Festival Iklim 2018 : Indonesia siap berkomitmen dalam agenda implementasi perubahan iklim.

Kondisi alam landscape biosfer yang saat ini sama-sama dirasakan akibat dari pengaruh kondisi iklim global misalnya el nino, la nina, anomali cuaca, dan sebagainya. Seperti dalam Perjanjian Paris Agreement, dalam perjanjian ini isu perubahan iklim yang terkait dengan mitigasi, adaptasi dan means of implementation (dalam bentuk  pendanaan iklim, alih teknologi dan peningkatan kapasitas) dijangkau secara seimbang. Di dalam negeri, Indonesia telah menindaklanjuti hasil Paris Agreement dengan meratifikasi perjanjian ini dengan UU No 16 Tahun 2016.

Dalam hal ini Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam acara Festival Iklim di Auditorium Dr. Soedjarwo Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta Selasa (16/1) mengatakan “saya mengharapkan kepada publik bahwa alasan kita berkomitmen terhadap agenda implentasi perubahan iklim, sudah jelas ada aturan perundang-undangannya. Oleh karena itu, komitmen indonesia untuk mengimplementasikan penurunan emisi gas rumah kaca, dan penurunan suhu hingga dibawah 2 derajat menjadi sangat penting, untuk mewujudkan berbagai keseimbangan aktifitas guna mencapai cita-cita bersama terhadap implementasi perubahan iklim.”

Enam Kementerian sektor terkait dengan mitigasi perubahan iklim, yaitu Kementerian LHK, Kementerian ESDM, Kementerian PUPR, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah berproses menuju pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC). Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi bekerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dunia usaha yang bekerja di sektor perkebunan membentuk desa mandiri peduli api, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memberdayakan ekonomi desa-desa sekitar kawasan hutan agar masyarakat tidak membakar hutan, diharapkan masyarakat bisa ikut membantu menjaga terjadinya pemanasan global tau efek emisi gas rumah kaca, dan terbukti dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini kebakaran hutan sudah mulai berkurang.

“Dana desa juga diperuntukan aktif dalam pembuatan embung-embung air yang gunanya untuk mentrap air tersebut sehingga bisa diserap dan bisa dilakukan penghijauan, dan telah membangun lebih dari 291 ribu drainase agar air tersebut tidak langsung ke laut pada musim hujan, namun bisa di trap di daerah-daerah tersebut sehingga bisa menjadi sumber air di musim kering, penghijauan pun bisa di jaga, serta membangun lebih dari 200 ribu turap penahan tanah longsor, jika diperhatikan Indonesia yang tadinya setiap tahun terjadi banyak kasus tanah longsor, yang merengut ribuan jiwa, 3 tahun terakhir ini kasus tanah longsor bisa diperkecil di level 2 dan 3 skala nasional,” tuturnya.(Syifa)

Related posts

Leave a Comment