Indonesia-Australia Bekerja Sama Menjadi Economic Powerhouse

Pada 22-26 Mei 2017, Indonesia dan Australia  kembali melakukan perundingan Indonesia- Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA).

Acara yang berlangsung di jakarta ini menghasilkan komitmen antara Indonesia dan Australia untuk bekerja sama di berbagai bidang, bukan hanya memanfaatkan pasar masing-masing, tetapi juga menyasar pasar negara ketiga atau pasar dunia. Prinsip kerja sama ini dikenal dengan economic powerhouse.

Komitmen ini terungkap pada penutupan putaran ke-7 perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) hari ini, Jumat (26/5) di Jakarta. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Deddy Saleh, sementara Delegasi Australia dipimpin oleh Trudy Witbreuk.

“Prinsip ini terus digodok dan akan diperjelas nantinya dalam berbagai program kerja sama di bawah Chapter Economic Cooperation,lanjut Deddy Saleh.

Deddy juga mengatakan, pada putaran ke-7 perundingan IA CEPA Indonesia dan Australia berhasil menyelesaikan perundingan dengan menghasilkan pembahasan yang cukup positif di semua grup pembahasan, termasuk isu terkait kerja sama ekonomi (economic cooperation/EC). Dengan demikian, kedua delegasi optimis dapat menyelesaikan perundingan di akhir tahun 2017.

Salah satu perkembangan baik dari putaran ini adalah disepakatinya elemen yang akan menjadi dasar penyusunan konsep teks kerja sama ekonomi (EC). EC ini merupakan bagian integral dari perundingan dan yang membedakan IA CEPA dari Free Trade Agreement (FTA) lainnya. Pada FTA hanya terdapat soal akses pasar, sedangkan dalam CEPA terdapat pasal “Kerja Sama Ekonomi” sehingga  Indonesia dapat memetik manfaat positif dengan negara mitra tersebut,” tegas Deddy.

Deddy menambahkan , pada putaran ke-7 ini kedua negara menghasilkan pembahasan yang signifikan, baik dalam pembahasan akses pasar maupun pembahasan text agreement. Untuk itu, diharapkan perundingan ini membawa kedua negara satu langkah lebih dekat menuju penyelesaian. “Jika pada putaran lalu masih terdapat sesi pertukaran pandangan, putaran ini telah mengerucut pada tahapan pembahasan teks dan perundingan akses pasar,” imbuh Deddy.

Isu utama IA-CEPA yang dibahas adalah Perdagangan Barang (termasuk Ketentuan Asal Barang, Prosedur Kepabeanan, dan Fasilitasi Perdagangan, Hambatan Teknis Perdagangan, Sanitari dan Phitosanitari), Perdagangan Jasa (termasuk Jasa Keuangan, Pergerakan Perseorangan, Jasa Keuangan, Telekomunikasi), Investasi, Perdagangan Elektronik, Persaingan Usaha, dan Ketentuan Kerangka Kelembagaan

Kedua negara juga secara intensif membahas lebih mendalam mengenai upaya implementasi kerja sama yang merupakan bagian dari early outcomes IA-CEPA, seperti kerja sama di bidang standar obat dan makanan, produk herbal, dan pemetaan standar.

“Yang penting untuk dilakukan kedua negara saat ini adalah advokasi dan sosialisasi perundingan IA CEPA, termasuk perkembangan implementasi kerja sama early outcomes. Dengan advokasi dan sosialisasi ini diharapkan seluruh stakeholders terkait dari kedua negara dapat menerima manfaat  yang  maksimal  dan  mengetahui  dengan  benar  arti  penting  dari  IA-CEPA  sebagai perjanjian  dagang  yang  komprehensif,  modern,  dan  tidak  bersifat  tradisonal,  serta mengedepankan solusi yang menguntungkan kedua pihak,” jelas Made Marthini, selaku Wakil Ketua Perunding Indonesia.

Terdapat sembilan early outcomes yang akan dibahas perkembangannya dalam pertemuan ini, yaitu kerja sama dibidang pertukaran tenaga terampil, kemitraan bidang ketahan pangan di sektor daging dan sapi, jasa keuangan, rekomendasi  IA-BPG, vokasional, busana dan desain perhiasan, inovasi makanan, standar obat dan makanan, produk herbal, dan pemetaan standar. (hs/Humas Mendag.Foto:Humas Mendag)

 

Related posts

Leave a Comment