Forum Ekonomi Islam Dunia Dorong Agenda Ekonomi Hijau

Para pelaku industri terkemuka berkumpul di Jakarta, Indonesia mendiskusikan transformasi, tantangan, dan peluang ekonomi hijau

JAKARTA, 5 Oktober 2017 – Sebagai bagian dari rangkaian acara menuju Forum Ekonomi Islam Dunia ke-13 (WIEF) dengan tema, Perubahan Disruptif: Dampak dan Tantangan – WIEF bekerjasama dengan pemerintah Indonesia menyelenggarakan diskusi meja bundar dengan tema Ekonomi Hijau (Green Economy) di Jakarta.

Tujuan dari diskusi meja bundar ini adalah untuk memberikan perspektif dan wawasan yang lebih lengkap kepada para peserta mengenai agenda untuk mendorong ekonomi masa depan dalam menghadapi Revolusi Industri Keempat.

“Transformasi digital tidak terelakkan karena potensinya yang besar namun kita juga harus memastikan isu keberlanjutan tidak dikesampingkan. Saat ini, aktifitas ekonomi digital ASEAN menghasilkan pendapatan sekitar $150 miliar per tahun, dengan potensi untuk berkembang menjadi $1 triliun dalam PDB pada tahun 2025. Keduanya harus saling melengkapi untuk menciptakan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan seiring dengan kemajuan ekonomi”, kata Tun Musa Hitam, Ketua Yayasan WIEF.

Para pembicara dalam diskusi meja bundar di Jakarta meliputi: Dr Andrea Bassi, Pendiri dan CEO KnowlEdge Srl, Swiss; Prof Dr Armida Salsiah Alisjahbana, Direktur Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia; Dr Hezri Adnan, Dosen, Akademi Ilmu Pengetahuan, Malaysia; Pranab J Baruah, Principal Specialist, Office of Thought Leadership, Global Green Growth Institute (GGGI), India; dan Tanri Abeng, Presiden Komisaris PT Pertamina, Indonesia. Para ahli ini akan mendorong diskusi tentang bagaimana meningkatkan kapasitas negara-negara ASEAN untuk menjadi yang terdepan dalam program ekonomi hijau.

“Seiring integrasi ASEAN saat ini dan peningkatan kegiatan ekonomi, penting untuk memastikan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak ditinggalkan. ASEAN secara gabungan memiliki PDB sebesar $2,4 triliun dan merupakan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di Asia setelah Tiongkok dan India “, tambah Tun Musa.

Emisi terkait penggunaan energi dari negara-negara ASEAN saat ini menyumbangkan 4% gas rumah kaca secara global, dan sesuai dengan Perjanjian Paris, ekonomi dengan skala tersebut harus mengurangi emisi rumah kaca merekapaling sedikit 50% sampai dengan tahun 2030. Apabila kita mengambil contoh Indonesia, maka sektor ekonomi akan menjadi momok bagi upaya pengembanganberbagai program pembangunan hijau di berbagai sektor pertumbuhan, sebagai bagian dari rencana pembangunan untuk mengurangi emisi sebesar 26% pada tahun 2020.

WIEF menyediakan platform bagi ASEAN sebagai kawasan untuk mengeksplorasi ekonomi hijau untuk jalan maju guna peningkatkan ekonomi dan kehidupan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem. Ini sejalan dengan tujuan WIEF sebagai instrumen penting dalam diplomasi multilateral di antara negara maju dan ekonomi berkembang.

WIEF ke-13 yang akan diadakan di Kuching, Sarawak, Malaysia dari tanggal 21-23 November 2017, berfokus pada dampak dan tantangan perubahan disruptif; membuka komunikasi antar negara, mendorong agenda bisnis yang sama dan membawa nilai dan dampak nyata bagi masyarakat di seluruh dunia.(Arlan)

Related posts

Leave a Comment