Plesiran Ning Cirebon dan Semarang

“Plesiran Ning Cirebon dan Semarang” adalah bahasa Cirebon yang memiliki arti bepergian ke tempat wisata yang berada di Cirebon dan Semarang. Sengaja judul di atas digunakan dikarenakan pada idul fitri 1438 hijriah, penulis bersama keluarga pergi ke dua daerah tersebut.

Namun bukan sembarangan tempat wisata yang didatangi oleh penulis, namun tempat wisata bersejarah yang terdapat di Cirebon dan juga Semarang. Sengaja penulis membawa keluarga ke sana, agar keluarga penulis terutama anak mencintai dan mengenal peninggalan sejarah bangsa.

Penulis sendiri berangkat dari Jakarta sehari sebelum lebaran, tepatnya jam 12.30 WIB. Pada hari itu, jalanan nampak lengang bahkan Tol Cipali yang kemarin diberitakan macet total hingga Brebes nampak lenggang. Alhasil pada pukul 15.00 WIB, penulis tiba di rumah saudara yang tinggal di Palimanan, Kabupaten Cirebon.

Pancuran Daris, Desa Balarante, Palimanan, Cirebon

Keesokan harinya seusai shalat idul fitri, penulis bersama keluarga menuju Pancuran Daris yang terletak di Desa Balarante, Palimanan, Kabupaten Cirebon. Untuk menuju ke sana bisa menggunakan sepeda motor, becak dan mobil.

Mengenai alasan mengapa penulis mengajak keluarga ke Pancuran Daris, dikarenakan Pancuran Daris adalah sebuah situs peninggalan Pangeran Cakrabuana (Eyang Sapujagat)  yang terletak di RT03/02 Desa Balerante Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat Indonesia.

Oleh masyarakat sekitar, air yang terdapat di Pancuran Daris dipercaya mempunyai kekuatan mistik yang bisa membawa keberkahan bagi semua orang. Untuk itulah setiap malam jum’at banyak sekali wisatawan yang datang ke sana hanya untuk sekedar mandi atau mencuci muka.

Pancuran Daris juga memiliki kolam ikan yang airnya sangat bening dan berasal dari mata air. Menurut Kuncen Pancuran Maksudi (58), air di dalam kolam ini tidak akan pernah keruh meskipun hujan turun terus menerus.

Selain itu, di Pancuran Daris juga terdapat 17 makam yang posisinya menghadap ke arah kiblat. Menurut Maksudi, makam tersebut merupakan petilasan para tokoh yang membantu Pangeran Cakrabuana mengislamkan Cirebon.

Keraton Kasepuhan, Kasepuhan Cirebon

Siang harinya, penulis melanjutkan perjalanan wisata ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya

 Untuk menuju ke sana, terbilang cukup mudah bagi Anda yang menggunakan kereta api bisa turun di stasiun kejaksaan atau bagi yang menggunakan bus umum bisa turun di terminal Harjamukti Cirebon dilanjutkan dengan naik angkutan umum D4, Anda sudah tiba di Kasepuhan.

Setibanya di sana, jangan lupa membeli tiket. Sebab untuk masuk Kasepuhan Anda diwajibkan untuk membeli tiket.  Di Kasepuhan, Anda bisa melihat pintu gerbang utama Keraton Kasepuhan Cirebon yang terletak di sebelah utara dan pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks. Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut lawang sanga (pintu sembilan). Setelah melewati Kreteg (jembatan) Pangrawit akan sampai di bagian depan keraton. Di bagian ini terdapat dua bangunan yaitu Pancaratna dan Pancaniti.

Puas berkeliling di depan keraton, Anda bisa langsung mengunjungi museum-museum yang ada di dalamnya. Ada Museum Kereta Singa Barong yang menyimpang kereta kuda peninggalan zaman Kesultanan Cirebon. Lalu, ada juga Museum Benda Kuno yang menyimpan benda-benda kuno Kesultanan Cirebon, seperti alat kesenian dan alat-alat perang. 

Anda juga bisa mengunjungi sumur tempat mandi Sunan Gunung Jati yang letaknya tidak jauh dari gedung utama. Menariknya, air sumur ini tidak pernah kering, dan oleh masyarakat setempat airnya dipercaya dapat memberikan rezeki dan membuat awet muda apabila dibasuh ke muka.

 

Makam Sunan Gunung Jati, Gunung Jati, Cirebon

Tidak lengkap rasanya kalau ke Cirebon tidak mampir untuk berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Jalan Raya Sunan Gunung Jati, Astana, Cirebon.

Makam ini sendiri terdiri dari sembilan tingkat dan pada tingkat kesembilan inilah Sunan Gunung jati inilah dimakamkan. Di makam ini terdapat pula pasir malela yang berasal dari Mekkah. Menurut juru kunci, pasir ini dibawa langsung oleh Pangeran Cakrabuana (Putera Prabu Siliwangi) dari Mekkah. Lebih lanjut dikatakan oleh juru kunci, ketika pengunjung keluar dari tempat ziarah, diwajibkan untuk mencuci kaki. Hal ini bertujuan agar pasir tidak terbawa keluar kompleks.

