Jalan Tol Untuk Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Semakin Berlipat

Medan,Gpriority- Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam pidatonya pada acara Konsultasi Regional Penyusunan Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 Wilayah Sumatera, di Medan, Sumatera Utara, pada Selasa (13/8) mengatakan,”Di Sumatera sedang dibangun Jalan Tol Lintas Sumatera. Kenapa kita butuh jalan tol? Jalan tol tersebut dibangun dengan harapan ekonomi di wilayah Sumatera dapat berkali-kali lipat. Diharapkan jalan tol tersebut dapat menghubungkan simpul-simpul di Sumatera. Misalnya, Kawasan Industri Sei Mangke didesain sebagai pusat pengembangan industri turunan kelapa sawit. Berarti Sei Mangke butuh input Crude Palm Oil (CPO) yang datang dari berbagai tempat, dan supaya palm oil itu sampai di pabrik maka butuh akses, dan akses ini disediakan jalan tol. Kawasan Industri perlu tersambung lancar dengan inputnya, karena kita ingin Sumatera melakukan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.”

Menteri Bambang menjelaskan bahwa pembangunan wilayah Sumatera akan diarahkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mempunyai magnitude ekonomi memadai dengan orientasi daya saing nasional dan internasional serta pengembangan hubungan internasional sebagai outlet di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dengan tujuh strategi utama. “Pertama, mengembangkan komoditas unggulan kelapa sawit, kakao, karet, dan kopi, dan hilirisasi komoditas unggulan yang berpotensi memiliki nilai tambah tinggi. Kedua, mengembangkan potensi pariwisata daerah sebagai motor penggerak pengembangan ekonomi lokal. Ketiga, memperkuat ketahanan bencana pantai barat Sumatera. Keempat, meningkatkan kualitas pelayanan transportasi perkotaan, sanitasi dan air bersih, serta pengelolaan sampah dan limbah. Kelima, pembangunan jaringan jalan tol Lintas Sumatera yang dipadukan dengan jaringan multi moda pelabuhan, bandara, dan jalan non-tol. Keenam, memperkuat konektivitas dan memantapkan sistem logistik wilayah dalam mendukung industrialisasi khususnya di koridor pesisir timur wilayah Sumatera. Ketujuh, mengendalikan alih fungsi lahan dan mencegah pembakaran lahan gambut. Selanjutnya, prioritas pengembangan Sumatera diarahkan pada pengembangan kawasan Metropolitan Medan dan Metropolitan Palembang,” ujar Bambang.

Beberapa isu mendasar Sumatera yang masih perlu ditangani dengan lebih serius adalah belum optimalnya pengembangan industri berbasis sumber daya alamdanpengembangan pusat pertumbuhan ekonomi, belum terwujudnya Commodities Trading House terintegrasi, belum stabilnya harga komoditas karet dan sawit yang diikuti turunnya kualitas produk, kurang kompetitifnya harga gas untuk industri sehingga menghambat laju produktivitas industri terutama di Sumatera Utara, masih tingginya ketimpangan pembangunan di Sumatera bagian barat dan tingkat kemiskinan di Sumatera bagian utara, belum terwujudnya konektivitas intrawilayah dan hubinternasional sebagai pintu gerbang perdagangan dan jasa, belum berkembangnya dengan baik potensi kawasan pariwisata berbasis ekonomi lokal, tingginya potensi bencana yang belum sepenuhnya diantisipasi dengan mitigasi dan adaptasi, masih terdapatnya praktik illegal fishing, human trafficking, dan narkoba terutama di perbatasan, serta masih rendahnya capaian akses layanan dasar perumahan dan permukiman.

Masih rentannya ketahanan fisik dan sosial kota atas perubahan iklim, bencana dan polusi, serta akibat kesenjangan dan kemiskinan perkotaan, belum optimalnya tata kelola dan kelembagaan pengelolaan kawasan metropolitan, degradasi lingkungan yang diakibatkan alih fungsi lahan menjadi perkebunan, pembukaan lahan hutan secara ilegal, pembakaran lahan gambut, serta masih perlunya peningkatan pengelolaan dan kualitas belanja dana APBD sebagian daerah dan dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh. Pulau Sumatera juga dihadapkan pada isu alih fungsi hutan gambut yang tinggi, yaitu mencapai lebih dari 20 persen. Untuk itu, sejak 2015 Pulau Sumatera telah memberlakukan moratorium lahan gambut. Permasalahan lainnya terkait lingkungan hidup adalah isu laju deforestasi yang tinggi yang diakibatkan oleh adanya kompetisi lahan pertanian dan perkebunan termasuk sawit yang menjadi komoditas utama dalam mendorong perekonomian nasional. (Hs)

Related posts

Leave a Comment