ORANG SUNDA DI WONDAMA

Ada Paguyuban Pasundan atau kumpulan orang-orang Sunda di Kabupaten Teluk Wondama  Papua Barat (PAPAS WONDAMA). Pelantikan pengurusnya dilaksanakan Tanggal 22 Oktober 2016 oleh bupati Bernadus Alkhatib Imburi.

 Selanjutnya kata Kang Edi Junaedi, ketua atau pupuhu PAPAS WONDAMA pengurusnya akan dikukuhkan Gubernur  Jawa Barat Ahmad Heriawan, Tanggal 11 Maret 2017 di Manokwari.

“ Tanggal 25 Desember 2016 PAPAS WONDAMA ambil bagian dalam PAM NATAL 2016. Yakni ikut menjaga ketertiban di 3 gereja besar yang ada di Wondama,” ungkap Kang Edi yang sehari-harinya PNS di Bagian Hukum dan HAM Setda Teluk Wondama,.

Dalam rangka kegiatan pengamanan Natal tahun lalu itu kata Kang Edi, ternyata hanya PAPAS WONDAMA satu-satunya organisasi kesukuan yang melakukan hal tersebut. “ Berbagai ucapan terima kasih datang silih berganti termasuk dari Bapak Kapolres Teluk Wondama dan dari beberapa pimpinan SKPD. Kami bangga bisa melakukan itu di saat negeri ini sedang mengalami masalah intoleransi, “ tambahnya saat dihubungi baru-baru ini.

APA ITU SUNDA

Istilah “Sunda” menurut Ajip Rosidi (2011) dalam “Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda” menunjuk kepada suku bangsa yang berbahasa dan berkebudayaan yang khas, terutama tinggal di daerah yang disebut Jawa Barat dan Banten.

Ada juga yang mengatakan Sunda itu artinya “suka dandan”. Gemar bersolek. Mungkin itu sekadar candaan.

Yang jelas setiap orang Sunda yang datang atau merantau ke Kabupaten Teluk Wondama,Papua Barat apa pun pekerjaannya, sejatinya memiliki semangat kolektif. Semangat ini bukan semangat eksis-eksisan, melainkan terlebih bertumpu pada semangat sosial di mana di ranah perantauan terbangun jati diri sebagai keluarga orang Sunda. Saling memberi semangat dan saling membantu menjadi watak orang Sunda Wondama yang tercerahkan karena kebutuhan hidup. 

Setiap pendatang  yang coba cari peruntungan di perantauan, berusaha giat bekerja. Bekerja sebagai apa saja. Misal menyebut bebarapa sosok saja, Kang Sapto dari Cianjur yang sudah sejak tahun 1990, dan merupakan orang Sunda pertama di Teluk Wondama bekerja sebagai tukang nasi Goreng di Wasior. Atau, Kang Irfan dari Segog, Sukabumi, yang bekerja menjadi penjaga di hotel Waskam. Ada juga Kang Yayan tukang teralis dari Subang. Kang Misbah jadi tukang ojeg.

Ada Kang Andri Danramil yang juga orang sunda berasal dari Bandung. Ada kang Wahyudi, ada kang Ujang yang punya toko. Dan banyak lagi profesi lainnya, mulai dari kelas menengah status sosialnya sampai kelas pekerja. Ada kang Heriyanto orang Purwakarta yang jadi syahbandar di pelabuhan Wasior.

Tempat mereka berkumpul atau sekretariat tidak resminya, yang biasanya diadakan di sebuah penginapan pinggir bandara, tepatnya di Wasior Kampung. Penginapan Waskam ini dikelola oleh kang Ujang, asli Garut, yang juga mengelola sebuah toko di samping penginapan tersebut.

Orang-orag Sunda di Teluk Wondama membentuk sebuah perhimpunan untuk mempererat jaringan sosial di antara mereka. Perhimpunan atau paguyuban ini diberi nama PAPAS WONDAMA atau Paguyuban Pasundan Teluk Wondama.

Dalam satu kesempatan,  Kang Heriyanto yang menjabat sebagai sekretaris di perhimpunan tersebut mengatakan, “Tujuan pembentukan paguyuban ini adalah untuk kepentingan jaringan sosial dan ekonomi di antara urang Sunda.”

