Kanker Paru Sebabkan Kematian Tertinggi di Dunia

Jakarta,Gpriority-Hari Kanker Paru Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Agustus diperingati oleh seluruh praktisi kesehatan,masyarakat dan juga pemerintah termasuk Perhimpunan Dokter Paru lndonesia (PDPI). Dalam jumpa pers yang berlangsung kemarin (31/7) di Kantor PDPI, Peringatan Hari Kanker Sedunia diadakan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kanker paru.

Kanker paru merupakan kanker dengan angka kematian tertinggi di dunia di antara seluruh kanker. Satu dari lima kematian seluruh kanker disebabkan oleh kanker paru. Sekitar 1,7 juta orang meninggal dalam setiap tahunnya karena kanker paru. Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak menimpa kaum pria. Di dunia, Jumlah kematian kanker paru lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kematian akibat kanker payudara, kanker prostat bahkan masih tinggi bila kedua kanker tersebut digabungkan. Dari seluruh jumlah kanker paru di Indonesia, 11.2% adalah perempuan. Di RSUP Persahabatan sebagai Pusat Rujukan Respirasi Nasional, adalah pusat rujukan kanker paru, angka kunjungan pasien kanker paru meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu.

Faktor risiko terbesar terjadinya kanker paru menurut Dr.Sita L Andarini, Ph.D.Sp.P(K) dokter praktisi spesialis kanker paru dalam jumpa pers yang berlangsung di Kantor PDPI adalah pajanan asap rokok. Faktor risiko lain adalah tinggal ataupun bekerja di daerah yang terpapar karsinogen (silika, pertambangan, bahan kimia, dan lainnya), polusi tinggi.

PDPI menghimbau Pemerintah untuk peduli kanker paru, melalui sistem perundangan pengurangan pajanan tembakau. dan upaya pengurangan polusi udara dan industri, serta upaya perlindungan pekerja yang terpapar karsinogen.

Tidak hanya itu masyarakat juga harus melakukan upaya deteksi dini kanker paru. Masyarakat yang harus melakukan deteksi dini kanker paru adalah Pasien dengan usia menengah (di atas 35 tahun). Perokok aktif atau pasif. Masyarakat yang memiliki risiko tinggi (pajanan bahan kimia, polusi, riwayat kanker pada keluarga. riwayat penyakit paru, bekas TB),atau memiliki gejala respirasi (batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada. pembengkakan di dada, suara serak, dan berat badan turun) yang tidak kunjung sembuh dengan pengobatan biasa.

” Upaya deteksi dini melalui pemeriksaan ke Layanan Primer, Rujukan untuk mendapatkan Foto toraks dan CT-Scan toraks, dan konsultasi ke Dokter Spesialis Paru untuk mendapatkan diagnosis dan terapi kanker paru,” ucap Sita.

Sita juga mengatakan, pengobatan Kanker Paru di Indonesia maju, dan setara dengan pedoman pengobatan Internasional. Hal ini disebabkan Pemerintah telah memberikan perhatian yang sangat besar dengan tersedianya sejumlah fasilitas diagnosis kanker paru dan pengobatan kanker paru melalui sistem jaminan kesehatan nasional, yang terstandar.

Pengobatan dan pelayanan kanker paru, berupa pelayanan menyeluruh multidisiplin, baik pencegahan, dan terapi dan tatalaksana paliatif, misal pengobatan nyeri dan gejala lain yang berkaitan dengan kanker paru. Pengobatan kanker paru, tergantung kepada Stadium (Staging). jenis, dan kondisi pasien. Secara umum pengobatan yang ada adalah: Pembedahan. Radioterapi, Kemoterapi, Targeted Therapy dan lmunoterapi, yang seluruhnya bisa dilakukan di Indonesia, dan hampir keseluruhannya terjamin melalui sistem jaminan kesehatan nasional.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia seperti dijelaskan Dr.dr.Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) Ketua PDPI mengapresiasi Pemerintah melalui pembiayaan sistem jaminan kesehatan nasional dalam diagnosis dan terapi kanker paru, dan menghimbau keberlanjutan serta ketersediaan fasilitas tersebut baik di layanan primer maupun rujukan.(Hs.Foto:Hs)

Related posts

Leave a Comment