Fakfak, Kota Perjuangan & Penjaga Adat Satu tungku tiga batu, filosofi yang mendasari kehidupan masyarakat Fakfak.

Fakfak sebuah kabupaten yang terletak di timur Indonesia, yaitu di Papua Barat sangat terkenal dengan buah pala. Konon awal mulanya tanaman pohon pala ini dibawa oleh orang-orang ke Fakfak oleh orang-orang pada masa kesultanan Tidore sekitar Tahun 1200 an.  Fakfak kemudian menjelma kota strategis sebagai sentra perdagangan rempah-rempah dunia kala itu terutama pada era kolonial Belanda. Banyaknya potret-potret kota Fakfak tempo doeloe yang diabadikan, semakin menguatkan Fakfak ini menjadi salah satu kota tertua yang ada di jazirah Papua.

Hal yang menarik dari kota Fakfak ini selain terkenal dengan buah palanya yang khas, Fakfak juga merupakan kota perjuangan. Jejak-jejak peninggalan perang pasifik atau perang dunia II yang melibatkan pertempuran hebat antara sekutu (Amerika dan Jepang) dapat ditemukan di Fakfak, seperti   yang terdapat di distrik Kokas ada bekas meriam, goa yang dibuat sebagai basis pertahanan Jepang, benteng serta bukit tempat pengintaian. Selanjutnya juga keberadaan Taman Makam Pahlawan  Trikora semakin menguatkan bagaimana pejuang Indonesia kala itu turut baku tempur merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Di pulau Semat terdapat Tugu Semat Fakfak sebagai bukti  perjuangan masyarakat Fakfak melawan penjajah yang dipimpin Panglima Besar Fakfak, Grapangi Gewa, putra asli Fakfak yang berjuang mengusir penjajah sekitar abad ke 19.

Masyarakat Fakfak cukup menyadari dimana Fakfak sebagai kota perjuangan, yang terus sampai sekarang pun berjuang mempertahankan harmonisasi, kerukunan dan kedamaian. Dengan spirit “satu tunggu tiga batu” yang ditafsirkan sebagai kebersamaan antara adat, agama dan pemerintahan, ada juga yang menafsirkan antara sebagai kristen, Katolik dan Islam, Fakfak menjadi daerah yang relatif damai di mana masyarakatnya satu sama lain saling menguatkan persatuan, saling menjaga dari rongrongan luar yang ingin memecah belah sistem kekerabatan yang sudah terbangun sejak lama.

Seperti diungkapkan Gerda M. Teurupun, S.E, Kepala Humas dan Protokol Kabupaten Fak-Fak, bahwa sebagai kota yang memiliki sejarah perjuangan yang cukup panjang, kesadaran masyarakatnya dalam menjaga kedamaian dan kerukunan, sudah teruj, bahkan mungkin menjadi  daerah dengan tingkat keamanan paling baik di tanah Papua.

Sebuah kota yang keberadaanya sudah lebih dari 100 tahun, Fakfak  memiliki suku-suku dan adat istiadat yang dipertahankan yang juga menjadi salah satu penopang pembangunan.

Merujuk pada hasil identifikasi yang dilakukan Tim dari Subdit Masyarakat Hukum Adat Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama fasilitasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Fakfak dan LSM Conservation International di Fakfak, Kabupaten Fakfak masuk pada wilayah adat Bomberai.

Pertemuan Tim dengan Ketua Dewan Masyarakat Adat Kabupaten Fakfak di antaranya membahas tentang masyarakat adat yang ada di Kabupaten Fakfak. Pertemuan dengan penguasa adat setempat yang disebut Raja, Kepala Desa yang ada di Petuanan Fakfak. Adat kebiasaan itu terwujud dalam bentuk upacara adat seperti  upacara adat kelahiran bayi, upacara adat perkawinan dan Pendidikan (Tomborg Mag, Tomborg waah),  upacara adat kematian, upacara panen atau pembukaan lahan baru, upacara penobatan raja/pertuanan, upacara ritual pemasangan sasi, dan upacara ritual sasi

Sub suku menurut bahasa daerah yang ada di Kabupaten Fakfak adalah Onim, Iha, Sekar,  Bedoanus, Erok Wanas, Mbaham, Karas, Uruang Nirin, Kamberau, Malsari, Kuwal, dan Semimi.

Ada tujuh kerajaan atau petuanan yang ada di Fakfak yang terdiri dari: Petuanan Ati-Ati di Werpigan, Petuanan Fatagar di Fakfak, Petuanan Arguni di Arguni, Petuanan Sekar di Kokas, Petuanan Wertuar di Kokas, Petuanan Rumbati di Rumbati, Petuanan Patipi di Patipi Pasir, Petuanan Ati-Ati di Distrik Fakfak Barat, Distrik Wartutin,  Fakfak Timur dan Distrik Fakfak Timur Tengah, Petuanan Fatagar kepemilikan lahannya di Distrik Fakfak dan Distrik Pariwari, dan Petuanan Arguni dengan kepemilikan lahannya mulai dari pesisir pantai Arguni hingga sampai pada Kawasan Distrik Bomberay, Petuanan Sekar dan Wertuar dengan kepemilikan lahan di Distrik Kokas, Distrik Kayauni dan Distrik Kramongmongga, dan Petuanan Patipi dan Rumbati dengan kepemilikan lahan di Distrik Teluk Patipi dan Distrik Furwage. #

Related posts

Leave a Comment