Makam Sunan Gunung Jati memiliki gaya arsitektur yang cukup unik, karena memiliki kombinasi Jawa, Arab dan Cina. Arsitektur Jawa terdapat pada atap bangunan yang berbentuk limasan. Arsitektur Cina nampak terlihat pada dinding makam dan sepanjang jalan makam yang penuh dengan hiasan porselen serta keramik. Nah untuk arsitektur Timur Tengah bisa terlihat pada hiasan kaligrafi yang terdapat pada dinding makam dan bangunan makam.

Keunikan lainnya bisa terlihat dari sembilan pintu makam yang tersusun bertingkat. Masing-masing pintu memiliki nama yang berbeda-beda yakni pintu gapura, pintu krapyak, pintu pasujudan, pintu ratnakomala, pintu jinem, pintu rararoga, pintu kaca, pintu bacem, dan pintu kesembilan bernama pintu teratai. Semua pengunjung hanya boleh memasuki sampai pintu ke lima saja. Sebab pintu ke enam sampai ke sembilan hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati sendiri.

Komplek makam ini juga dilengkapi dengan dua buah ruangan yang disebut sebagai Balaimangu Majapahit dan Balaimangu Padjajaran. Balaimangu Majapahit merupakan bangunan yang dibuat oleh Kerajaan Majapahit sebagai hadiah bagi Sunan Gunung Jati sewaktu beliau menikah dengan Nyi Mas Tepar Sari. Sedangkan Balaimangu Padjajaran merupakan bangunan yang dibangun Prabu Siliwangi sebagai hadiah bagi Sunan Gunung Jati ketika diangkat sebagai sultan di Kesultanan Pangkuwati ( Kesultanan yang menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Cirebon).

Lawang Sewu, Komplek Tugu Muda, Semarang  

Puas berkeliling kota Cirebon, penulis melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Setelah menempuh jarak kurang lebih 249,2 kilometer, sampailah kami di Kota Semarang.

Di sana, kami langsung menuju objek wisata Lawang Sewu. Bangunan peninggalan Belanda ini nampak terlihat megah sehingga membangkitkan jiwa petualang penulis untuk menelusurinya.

Lawang sewu dibangun pada tahun 1904 dan ditempati pada tahun 1907. Lawang Sewu dibangun untuk  kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, sebuah jawatan perkereta apian swasta milik Belanda pada masa itu. Namun begitu Jepang menduduki Indonesia, Lawang Sewu berubah fungsi menjadi tempat peristirahatan tentara Jepang. Sedangkan ruang bawah tanahnya digunakan untuk pembantaian penduduk pribumi dan tentara Belanda.

Entah karena bekas pembantaian, bangunan yang memiliki jumlah pintu sebanyak seribu dikenal sebagai tempat wisata yang sangat angker. Saking angkernya beberapa stasiun televisi nasional sering menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat uji nyali.

Kini kesan image angker ingin dibuang oleh Pemkot Semarang dan KAI sebagai pemilik Lawang Sewu dengan pemugaran gedung dan pemasangan lampu. Para pengunjung pun hanya diperbolehkan untuk berkunjung ke sana hingga pukul 21.00 sedangkan para pemandu wisata mistis dirubah menjadi pemandu wisata.

Selain itu di Lawang Sewu kini banyak digelar event-event besar, mulai dari Fashion Show, penyuluhan, dan banyak lagi kegiatan lain demi memperlihatkan bahwa Lawang Sewu sebagai bangunan bersejarah dengan arsitektur mengagumkan daripada gedung dengan misteri yang sangat kental.

Sam Poo Kong, Simongan, Semarang

Tidak perlu jauh-jauh ke negeri Cina untuk melihat bangunan bergaya arsitektur Tiongkok, karena di Semarang terdapat sebuah tempat wisata yang memiliki desain arsitektur bergaya Tiongkok, namanya Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Simongan, Semarang Barat.

Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Di Sam Poo Kong terdapat empat Kelenteng yang dapat dikunjungi yakni Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kyai Jangkar. Ketika Anda berkunjung ke Sam Poo Kong jangan lupa untuk menyiapkan kamera, pasalnya area di lingkungan Sam Poo Kong memiliki spot foto yang bagus.

Selain itu Anda juga bisa berfoto atau berjalan-jalan dengan menggunakan pakaian cina, karena pihak pengelola menyediakan tempat penyewaan baju khas Cina di dekat loket utama. Harganya terbilang standar yakni Rp.100.000,-.

Puas berkeliling Sam Poo Kong, penulis memutuskan untuk kembali ke tempat oleh-oleh, karena besok pagi harus kembali lagi ke Jakarta.(HS.Foto: Lin/Yos.Budpar Cirebon)

 

 

 

 

 

 
   

Related posts

One thought on “Plesiran Ning Cirebon dan Semarang

  1. Izin komen ya, saya selalu senang membaca artikel bertema wisata, tapi kalau bisa foto-foto keindahan alamnya juga diperbanyak ya supaya bisa tahu keindahan alamnya juga disana.

Leave a Comment