Generasi Millennials Penggerak Bangsa Berikutnya

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. 

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Generasi milenial menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat  The Millennials Meet and Greet with Foreign Minister’ di Kantin Diplomasi, Kementrian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019). di Kantin Diplomasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) pada Selasa (8/1) memiliki peranan strategis dalam mengatasi berbagai permasalahan di Indonesia, termasuk ekonomi. Atas peranan ini, ia meminta kepada seluruh pemangku kepentingan untuk bersama mendorong mereka untuk menjadi the next engine.

Dalam acara tersebut, Retno juga bercerita mengenai karirnya hingga bisa menjadi Menteri Luar Negeri pada saat ini, menurut Retno dirinya memulai pada tahun 1986 dipercaya untuk menjadi Diplomat di KBRI Cambera.  “ Saya ingat, ketika berangkat ke sana, saya membawa anak kecil berusia satu setengah tahun. Di Canbera itulah saya melahirkan anak kedua saya,” tutur Retno.

Memiliki dua orang anak, tidak membuat Retno patah semangat, justru memacu dirinya untuk semakin rajin menjalankan tugasnya sebagai diplomat. Ketekunan dan keuletan yang dimiliki Retno inilah yang membuat dirinya dipercaya sebagai Diplomat dan juga Menteri Luar Negeri pada saat ini.

Retno dalam acara tersebut juga membuka sesi tanya jawab dengan generasi milenial yang hadir. Glorial Hamel yang mewakili mahasiswa bertanya mengenai  Sustainable Development Goals (SDGs). Dirinya bercerita ketika membuat video mengenai SDGs hanya sedikit saja yang tahu. Untuk itulah dia meminta Kemenlu agar lebih memperkenalkan SDGs kepada kaum milenial sehingga SDGs didukung penuh oleh kaum milenial.

Retno menjawab SDGs sangat berarti bagi pembangunan di Indonesia, untuk itulah dalam kesempatan itu, Retno menjelaskan mengenai SDGs, peranannya dan apa yang sudah dicapai. Retno juga meminta kepada generasi milenial untuk berperan serta bagi pencapaian SDGs di Indonesia.

Yasa dari kalangan wirausaha bertanya bagaimana mendorong diplomat Indonesia supaya Indonesia tarif ekspor yang dipinta negara tersebut bisa lebih rendah. Retno menjawab, pada saat pemerintahan baru memulai, Presiden Jokowi langsung angkat bicara mengenai angka ekonomi. Diplomat sendiri tidak punya angka, jadi saat mempresentasikan angka ekonomi, para diplomat sempat bingung, namun berkat kesabaran Presiden Jokowi, diplomat tersebut pun bisa menjelaskannya.

Retno juga mengatakan bahwa diplomat adalah pembuka jalan, untuk itulah mereka akan membantu menegosiasikannya kepada negara yang mematok biaya tinggi untuk Indonesia. Setelah tercapai kesepakatan barulah para pengusaha tersebut bisa memasukkan produk mereka.

Bicara mengenai ekonomi di Indonesia, selama empat tahun kita sudah melakukan berapa negosiasi dan capaian hasilnya termasuk pasar baru Indonesia.

Mengenai kerjasama dengan Afrika, Retno menjelaskan bahwa di  tahun 1955, Indonesia dan Afrika sudah menjalin kerjasama hal ini terbukti dengan hadirnya Konferensi Asia Afrika di Bandung, Namun sayangnya, kerjasama itu  tidak membahas tentang pasar non tradisional, sehingga negara-negara di Afrika belum terlalu mengenalnya. Alasan itulah yang membuat Indonesia mengadakan Indonesia Afrika forum. “Selama penyelenggaraan Indonesia Afrika Forum yang berlangsung tahun lalu, jumlah transaksi yang dicapai sebesar  586 juta USD dan potensial bisnisnya lebih dari tiga kali lipat dari jumlah tersebut,” tutur Retno.

Masih terkait dengan Afrika, Desember lalu ada 200 tenaga kerja Indonesia yang berangkat ke Afrika untuk. Membangun infrastruktur yang juga dikerjakan oleh perusahaan Indonesia. “ Hal ini merupakan awal yang bagus untuk perekonomian Indonesia,” kata Retno.

Terkait dengan oknum yang meminta pisah dengan Indonesia dengan mendatangi negara di Pacific Selatan, Retno segera melakukan diplomasi dengan meningkatkan kunjungan diplomasi ke pacific selatan dan menjelaskan tentang Indonesia. “ Alhamdulillah mereka mengerti  dan berbalik mendukung Indonesia. Bahkan Presiden Nauru, Baron Waqa menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia untuk bertemu Presiden Jokowi. Ketika berbicara  dengan Jokowi, Baron mengaku kagum dengan Indonesia dan berniat mendukung Indonesia.

Mengenai sejumlah agenda resmi internasional yang selama ini lebih sering dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dibanding Presiden Joko Widodo (Jokowi) sehingga menimbulkan pertanyaan seorang milenial kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi apakah ketidakhadiran Jokowi tersebut berarti Presiden tidak peduli dengan politik luar negeri. Dengan tegas, Retno menepisnya. 

“Kalau ada yang bilang Pak Presiden nggak peduli dengan politik luar negeri, itu salah dan salah besar sekali, Karena apa? Bagaimana mungkin kalau Presiden tidak peduli terhadap politik luar negeri and then kita melakukan kampanye yang begitu besar untuk DK (Dewan Keamanan),” imbuhnya. 

Retno menjelaskan, pencalonan untuk Dewan Keamaan Tidak Tetap PBB memang sudah jauh-jauh hari. Namun tetap dalam prosesnya harus ada komunikasi dengan Presiden. 

“Memang pencalonan sudah jauh jauh sebelumnya, tetapi kalau Presiden (tidak peduli), saya bicara dengan kepala negara lain beliau (Presiden) menyampaikan mengenai ‘Saya sedang merangkul DK, kamu tolong untuk dukung kita’,” tutur Retno. 

Terkait dengan Palestina, Retno mengatakan Presiden sangat peduli sekali, sehingga ketika Palestina mendapatkan masalah, Presiden langsung menelepon dirinya untuk membantu Palestina. (Hs.Foto:Hs)

 

Related posts

Leave a Comment