Perempuan Pilar Harapan Bangsa

Kaum perempuan memiliki posisi strategis, sebagai obor dan pilar harapan mencapai tujuan bersama sebagai bagian dunia menuju 2030.

Hal tersebut mengemuka di acara Wadah Global Gathering (WGG), Jakarta, Rabu-Jumat (21-23/3). Salah satu penggagasnya Anie Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan, Indonesia, termasuk salah satu dari 193 negara dunia yang ikut mengesahkan kesepakatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (2015) tentang Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 2030, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

“Apalagi bagi WADAH, pendidikan sudah menjadi perhatian utama sejak awal berdirinya. Melalui pendidikan tersebut WADAH bertekad memperjuangkan kemajuan masyarakat yang termarjinalkan; mengurangi kemiskinan dan kesenjangan yang ada di komunitas mereka,” kata Anie.

WGG merupakan ajang pertemuan dari banyak individu penggiat dan pemerhati sosial serta organisasi sosial dalam jaringan internasional Yayasan Wadah Titian Harapan (WADAH).

Yayasan WADAH, didirikan pada tahun 2008 oleh Ibu Anie Hashim Djojohadikusumo. Bertujuan untuk membawa harapan dengan membantu kaum perempuan menolong diri mereka sendiri dalam upaya menciptakan perubahan jangka panjang untuk membentuk masa depan yang lebih baik bagi kehidupan mereka dan keluarganya.

Yayasan Wadah juga memperoleh status konsultatif khusus untuk ECOSOC – UN (Economic and Social Council – Dewan Ekonomi & Sosial PBB).

WGG kali ini dilaksanakan di Jakarta, dari taggal 21-23 Maret 2018. WGG pertama yang dilakukan di Bali (2012) berbicara mengenai kemiskinan. Pertemuan ke-2 diselenggarakan di Yogyakarta (2015) dengan tema pendidikan (education). Maka pada pertemuan yang ke-3 ini akan membahas peran perempuan dalam mencapai tujuan global 2030.

Sesi pertemuan WGG membahas tujuan global menyangkut (1) Tidak ada Kemiskinan; (2) Bebas Kelaparan (3) Mutu Pendidikan (4) Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik (5) Energi Terjangkau dan Bersih, dan (7) Kesetaraan Gender.

15 perempuan dari berbagai negara di antaranya berasal dari India, Nepal, Bhutan, Indonesia, dan Filipina yang mempunyai pengalaman langsung dilapangan diseputar masalah kemiskinan, kelaparan, pendidikan, kesehatan dan masalah sosial lainnya akan menjadi narasumber dalam pertemuan ini.

“Hanya dengan mengerti dan mendengar pengalaman mereka apa adanya serta menghargai serta memperdulikan perasaan, harapan dan impiannya, maka kita dapat memperoleh esensi dan jalan keluar yang tepat,” ungkap Anie Hashim.

Kata Anie, yang sangat menarik dari WGG ini adalah, mayoritas yang hadir adalah para perempuan, baik dari berbagai Negara Asia yang memiliki permasalahan sosial, juga dari negara-negara maju. Secara bersama, sesuai dengan jenis masalah yang dihadapinya, mereka akan membahas dan bertukar pengalaman untuk memperoleh solusi tepat.

Selain anggota WADAH International Committee, dan para undangan lainnya, Prabowo Subianto hadir memberikan sambutan.

“Secara alami perempuan selalu memberi perhatian kepada anak-anak dan keluarga. Itu yang membuat gerakan perempuan menjadi penting karena ia selalu fokus pada kesejahteraan keluarga yang artinya kesejahteraan rakyat juga terjamin,” kata Prabowo.

Senada dengan itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam sambutannya mengatakan, “Gathering 2018 ini mengumpulkan pekerja-pekerja sosial dari belahan dunia kita di ibu kota jakarta punya banyak sekali tantangan dan juga pengalaman”, Ujar Anies Baswedan di Hotel Millenium, Jakarta, Jumat (23/03/2018).

Anies berharap pertemuan-pertemuan seperti ini akan memberikan manfaat.

“Pesertanya hadir dengan membawa pengalaman pengetahuan atas masalah-masalah yang berbeda di berbagai tempat dan ini merupakan proses pembelajaran karena itu saya mengapresiasi wadah global gathering harapan yang susah mengadakan kegiatan ini”, tambah Anies.###

Related posts

Leave a Comment