Raved: Pengonter Stereotip Niqab

Sebagai salah satu community partner dalam ajang Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2018, fashion show yang digelar oleh Islamic Fashion Institute (IFI) menjadi salah satu pagelaran yang mencuri perhatian pengunjung. Pasalnya, peragaan busana tersebut memamerkan hasil karya perancang-perancang muda yang notabene baru saja lulus dari IFI.

Dua belas lulusan IFI yang terpilih tersebut menampilkan tema busana yang sangat unik dan berbeda satu sama lain. Dari mulai busana muslim dengan tema liburan, pernikahan, hingga futuristik.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah busana karya Lydia Marissa. Dengan mengangkat tema Raved, ia sempat membuat penonton terpukau dengan keberaniannya memadupadankan niqab, atau yang mungkin sebagian orang kenal dengan cadar, dengan hoodie hingga sepatu boots. Warna yang ia coba tonjolkan pun lebih cenderung menggunakan warna khaki dan abu-abu.

Stereotip pemakaian niqab di Indonesia memang cenderung lebih ke arah tertutup, dark, dan shy. Niqab sendiri masih jarang sekali digunakan oleh perempuan muslim Indonesia. Kesan arabic culture serta adanya pandangan paham agama tertentu, membuat busana muslim dengan pemakaian niqab bukanlah suatu hal yang lumrah dan terkesan terbatas dengan mode yang itu-itu saja di Indonesia.

Namun, kali ini Lydia mencoba untuk mengonter paradigma maupun stereotip yang selama ini ada di Indonesia. Kesan wanita tangguh dan pemberani justru nampak dari gaya busana yang ia pamerkan. Ditambah aksesoris tas selempang kain, menambah kesan adventurer dan independent. Busana muslim dengan menggunakan niqab pun tentunya menjadi modern dan keren.

Svarga dan Acuan Tren Busana Muslim Global

Mengangkat tema Svarga, MUFFEST 2018 memiliki visi untuk menjadi pusat fashion muslim bersekala global. Presiden Joko Widodo yang turut membuka acara fashion show tahunan ini  memuji bahwa busana muslim yang didesain dari Indonesia sangatlah luar biasa dan sangat digandrungi oleh banyak orang, baik nasional maupun internasional. Ia pun yakin bahwa Indonesia bisa menjadi pusat busana muslim dunia.

Menurut presiden ke tujuh Indonesia tersebut, akan lebih baik lagi jika fashion muslim di Indonesia dapat memadukan mode tradisional dan modern. “Saya mau titip beberapa hal. Marilah kita bekerja sama agar busana muslim di Indonesia ada ciri khas keindonesiaannya,” ungkapnya. Selain itu, menurutnya tren busana muslim juga harus mencakup dan bersinegri dengan sektor lain.

Irna Mutiara dari Indonesian Fashion Chamber (IFC) mengaku merasa sangat senang karena acara tersebut, banyak sekali dukungan dari pihak pemerintah untuk memajukan industri fashion muslim Indonesia. “Kami sebagai pelaku di industri fashion, diberi apresiasi ya dengan kedatangan beliau (pemerintah). Jadi kami sangat semangat,” ujarnya.

Guna meningkatkan daya saing di pasar global, MUFFEST mencoba untuk  mengarahkan produk-produk fashion muslim di Indonesia pada ready to wear craft fashion dengan mengoptimalkan kekayaan budaya lokal yang tentunya mengacu pada Muslim Fashion Trend. Acara ini juga tentunya merupakan ajang fashion muslim bertaraf internasional. MUFFEST ditujukan untuk mengangkat keragaman gaya dan tren busana muslim hasil karya desainer dan brand pakaian muslim Indonesia sebagai bentuk upaya dalam mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat fashion muslim dunia di tahun 2020.

Diselenggarakan pada 19 hingga 22 April 2018, acara ini  telah diikuti oleh kurang lebih 55.000 pengunjung. Pihak pemerintah yang turut mendukung antara lain Badan Ekonomi Kreatif (Bekraft) Indonesia, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Republik Indonesia, dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Rangkaian kegiatan di MUFFEST sendiri amatlah meriah dan meliputi fashion show, exhibition, talk show, seminar, community gathering, dan masih banyak lagi.(RA)

Related posts

Leave a Comment