Pameran Sejarah, Visualisasi Ekspresi Pahlawan dan Tokoh Perempuan

Sesuai dengan program penguatan karakter pendidikan berbasis sejarah seperti yang tertuang di butir nawacita, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Perempuan Pendidik Seni Indonesia dari Komunitas 22 Ibu menggelar pameran sejarah dengan tajuk “ Visualisasi ekspresi pahlawan dan tokoh perempuan”.

Menurut Direktur Sejarah, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dra. Triana Wulandari, M.Si, pameran ini didasari oleh kesadaran jika sejarah tidak selamanya hanya ditanamkan melalui bahasa tulisan melainkan juga melalui pendekatan “ history of images” yang diwujudkan melalui karya-karya visual yang sarat akan spirit sejarah.

Lebih lanjut dikatakan oleh Triana Wulandari, membangun kesadaran akan nilai-nilai sejarah sebagai penguatan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme tidak saja dalam bentuk tekstual, namun juga dapat disajikan dalam berbagai media, seperti film, komik, aplikasi digital, elektronik, sosio-drama, acara, lawatan, ekspedisi, dan kali ini melalui visualisasi ekspresi teknik Gutha Tamarin  dalam kain sutra dengan mengangkat pahlawan nasional dan tokoh perempuan Indonesia.

Pameran yang dikuratori Citra Smara Dewi ini menghadirkan 12 pahlawan nasional, 16 tokoh pejuang pergerakan, dan 6 tokoh insprasi dari 34 perupa.

“Pemilihan sejumlah tokoh tersebut atas dasar pertimbangan keterwakilan daerah-daerah seluruh wilayah Indonesia, pahlawan nasional yang telah ditetapkan pemerintah, dan tokoh pergerakan serta perjuangan mewakili kewilayahan Indonesia yang beragam,” ujar Citra Smara Dewi.

Karya yang dipamerkan memiliki keragaman ekspresi mulai dari pendekatan realisme, dekoratif, hingga sentuhan kubisme. Hal menarik dari karya yang dipamerkan adalah penggunaan Teknik Gutha Tamarin, yaitu pengembangan teknik batik  menggunakan bahan dasar berupa biji buah asam yang dihaluskan. Bubuk asam kemudian dihaluskan dan dicampur air secukupnya dan sedikit lemak nabati atau margarin menjadi sejenis pasta.

Fungsi dari pasta ini sebagai pengganti perintang cairan lilin yang digunakan pada teknik batik tradisonal di tanah air. Perbedaan mendasar dengan teknik batik tradisional tidak menggunakan kompor sehingga sering disebut dengan teknik “batik dingin”. Teknik Gutha Tamarin dipadukan dengan goresan kuas, sehingga terdapat konsep mixed media antara teknik batik dan lukis dalam kain sutra. Memadukan berbagai teknik dalam karya  seni rupa (mixed media) merupakan upaya membangun kreativitas di kalangan seniman. Tantangan berat dalam eksplorasi gutha tamarin dan goresan kuas dalam kain sutra, adalah menghadirkan kekuatan karakter wajah tokoh sehingga resiko kegagalan relatif tinggi. Namun kesungguhan hati, komitmen, motivasi, dan sikap kerendahan hati menerima masukan antar peserta selama proses berkarya merupakan cerminan proses pembelajaran karakter yang patut diapresiasi. (Hs)

 

 

Related posts

Leave a Comment