Imural: Seni Komersil dalam Estetika Interior

Berawal dari kesempatannya dalam program pertukaran pelajar di Korea Selatan dan Amerika beberapa tahun lalu, pria yang akrab disapa Richard Rich ini kemudian mendapat sejumlah pengalaman yang sangat mengesankan dan berhasil membuatnya mendapatkan banyak inspirasi, baik dalam hal seni dan berlanjut menjadi sebuah bisnis yang tak biasa.

“Oh kok muralnya keren sih. Sementara 6-7 tahun lalu tuh mural di Indonesia kayak yang di bawah kolong (jalan layang) Semanggi, cenderung kotor dan berbau pornografi,” ungkapnya mengingat kesan pertama saat melihat aneka mural di negeri gingseng dan negeri Paman Sam tersebut. Terbesit dalam pikirannya bahwa seharusnya di Indonesia pun harus ada tangan-tangan kreatif yang tak kalah hebat dari negara-negara maju. “Jadi, kenapa kita ngga bisa bikin karya yang sama bagusnya juga ya?” celotehnya.

Sekembalinya ia ke tanah air, Rich pun bertemu dengan kawan-kawannya dan memutuskan untuk berkarya bersama. “Ke sini dan ketemu sama temen-temen dan akhirnya kita bikin Imural. Terus karya-karyanya disukai sama pasar,” tutur pria berkacamata ini.

Bertahan dalam Polemik Regulasi Seni

Di tahun 2013, DKI Jakarta sempat gusar menyoal peraturan daerah (Perda) No. 8/2007 tentang ketertiban umum. Kala itu, perda tersebut dianggap rancu karena sempat bersinggungan dengan ruang gerak seni mural. Namun, Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta kala itu menekankan bahwa mural berbeda dengan tingkah corat-coret (vandalis).

Untuk itu, ia pun kemudian mengedarkan Surat Edar Gubernur No. 1 Tahun 2013 tentang larangan mencorat-coret, menulis, melukis, dan menempel iklan pada sarana umum. Tak tanggung-tanggung, dendanya mencapai 20 juta rupiah.Alih-alih, Jokowi justru mengharuskan adanya izin bagi pembuat mural. Izinnya dibuat secara sistematis dan diperbaiki setiap bulannya. Pembuatannya pun dibatasi hanya di beberapa lokasi saja.

Hal itu sempat membuat dilema sejumlah seniman mural yang berbasis di Jakarta. Rich adalah salah satu.di antaranya. Bukan sekadar impresi dan refleksi pemikiran yang dituangkan dalam seni, bagi Rich, mural adalah investasi. Setelah dua tahun berturut-turut proposalnya ditolak Pemprov, ia bersama kawan-kawannya pun beralih untuk berbisnis secara mandiri di sektor swasta.

“Tapi kebetulan memang 5-6 tahun yang lalu belum ada kesadaran ataupun kemauan untuk mempercantik tata kotanya lewat keberadaan seni mural ini. Jadi kita memilih ke sektor swasta aja deh,” ungkapnya.

Tak disangka, karyanya mendapat apresiasi tinggi. Buah karya Rich dan kawan-kawan Imural kerap kali terpampang elok di beberapa tempat seperti co-working space, hingga Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kompleksitas Mural

Banyak perspektif sempit terhadap karya seni mural. Salah satunya tenatng perspektif “hanya modal cat dan kuas”. Hal itu ditampik oleh Rich. Mural, baginya, adalah suatu karya yang punya kompleksitas yang cukup tinggi.

“Proses pengerjaan sebenernya tergantung dari kompleksitas dan kesulitan desain. Semakin sulit desainnya, artinya semakin banyak orang yang terlibat dan semakin banyak waktu yang dibutuhkan,” jelas Richard.

Karena baginya, mural yang ia jalani bersama Imural tak hanya berkarya sebagai ungkapan dari kreatifitas ataupun keresahan, melainkan sebuah bentuk dari penyelesaian masalah dari klien. “Semua desain itu, kita dengar dulu dari kebutuhan konsumennya apa, dari sana kemudian kita olah jadi produk,” ungkapnya.

Selain menjual karya, yang ia jual juga merupakan sebuah jasa. Untuk itu, perlu adanya tahap yang cukup panjang hingga sampai pada karya yang sesuai dengan apa yang diiinginkan klien. Adanya proses briefing, brainstorming, color tuning, hingga pembuatan sketsa, dilakukan secara matang oleh Rich dan kawan-kawannya.

“Setelah proses approach konsep dan segala revisinya sudah selesai, maka proses selanjutnya adalah pembuatan sketsa. Kalo sketsa black and white itu untuk menunjukan komposisi desainnya. Untuk menunjukan look and feel di lapangan kayak gini,” tuturnya semangat.

Setelah proses approval sketsa, barulah mural dimulai. Proses ini juga dikenal sebagai final coloring. “Jadi kalo ditanya bahannya banyak. Ada listrik, komputer, terus pen tablet, kertas, pensil itu untuk (proses) di kantor, kalo untuk di lapangan, perlu cat, kuas, bahkan brush. Dari awal sampe akhir tu ngga bisa dibilang cuma butuh cat sama kuas aja. Karena ini kerja tim juga,” imbuhnya.

Rich juga menambahkan, bahwa apa mural sama halnya dengan ilustrasi. Dimana hal itu dapat diaplikasikan di mana saja, dan tidak terbatas hanya di dinding. “Untuk aplikasi ilustrasinya, paling umum di dinding. Kedua di lantai. Tapi di luar itu, sebenarnya ada juga yang minta kerjain di kanvas gitu. Ada juga yang minta kerjain di mobil,” pungkas Rich.(Rahma)

Related posts

Leave a Comment