Napak Tilas Peradaban

Jakarta,Gpriority-Selasa (25/6), pelukis asal Yogyakarta Priyaris Munandar menggelar pameran tunggalnya di Gedung A Galeri Nasional, Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Pameran yang berlangsung hingga 15 Juli 2019 merupakan kerjasama Sarasvati Art Communication & Publication, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Galeri Nasional Indonesia, Studio Lir Ilir234, dan PT. Pos Indonesia.

Untuk pameran ini, Priyaris mengangkat tema Napak Tilas Peradaban, dalam kaitannya dengan perayaan 400 tahun Batavia -Jakarta- (1619-2019). Pameran Napak Tilas Peradaban ini menghimpun 35 karya seni lukis Priyaris Munandar yang diciptakannya mulai dari 2016 hingga 2019. Seluruh lukisan itu terbuat dari cat akrilik di kanvas pelbagai ukuran.

Dijelaskan oleh Priyaris yang ditemui usai press tour, lukisan yang dipamerkannya pada saat ini merupakan bentuk seni untuk menghablurkan gagasan dan permenungannya tentang peradaban dan perniagaan dunia.

Lebih lanjut dikatakan Priyaris, sejak  kecil dirinya tidak pernah kehabisan cerita dari kakek-neneknya. Dongeng-dongeng kebudayaan Jawa dan Tionghoa serta cerita tentang tanah kelahirannya, Sidorejo, Yogyakarta, menjadi salah satu yang kerap dikisahkan padanya. Dari situ, ia mulai gemar menonton dan mengoleksi film-film silat Tiongkok dan buku-buku cerita tentang kebudayaannya. Kisah-kisah inilah yang mengendap dalam diri Priyaris remaja ketika masuk Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta dan melanjutkan kesenangannya belajar melukis di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Dalam karya-karya pria kelahiran pria kelahiran 27 Februari 1978, tokoh-tokoh dengan rupa dan atribut yang erat dengan kebudayaan Tionghoa kerap mengemuka. Sosok-sosok bernuansa kolosal ini tak jarang hadir di benaknya setelah berjalan ke situs-situs purbakala di sekitar Yogyakarta, termasuk di antaranya makam Kyai dan Nyai Bon Tei. Suami-istri keturunan Tionghoa itu konon merupakan orang pertama yang membuka perkampungan Mbotitan yang kelak menjadi Sidorejo.

Dalam perjalanan tersebut, Priyaris kerap membayangkan dirinya sebagai peneliti yang tengah mengeksplorasi situs-situs tersebut, hingga hal-hal yang dilihatnya kemudian diolah menjadi pokok soal yang akan tertuang pada karya. Situs-situs itu kemudian dijelajahinya lagi lewat teks-teks sejarah dan legenda.Teks-teks tersebut, alih-alih langsung menggambarkannya, ia malah memerdekakan dirinya untuk membuat penciptaan sendiri. Di lain waktu, ia kadang melepaskan laku riset dan membiarkan kegelisahannya pada banyak hal memuncak. “Energi ini tidak saya tolak, saya biarkan mengalir ke atas kanvas,” tutupnya. (Hs.Foto:Hs)

 

 

Related posts

Leave a Comment