IEF Bahas Masa Depan Indonesia

Forum bisnis terkemuka dan regional, Indonesia Economic Forum (IEF) kembali digelar untuk yang keempat kalinya.

Untuk tahun ini, IEF yang berlangsung selama dua hari (22-23 November) di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat membahas mengenai masa depan Indonesia dan peluang serta tantangan yang dihadapi oleh Indonesia di 30 tahun yang akan datang. Untuk itulah IEF pada tahun ini mengundang para pembicara utama seperti, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, CEO HSBC Indonesia, Sumit Dutta, Direktur Utama AKR Corporindo, Haryanto Adikoesoemo, Direktur BRI, Indra Utoyo; Wakil Rektor Senior Monash University, Zlatko Skrbis, Country Manager Extramarks Indonesia, Fernando Uffie,  Wakil Presiden PT Lorena Karina, Eka Sari Lorena Soerbakti, Gita Wiryawan dan Founder Orbit Ventura Ilham Habibie.

Ditemui sebelum acara pada 22 November dimulai, Founder Orbit Ventura Ilham Habibie mengatakan bahwa pemerintah harus memperhatikan pendidikan tenaga kerja dalam negeri. Karena faktor pendidikan bisa menentukan maju atau tidaknya pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Dijelaskan oleh putra Presiden RI ke-3, BJ Habibie, pada saat ini dunia telah menggunakan kecanggihan teknologi. Peluang inilah yang benar-benar dimanfaatkan oleh negara berkembang dan maju termasuk India. Indonesia pun pada saat ini memang tengah mengikuti trend tersebut, namun hanya di beberapa daerah, sumber daya manusia (sdm) yang berkualitas menjadi faktor penghambatnya. Untuk itulah, Ilham menyarankan agar Pemerintah Indonesia mau membuat kurikulum berbasis pendidikan teknologi mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dengan demikian terciptanya SDM berkualitas seperti di negara maju dan berkembang lainnya bisa terlaksana.

Ilham Habibie

Nada optimis mengenai perekonomian Indonesia terdengar dari  pendiri Indonesia Economic Forum (IEF) Shoeb Kagda saat membuka IEF hari kedua di Hotel Shangri-la, Jakarta, Kamis (23/11). Menurutnya, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang memiliki perekonomian kuat dan dapat memberikan pengaruh cukup besar kepada dunia ketika menginjak usia yang ke-100. Apa yang diucapkannya itu tidak terlepas dari beberapa fakta bahwa pada saat ini pemerintah sudah menerapkan berbagai kebijakan dalam jalur yang tepat sehingga terus menjadi perhatian dunia.

“Pemerintah kini sudah fokus pada pembangunan infrastruktur, teknologi keuangan dan juga teknologi pendidikan dimana tiga hal itulah yang nantinya akan memberikan kekuatan di masa depan. Indonesia akan jadi negara yang sangat menjanjikan,” ujar Kagda.

Terlebih lagi, sebagai penganut sistem demokrasi, ia melihat Indonesia memiliki kondisi politik yang cukup stabil meskipun dalam periode pergantian pemerintahan.

Ditambah, populasi yang begitu besar yakni lebih dari 250 juta jiwa, semua faktor-faktor tersebut, ucapnya, jelas menjadi bekal yang sangat penting untuk dapat memajukan perekonomian Tanah Air.

“Dengan pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah yang tinggi dan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, dalam rentang waktu sekarang sampai 2045, dapat tercipta peluang pasar sebesar US$1 triliun di berbagai industri seperti layanan konsumen, pendidikan, manufaktur, energi, fintech, properti dan transportasi,” paparnya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan apa yang diucapkan oleh Kagda bukanlah isapan jempol belaka, pasalnya berdasarkan angka-angka yang telah dicapai pada saat ini, perekonomian Indonesia terus mengalami kemajuan.

“Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pihak swasta kepada pemerintah. Mereka bersedia menyamakan persepsi dengan pemerintah dan melihat apa yang terjadi di dunia saat ini kemudian mengaitkan semuanya,” ucap Budi.(HS.Foto:HS)

Related posts

Leave a Comment