MENGUNJUNGI KOKAS

Dari Goa Bekas Perang ke Jalan Lain ke Masjid Patimburak

Mengunjungi distrik Kokas, inspirasi pun bermunculan.Pemandangan laut yang cantik dari atas bukit dapat kita temukan. Juga goa bekas pertahanan serdadu Jepang.

 Jalan darat ke Distrik Kokas cukup baik, sepanjang jalan aspal yang dilalui menambah serunya perjalanan. Jalan darat sepanjang 50 km dari kota Fakfak ke Kokas ini sudah dirintis sejak tahun 1970 an di mana memang di era Bupati Mohammad Uswanas infrastruktur jalan ini terus diperbagus. Bahkan saat saya pergi ke Kokas Sabtu 6 Oktober 2018 nampak pekerja jalan tengah melakukan perawatan dan pelebaran jalan.

Kokas memang menyimpan artefak pra sejarah yang cukup menyita perhatian seperti situs Tapurarang Cap Tangan Darah, namun saya belum sempat mengunjungi daerah tersebut. Artefak lukisan Cap Tangan Darah itu terdapat di daerah Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras yang masih masuk wilayah Distrik Kokas.

Dalam literatur dijelaskan, Kokas atau Kokah menurut bahasa orang asli sana yang artinya isi, lantaran Kokas menyimpan berbagai hasil di peruk Bumi, Kokas juga merupakan Distrik tertua di Kabupaten Fakfak semenjak Mimika dan Kaimana berdiri sendiri menjadi Kabupaten, Distrik tertua yang sedang diperjuangkan menjadi suatu Kabupaten baru yang terpisah dengan Kabupaten Fakfak .

Kokas atau Kokah yang berarti “Isi”, sesuai dengan namanya memang benar kalau Distrik tertua di Kabupaten Fakfak menyimpan berbagai kekayaan alam yang tersimpan dan dapat dikelola menjadi sumber objek wisata yang terpendam.

Goa yang terletak di perut bukit menantang untuk dimasuki. Gelap gulita di dalamnya bukanlah halangan, masih bisa menggunakan lampu dari telepon seluler. Situs sejarah lainnya yang dapat dikunjungi adalah Masjid Tua Patimburak yang dibangun pada tahun 1870 oleh Imam Abuhari Kilian. Pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara Jepang. Buktinya kejadian tersebut dapat terlihat dipilar Masjid yang terdapat lubang bekas peluru.Di kampung yang dihuni tak lebih dari 49 kepala keluarga.

Masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturnya, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja. Masjid TuaPatimburak kini telah mengalami beberapa kali renovasi namun tetap mempertahankan bentuk aslinya seperti empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid. Masjid Tua Patimburak, merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di Kokas dari pengaruh kekuasaan Sultan Tidore.

Akses menuju Distrik Kokas, penerbangan pesawat dari Jakarta melalui rute bandara Soeta Jakarta menuju bandara Edwar OsokkotaSorong, selanjutnya penerbangan berganti pesawat yakni pesawat Wings air menuju bandara Torea Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. Bandara Torea termasuk bandara yang runway-nya tidak begitu panjang, kapasitas pesawat besar tidak bisa masuk. Dari bandara Torea alangkah baiknya menginap dulu semalam sebelum dilanjutkan ketujuan distrik Kokas, sambil menikmati Fakfak malam hari di mana lampu-lampu listrik menyala dengan indah. Saya membayangkannya buah-buah pala menyala di malam hari, sayang di kota Fakfak sendiri pohon pala sudah mulai jarang kecuali di Torea dan kampung Sebrang atau biasa tukang ojek menyebutnya Bakeko. Banyak hotel dan penginapan di Kota Fakfak dengan harga terjangkau, ada satu hotel bintang tiga memang yakni hotel Grand Papua Fakfak. Hotel lainnya adalah Hotel mini Kokas, Hotel HAWAI dan banyak lagi relatif harganya cukup murah, apalagi kalau agak lama mau tinggal di Fakfak.

Jangan lupa juga penerbangan pesawat dari Fakfak ke Sorong cukup sulit pemesanan dianjurkan seminggu sebelum.Ini lantaran pesawat dan penerbangan di Fakfak memang terbatas, jadi berebutan tentunya.Atau bisa juga naik kapal Pelni dulu dari pelabuhan Fakfak ke kotaSorong, sekitar 14 jam jarak tempuh. Pastikan tahu jadwal kapal laut yang berangkat ke kota Sorong, bisa dicek di kantor Pelni di kota Fakfak. Angkutan kota di Fakfak tersedia, ojek juga relatif ongkosnya berkisar 5 ribu sampai 10 ribu untuk hanya di kota Fakfak. Nah kalau untuk menuju Kokas bisa menggunakan jasa angkutan kota dari terminal yang khusus menuju Kokas( bukan terminal Tumburuni yang di dekat jalan baru). Dari terminal itu ongkos angkutan kota menujuKokas, pelabuhan atau terminal di Kampung Sosar Rp.35 ribu, bila nyewa tadi atau sejenis mobil pribadi ongkosnya lumayan mahal bisa nyampai 1, 5 juta an. Jadi sebaiknya saya anjurkan naik angkutan kota. Perjalanan pergi lebih banyak turunan. Jarak tempuh tidak lebih dari 1, 5 jam. Di distrikKokas yang digadang-gadang akan menjadi daerah OTONOM BARU, banyak peninggalan sisa jaman perang dunia kedua, seperti goa peninggalan serdadu Jepang dan bekas meriam. Sayangnya jejak-jejak perang seperti besi-besi dan bekas benteng 90 persen sudah tak ada, ini lantaran kurangnya kesadaran untuk menjaga artefak sejarah, seperti diutarakan Pak Hasan, warga Kokas sendiri.

Hal lain yang mengesankan di distrikKokas, bisa naik ke bukit bekas pertahanan para pejuang dulu dan juga bekas serdadu Jepang menjadikannya basis perlawanan untuk mengintai musuh. Dari situ pemandangan laut dan pulau-pulau di sebrang distrik Kokas, alangkah cantiknya.

Saya menginap di rumahBaharudin Iha, seorang nelayan yang katanya juga pernah lama di Jakarta dan punya istri orang Sukabumi, di mana sebelumnya beliaulah yang mengantar saya jadi jurumudi Jhonson/ ketinting menuju masjid Patimburak.#

Related posts

Leave a Comment