Merawat Tradisi Pasar Mambunibuni dengan Sistem Barter Hasil Bumi asli budaya fakfak

di saat era digital yang serba instan ini, siapa yang menyangka kalau di daerah Papua Barat lebih tepatnya di Fakfak terdapat sebuah pasar tradisional yang masih menjalanakan sistem perekonomiannya dengan sistem barter atau tukar menukar barang. Sistem ini sudah menjadi budaya mereka, sistem barter ini sudah ada sejak nenek moyang mereka dahulu. Maka sudah menjadi budaya bagi warga fakfak untuk melakukan sistem barter ini.
Pasar Mambunibuni di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat, mempertahankan kearifan lokalnya menggunakan sistem barter dalam perdagangannya. Pasar Mambunibuni ini terletak di antara lembah dan hulu sungai.
Dari sungai itulah menjadi jalan masuk bagi warga pesisir atau kepulauan, dengan menggunakan perahu ukuran sedang, bermesin memasuki ke Mambunibuni, dengan membawa hasil pangan dari laut, seperti ikan segar, ciput, ikan kering, atau ikan asap, dan kerang.

Sementara, pangan di darat seperti sagu, sayur-sayuran, pisang, umbi-umbian, sirih, pinang, dan kapur yang menjadi hal yang selalu wajib ada di tanah Papua. Di bawa ke pasar untuk melakukan barter yang hanya di lakukan seminggu sekali, yakni pada hari sabtu saja.
Pasar barter ini di mulai pada pukul 05.00 WIT, semua masyarakat telah siap. Namun, tidak akan ada yang memulai proses tawar menawar atau tukar menukar sebelum ada komando dari kepala pasar. di tengah kerumunan itu ada bapak Baltasar Hegemur sebagai Kepala Pasar Mambunibuni, yang dipercaya sebagai komando dimulainya proses barter.

Pasar barter akan di mulai jika bapak baltasar mengatakan “Hur wa regni biwo in opeh rangge dewedop opeh rajeh?” yang berarti ‘mereka sudah turun dari gunung dan dari pantai, sudah turun semuakah belum?’ dan jika ia menyebut “rajeh” yg berarti ‘mulai’ maka pasar barter baru bisa memulai proses barter tersebut.

Pasar ini akan berakhir pada jam 09:00 WIT. Setelah kepala pasar membunyikan tanda bahwa telah berakhirnya kegiatan barter hari ini di pasar Mambunibuni. Warga masyarakat fakfak berharap agar pasar barter ini jangan sampai hilang, karna pasar barter ini bisa mempertemukan pantai dan darat ‘gunung’. pasar ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pada hari itu saja, tidak ada yang di rugikan dari salah satu pihak. barter tidak boleh hilang, walaupun keuntungan sedikit, tapi nilai-nilai budaya dan tradisi yang harus di pertahankan. #riri

Related posts

Leave a Comment