Lentera Anak Apresiasi Kabupaten Banggai dan Bekasi Dalam Melindungi Anak dari Iklan Rokok

Jakarta,Gpriority- Sejak Mei 2019, Kab. Banggai telah menurunkan berbagai iklan rokok di wilayahnya sesuai dengan implementasi Peraturan Bupati tentang Penyelenggaraan Reklame Produk Rokok Nomor 15 Tahun 2019. Reklame rokok yang ditertibkan mencakup baliho dan billboard yang terpasang di jalan protokol, jalan lingkungan, serta spanduk rokok yang bertebaran di depan warung dan toko.Menurut data Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banggai, ada 1.491 titik reklame rokok di dalam kota Luwuk, KabupatenBanggai yang telah diturunkan.

Sementara Kabupaten Bekasi telah menerbitkan Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2018 tentang Kawasan Tanpa Rokok,  sebagai payung hukum untuk pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok di daerahnya. Dalam perda tersebut menyebutkan bahwa setiap orang dilarang menyelenggarakan iklan merokok dan produk tembakau baik di dalam ruang dan luar ruang. Sebagai langkah awal untuk implementasi, pemerintah Kabupaten Bekasi tidak lagi memberi izin baru untuk iklan rokok di wilayahnya.

Atas dasar komitmen inilah Kabupaten Banggai dan Bekasi meraih Aulia Pariwara dari Kemenkes pada  saat acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang berlangsung di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (11/7). Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari Yayasan Lentera anak. “Kami sangat mengapresiasi  dan mendukung komitmen Bupati Kabupaten Bekasi  dan Bupati Kabupaten Banggai yang  telah melarang iklan rokok di seluruh wilayahnya. Apalagi diantara 59 penghargaan, hanya dua kabupaten tersebut yang mendapat penghargaan karena kebijakan melarang iklan rokok. Ini merupakan salah satu langkah besar untuk mencegah meningkatnya perokok pemula.” kata Lisda, Ketua Yayasan Lentera Anak di Jakarta beberapa hari yang lalu.

Lebih lanjut dikatakan Lisda, Anak-anak di Indonesia sejak usia belia sudah menjadi  target industri rokok, ini dibuktikan melalui hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 yang menunjukan peningkatan perokok anak usia 10-18 tahun menjadi 9,1%. Salah satu faktor penunjang besarnya angka tersebut adalah karena paparan dari iklan rokok kemanapun mereka pergi.Industri rokok secara sengaja  menempatkan iklan, promosi dan sponsor rokok di jalan menuju sekolah, pusat perbelanjaan, taman, tempat wisata, tempat ibadah, olahraga dan lainnya dimana anak-anak berkegiatan. Survey Lentera Anak di 5 kota pada tahun 2015 menunjukkan 85% sekolah dikeliligi iklan rokok.

“ Kondisi ini menjadikan anak sangat rentan untuk menjadi perokokpemula. Maka dari itu, inisiatif dan komitmen pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mendukung dan mencegah peningkatan perokok anak, salah satunya adalah dengan implementasi kebijakan Kawasan tanpa rokok dan pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok,” tutup Lisda.(Hs)

Related posts