Iman Abdurahman: Backpack Radio Station Mengantarkannya Menjadi Champions di WSIS Prize 2017

Bencana tsunami yang terjadi di pangandaran pada 2006 lalu rupanya terus membekas dalam ingatan Iman Abdurahman. Pasalnya, pria yang aktif di jajaran pengurus Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) terlibat dalam aksi kemanusiaan di bencana alam tersebut.

Kepada penulis, Iman menceritakan bahwa di tahun tersebut dirinya menjadi relawan yang bertugas menyiapkan stasiun radio di sekitar lokasi pantai Pangandaran yang baru saja terkena tsunami. Keberadaan stasiun radio tersebut cukup membantu, karena mempercepat proses evakuasi korban, pemetaan kondisi bencana, mengetahui jumlah korban yang berada di rumah sakit dan penyaluran bantuan logistik.

Tidak hanya di Pangandaran, Iman dan kawan-kawannya juga terlibat dalam penanganan musibah meletusnya Gunung Merapi pada 2010. Kala itu mereka mengawal radio darurat yang diberi nama Jalin Merapi, yang pemberitaannya sama dengan stasiun radio di Pangandaran.

Dijelaskan oleh Iman, perangkat radio yang didirikan di Pangandaran dan Gunung Merapi sama banyaknya, sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk membawa dan merakitnya hingga bisa mengudara.

Pengalaman membangun stasiun radio darurat di daerah bencana itulah yang membuat anak ketiga dari sembilan bersaudara tersebut terinspirasi untuk menyederhanakannya. Dia kemudian merancang stasiun pemancar radio yang bisa dikemas dalam dua koper ukuran jumbo.

 “ Satu koper khusus untuk antena dan baterai. Satu lagi untuk perkakas seperti mikser, pemutar musik, mikrofon, dan transmitter (pemancar),” ucap Iman.

Uji coba stasiun pemancar radio yang dikemas dalam dua koper ukuran jumbo dilakukan saat penanganan bencana meletusnya Gunung Sinabung pada 2013. Sayangnya, setelah tiba di Medan, banyak perlengkapan di dalam koper yang kocar-kacir. Iman dan rekan-rekannya harus merakit ulang. Mereka butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Merasa masih belum begitu sempurna, pada tahun 2016, Iman semakin serius mendesain stasiun radio yang portabel, ringan, trendy dan mudah dibawa ke lokasi bencana.

Anak dari pasangan (alm) Enceng Nurul Ain dan (alm) Ukho Khotimah itu juga meminta bantuan kenalannya di Jepang untuk membuatkan aplikasi penyiaran radio yang praktis. Aplikasi tersebut diberi nama Mobile Radio Station. Aplikasi itu memiliki banyak fungsi, mulai mikser, pemutar musik, hingga channel untuk siaran.

“ Tinggal pencet menu on air, suara radio yang keluar dari smartphone sudah bisa didengar. Tentu saja tetap membutuhkan transmitter dan antena untuk menyiarkannya,” ucap Iman Abda.

Dengan aplikasi tersebut, Iman bisa menghilangkan sejumlah komponen yang besar-besar dan merepotkan. Yakni, mikser, pemutar musik, dan mikrofon.

“ Dengan begitu, komponen stasiun radio yang banyak bisa dikurangi dan praktis. Bahkan, saking ringkasnya, stasiun radio kini bisa dimasukkan ke ransel,” ucap pria kelahiran Tasikmalaya, 20 April 1977 .

Merasa telah sempurna, Iman pun mendaftarkan stasiun radio portabelnya ke ajang Age of Wonderland yang bermarkas di Belanda pada pertengahan  2016. Proposal pengajuan tersebut diterima panitia dan menyuruh Iman untuk datang ke Belanda guna melakukan presentasi.

Di Negeri Kincir Angin, Iman tinggal selama 10 hari. Dalam rentang waktu tersebut, dia bertemu dengan Joris de Groot yang merupakan ahli desain material maju (advanced material). Usai pertemuan tersebut, Iman bekerjasama dengan Joris untuk mendesain tas ransel yang bisa menampung perlengkapan stasiun radio.

“ Beberapa kali diskusi, akhirnya dicapai kesepakatan desain tas ransel yang benar-benar pas. Di bagian bawah ransel ada tempat untuk baju. Kemudian, di atasnya untuk aneka macam kabel dan baterai untuk sumber tenaga. Kemudian, di bagian atas ada koper kecil yang berisi transmitter, smartphone, dan radio penerima untuk kontrol siaran. Sedangkan antena yang dibuat ringkas diletakkan di bagian samping. Antena berbentuk huruf ’’T’’ dengan tinggi sekitar 1 meter itu mampu memancarkan siaran radio hingga radius 5 km,”ucapnya.

Dengan pendampingan Joris dan beberapa profesor, akhirnya peranti stasiun radio portabel karya Iman jadi. Ransel berisi perlengkapan stasiun radio itu tidak terlalu berat. Kira-kira hanya 5 kg sampai 8 kg. Setelah jadi, hasil karyanya pun dipamerkan di Belanda, namun tidak bisa dibawa pulang ke tanah air, pasalnya, isinya yang mengandung peranti yang membahayakan seperti tablet smartphone dan baterai lithium tidak bisa masuk ke dalam pesawat.

Pada April 2017, Iman mendapatkan kabar bahwa Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar kontes karya teknologi bertajuk The World Summit on the Information Society (WSIS Prize) 2017 yang digelar di Swiss. Iman pun mendaftarkan karyanya.

Dari 467 peserta yang mendaftar, Iman berhasil meraih champions dalam bidang Penerapan Teknologi Informasi untuk Lingkungan. (HS.foto Dok Iman Abda)

 

 

Related posts

Leave a Comment