun kondisinya sebenernya lagi capek, mungking juga lagi sebel karena revisi banyak,” ungkap ilustrator yang juga berprofesi sebagai dosen di SAE Institute Jakarta ini.

Dalam membuat karya, menurut Emte, tak perlu pusing untuk menentukan gaya tersendiri agar terkesan mempunyai ciri khas. Ia merasa hal itu justru hanya dapat dinilai oleh mata kedua atau pendapat orang lain. “Ya lo ngga bisa nemuin. Orang lain yang bisa melihat. Kita sih cumado your best aja. Pokoknya kita gambar yang se-enjoy kita, senyamannya kita. Ya biar itu mengalir aja,” jelasnya.

Seperti kolaborasinya dengan sastrawan Aan Mansyur dalam buku Melihat Api Bekerja pada tahun 2015, Emte dan Aan sama-sama mengekspresikan apa yang mereka rasa melalui karyanya masig-masing.“Kolaborasi itu seperti ada dua orang sedang ngobrol. Jadi bukan Emte mengilustrasikan puisi Aan, kalo kayak gitu ya jadi pelengkap dong,” lugasnya. Menurutnya dan Aan, lazimnya sebuah kolaborasi ialah yang saling memerdekakan.

Tak hanya soal karya dan sudut pandang, Emte pun membebaskan dirinya dalam memilih medium untuk menghasilkan karya. Ia tak membatasi diri untuk menggunakan satu medium saja. Tak hanya cat air, ia pun kerap menggunakan akrilik, hingga keramik. “Sebenernya medium ya bebas sih. Yang penting udah terbiasa sama tahu karakternya. Ya kalo berkarya kita mesti jujur sih. Kita emang terbiasa dengan mediumnya atau kita seneng sama mediumnya,” jelas Emte. Menurutnya, hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap karakter karya yang akan dibuat. “Terkadang medium juga ngaruh sama karakter karya yang mau kita buat,” pungkasnya. (RA)

Related posts

Leave a Comment