“Dua tahun yang lalu paguyuban ini didirikan tepatnya 20 Oktober 2013,” kata Kang Heriyanto yang sejak tahun 1997 telah menjadi warga Teluk Wondama.

Menurut Kang Heriyanto yang asli orang Purwakarta ini saat ditemui di Pelabuhan Wasior, “Perhimpunan ini tujuan utamanya untuk sosial. Misalnya saling tolong menolong sesama orang Sunda, bahkan saling memajukan kegiatan ekonomi di antara mereka.”

“Juga telah dibentuk koperasi untuk para anggota,” tambah Kang Heri.

Keberadaan PAPAS WONDAMA ini juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Pemkab Teluk Wondama, termasuk menjadi pengisi karnaval saat ulang tahun kabupaten. Acara-acara kesenian juga kerap digelar, misalnya saat ulang tahun paguyuban.

Menurut Kang Heri kira-kira orang Sunda yang terdata di Paguyuban ada sekitar 50-an kepala keluarga, belum lagi masih ada yang belum terdata atau belum masuk menjadi anggota.

Kabupaten Teluk Wondama menjadi kabupaten yang begitu terbuka untuk para pendatang. Tidak hanya orang Sunda, ada juga dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, dan Toraja. Selain itu pendatang dari Maros dan Buton. Profesinya bermacam-macam juga. Ada yang berdagang di pasar maupun menjadi tukang ojeg.

Tidak bisa tidak, kehadiran kaum pendatang mendorong roda pembangunan suatu daerah semakin maju, baik dari sisi perekonomian maupun budaya. Kata Kang Edi Junaedi, bupati Bernadus Imburi juga memberikan perhatian terhadap kaum pendatang.

Perlu diketahui, pasca banjir bandang 2010 yang menghantam kota Wasior dan sekitarnya, pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama dipindah ke Rasiey. Bencana banjir bandang tersebut sangat mematikan, dimana ratusan jiwa melayang dan hilang terbawa arus atau tertimbun material. Meskipun demikian, kota Wasior tetap menjadi pusat keramaian perekonomian, karena pembangunan terus dilakukan pasca banjir itu.

Masyarakat Wondama berangsur-angsur sudah pulih dan berusaha melupakan kejadian yang menjadi bencana nasional tersebut. Salah satunya adalah kang Wahyudi, orang Sunda yang sudah menetap bahkan jauh sebelum terjadinya banjir bandang tersebut. Kang Wahyudi bahkan matanya berkaca-kaca saat disinggung peristiwa tersebut, di mana ia sendiri yang Alhamdulillah bisa selamat dengan anak dan istrinya berkat pertolongan Allah padahal rumah dan kekayaannya hancur. Ia berhasil lari tunggang langgang dan mencari dataran lebih tinggi.

Perjalanan ke Teluk Wondama atau Wasior ini dapat ditempuh dari bandara Soekarno Hatta dengan menumpang pesawat komersial, waktu tempuh kira-kira 4,5 jam untuk sampai di bandara Rendani Manokwari, kota yang menajadi ibukotanya provinsi Papua Barat. Dari bandara Rendani perjalanan dilanjutkan dengan naik ojeg untuk sampai di Pelabuhan Manokwari dengan ongkos Rp25 ribu.

Selanjutnya perjalanan melalui jalur laut dengan menumpangi Kapal Pelni Labobar. Ada beberapa jenis kapal laut untuk sampai di pelabuhan Wasior, di antaranya ada kapal cepat seperti Gracelia. Tapi yang sejenis kapal besar seperti Pelni selain Labobar ada juga Ngapulu. Tapi, bila hendak ke Wasior sebaiknya tahu jadwal keberangkatan kapal laut tersebut terlebih dahulu. Waktu tempuh dari Pelabuhan Manokwari ke pelabuhan Wasior kira-kira jarak tempuh 8 jam, dengan ongkos kelas ekonomi kalau naik kapal Pelni Rp86 ribu saja.#GP/LAS

Related posts

Leave a Comment