Mendag Enggar Akan Meningkatkan Ekspor Produk Indonesia ke AS

Washington DC,Gpriority– Beberapa hari yang lalu, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita melakukan pertemuan dengan Duta Besar United Stated Representative Robert E. Lighthizer di kantornya yang berada di Washington DC.

Pertemuan yang menjadi agenda puncak kunjungan kerja Mendag Enggar Ke Amerika Serikat (AS) bertujuan untuk membahas upaya peningkatan perdagangan dan pengurangan hambatan perdagangan kedua negara.

“Dubes Lighthizer sangat menghargai dan menyambut baik pendekatan Pemerintah Indonesia untuk bekerja sama meningkatkan hubungan bilateral kedua negara sebagai mitra strategis. Kerja sama Indonesia–AS diharap dapat meningkatkan nilai perdagangan kedua negara yang menurut kami masih sangat rendah dibanding potensi yang ada,” kata Mendag Enggar.

Mendag Enggar juga menyampaikan bahwa Indonesia akan meningkatkan ekspor produk-produk Indonesia yang potensial di Pasar AS. Di sisi lain, Indonesia siap membeli bahan baku dan barang modal produksi AS yang tidak diproduksi di Indonesia untuk mendukung industri di tanah air.

Pemerintah Indonesia menunjukkan kesungguhan untuk meningkatkan kerja sama strategis pada kunjungan kali ini kepada Pemerintah AS dengan membawa pelaku usaha dan melakukan transaksi jual beli produk. Hal itu untuk mendukung proses produksi dan nilai tambah produk Indonesia,baik untuk domestik maupun ekspor.

“Di dalam ketidakpastian ekonomi dunia saat ini, justru Indonesia proaktif memanfaatkan setiap peluang yang ada.Misalnya, dengan mengadakan perundingan perdagangan maupun kerja sama bilateral yang lebih erat antara bisnis dan pemerintah seperti yang kita adakan di Washington DC ini,” tegas Mendag.

Mendag Enggar menjelaskan kepada Dubes Lighthizer isu-isu terkait hambatan perdagangan yang menjadi perhatian Indonesia. Isu-isu tersebut antara lain proses peninjauan ulang terhadap Indonesia sebagai negara penerima skema generalized system of preferences (GSP) dan pengecualian bagi Indonesia atas pengenaan kenaikan tarif impor produk besi baja dan aluminium AS.

“Permintaan mempertahankan GSP untuk Indonesia tersebut tidak hanya untuk kepentingan industri di Indonesia, tetapi juga juga untuk kepentingan industri di AS karena terkait proses produksi domestik mereka, jadi sebetulnya ini kerja sama win-win (saling menguntungkan),” ungkap Mendag Enggar.

Indonesia masih memerlukan GSP untuk meningkatkan daya saing produk di pasar AS. Produk-produk Indonesia yang selama ini menggunakan skema GPS AS antara lain karet,ban mobil perlengkapan perkabelan kendaraan, emas, asam lemak, perhiasan logam, aluminium, sarung tangan, alat musik, pengeras suara, keyboard, dan baterai.

Di tahun 2017, produk Indonesia yang menggunakan skema GSP bernilai USD 1,9 miliar. Angka ini masih jauh di bawah negara-negara penerima GSP lainnya seperti India sebesar USD 5,6 miliar, Thailand USD 4,2 miliar, dan Brasil USD 2,5 miliar.

“Proses peninjauan ulang saat ini tengah berlangsung, oleh karena itu kunjungan kali ini sangat tepat waktunya dan strategis dalam menegaskan kembali arti penting perdagangan kedua negara,” kata Mendag Enggar.

Dalam kunjungan kerja ke AS tersebut, Mendag Enggar juga menggalang dukungan berbagai kalangan bagi keterbukaan akses pasar Indonesia.(Hs)

Related posts

Leave a Comment