Gemala Hanafiah: Wet Traveler untuk Laut Indonesia

Only surfer knows the feeling. Kutipan tersebut lah yang menggambarkan pengalaman Gemala Hanafiah saat menaklukan ombak dengan papan selancarnya. Peselancar cantik asal Balikpapan ini sangat mencintai olahraga surfing atau berselancar. Ketika berselancar, ia merasa sangat selaras dengan alam. “Selaras sama alamnya tuh luar biasa banget. Senengnya tuh kayak susah diungkapkan dengan kata-kata gitu lho karena banyak banget yang dirasain dalam satu momen,” ungkapnya.

Gemala mengaku jika awal mula ia menyukai olahraga selancar dimulai dari hal yang sederhana. Sebelumnya, ia tak pernah tahu banyak tentang surfing. “Jadi sebenarnya mulanya itu sederhana banget. Ngga ada referensi apa-apa, ngga tahu surfing itu gimana, sekedar pengen aja gitu sama temen-temen,” paparnya.

Bahkan, Gemala belajar berselancar secara otodidak selama kurang lebih 4 bulan. Ia mengaku bahwa tak mudah saat mencoba surfing karena ia sempat merasa, dari segi umur, cukup terlambat untuk belajar mengendalikan papan selancar. “Mulainya telat banget umur 20 tahun, untuk mulai tu telat banget. Kalo anak2 pesisir kan umur 6 tahun, 5 tahun, mereka sih santai banget gitu,” ujar gadis yang lahir pada 7 Maret 1980 ini.

Wet Traveler

Sebagai seorang peselancar, Gemala memang sudah cukup dikenal dan berprestasi. Gemala pernah menyabet sejumlah penghargaan seperti pemenang pertama Occy’s Grom Competition Billabong Cherating Malaysia dan peringkat ketiga Indonesia Surfing Competition (ISC) Quicksilver Pro Bali pada 2010, posisi ketiga Asian Surfing Competition Quicksilver (ASC) Pro Thailand, serta peringkat empat ASC Ripcurl Surf and Music Festival Halfway Bali pada 2011. Di 2014, ia menduduki posisi kedua dalam Cimaja Happy Weekend Surf Competition.

Tak cukup sampai di situ, saat diwawancara, Gemala tengah bertolak ke Bali untuk mendapatkan 6 seri World Surf League (WSL). “Dapet 6 seri WSL, jadi kayak ujiannya surfing dunia gitu. Tahun ini lumayan banget Indonesia,” ungkap Gemala. Selain itu, keberangkatannya ke Bali pada Mei 2018 ini sekaligus dalam rangka membuat video dokumentasi bawah laut di Pulau Lembata untuk kanal youtube Wet Traveler miliknya. “Kemudian kita mau ke Lembata untuk bikin video promonya, untuk under waternya. Jadi, masih sibuk di Wet Traveler banget sih. Karena ngga bisa setengah-setengah ternyata kalau bikin konten kayak gitu,” jelasnya.

Ia mengaku saat ini masih mencoba untuk konsentrasi dalam mengembangkan konten di Wet Traveler. Bersama rekannya yang berprofesi sebagar fotografer dan videografer bawah laut, Gemala membuat konten-konten seperti webseries, dan kini berkembang menjadi vlog dan tourism consultant.

Karena kesibukannya yang kini lebih fokus ke Wet Traveler, Gemala pun pada akhirnya juga menyukai olahraga menyelam. “Wet Traveler ini juga kan scorenya dua, surfing sama diving. Secara partner gue kan under water videographer, dia kan diving kan. Ya pasti kebawa-bawa jadinya,” ungkapnya. Namun, jika disuruh memilih, ia tetap memilih setia dengan olahraga selancar. “Pilih ombak sama diving pilih mana, ya pasti pilih ombak. Tetep ombak,” lugas Gemala.

Media Edukasi Wisata Bahari

Kecintaan Gemala terhadap laut dan alam sudah ia rasakan sejak kecil, “Karena aku dari kecil kan suka di bawa ke laut sama almarhum bapak kan, emang terbiasa dan suka sama alam.” Untuk itu, ia merasa bahwa edukasi dan informasi terkait dengan alam, terutama laut, penting untuk dibagikan kepada masyarakat secara luas.

“Kita pengen banget kita bisa jadi corongnya untuk surfing sama diving Indonesia ke luar. Karena emang kita ada di situ, kita suka, itu passion kita, dan kita pengen share. Pengennya sih ya itu, pengen dikenal di luar aja sih,” paparnya. Dalam kanal Wet Traveller, ia juga menggunakan bahasa inggris dengan pertimbangan konten diving dan surfing yang ia bawakan akan lebih mudah diterima dengan cakupan penonton dan pengikut yang lebih luas hingga ke mancanegara.

Terkait banyaknya masyarakat yang justru kurang mempedulikan lingkungan saat berwisata, terutama wisata bahari, Gemala menganggap bahwa hal tersebut memang tidak mudah dan membutuhkan proses. “Ngga ada yang salah dengan hal itu. Tapi harus tetep ada informasinya yang bener gitu ya,” ujarnya. Ia bersama dengan Wet Traveler pun berusaha untuk tetap memberikan edukasi dan informasi, “Jadi ngga cuma sekadar menikmati doang, tapi pendidikannya.”

Menurutnya, tindakan masyarakat yang justru cenderung merusak lingkungan tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi. “Kalo misalnya kita dapet laporan langsung ni. Dari temen-temen yang ngelihat ada sesuatu yang salah, ada yang keliru, itu kemungkinan besar karena  mereka kurang informasi. Itu kita berpikir positif dulu deh. Mereka mungkin kurang informasi, jadi jangan langsung dibully,” jelas penulis buku Ocean Melody ini. Baginya yang terpenting masyarakat harus sayang dengan negara dan menjaga alamnya. “Yang penting adalah orang makin sayang sama negaranya, makin sayang sama alamnya, mau ngejaga, (dan) jangan buang sampah sembarangan. Itu sih yang selalu kita tekankan,” pungkasnya. (RA)

Related posts

Leave a Comment