Five Passages to the Future

Galnas,Gpriority-Seni melalui beragam karya yang dipamerkan ternyata memiliki fungsi meningkatkan kesadaran bersama tentang permasalahan yang ada serta mendukung upaya kolaboratif untuk mencari solusinya.

Permasalahan yang dimaksud adalah krisis energi, ancaman ekologis, perubahan iklim dan revolusi teknologi sains bernama industry 4.0. Berbagai upaya dari beragam disiplin telah dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ini. Salah satu solusinya adalah gagasan tentang antroposentrisme (ide bahwa semua hal berpusat pada manusia) yang selama ini bertahan sudah tidak lagi valid.

Berbekal alasan itulah lima kurator perempuan yang memiliki masing-masing dengan keahlian dan spesialisasinya sendiri di bidaang manajer seni, seniman,edukator, penulis, dan peneliti menghadirkan pameran bertajuk “Five Passages to the Future”  guna mengekspos aspek teknologi terbaru dalam seni media baru dan perannya di masyarakat kita. Pameran ini juga bertujuan untuk mempromosikan praktik kuratorial dari kurator perempuan di skena seni media baru di Indonesia.

Bekerja erat dengan setiap seniman, setiap kurator mengajukan lima pendekatan mutakhir di isu-isu ekopolitlk, keberlangsungan, kecerdasan buatan (Al), naratif digital, dan teknologi pakai, dan setiap pasang kurator-seniman telah berkolaborasi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti  jika manusia dan alam adalah komponen yang setara dalam masyarakat, bagaimana mereka bisa hidup berdampingan? (Evelyn Huang X Digital Nativ) . Bagaimana kita bisa mencapai kehidupan yang berkelanjutan di Bumi? (lrene Agn’vine x Eva Bubla) . Apa peran manusia di era kecerdasan buatan? (Jeong Ok Jeong X Cho Eun Woo) . Bagaimana realitas virtual sebagai media baru mengubah persepsi manusia? (Nin Djam‘ X Shezad Dawood). Perubahan sosial sepertu apa yang bisa kita antisipasi saat mode bertemu dengan teknologi? (Ratna Djuwita X Synflux).

Tidak hanya itu Five Passages to the Future juga menampilkan eksplorasi yang luas dari lima praktik perintis  dalam seni media baru yang berpartisipasi di program inkubasi XPLORE: New Media Art Incubation, sebuah inisiatif pendidikan yang digagas oleh ARCOLABS dan HONF dan dilaksanakan pada 2018 dan 2019.

Untuk pameran ini, para seniman mendiskusikan ekologi dan data sebagai tema-tema utama, bagaimana kita bisa menjadi lebih mawas mengenai perubahan ekologis menuju gaya hidup yang |ebih berkelanjutan dan memahami esensi data sebagai acuan tindakan untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Lewat interpretasi dan elaborasi data dari lingkungan sekitar, para seniman menyuguhkan bagaimana upaya kreatif dari seni media baru mampu berkontribusi dalam kehidupan kita.

Melalui kerja kolaborasi dari berbagai individu, tema, dan disiplin, pameran ini mencoba memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia menjadi lebih bermakna ketika membangun hubungan dengan berbagai entitas alam, artefak, dan teknologi, dalam jalinan simbiotik.

Bagi Anda yang penasaran dengan hasil karya yang mereka buat bisa hadir di Galeri Nasional (Galnas) Gedung B dan D. (Hs.Foto:Hs)

               

Related posts