Re Kreasi Garis di Galnas

Galnas,Gpriority-Pada 4-16 September, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar pameran hasil karya para sketchers se–Indonesia di Gedung B dan C Galeri Nasional Indonesia.

Para sketchers peserta pameran ini, sebagian tergabung dalam komunitas-komunitas seni rupa, baik skesta maupun seni rupa lainnya. Seperti KamiSketsaGalNas, Bogor Sketchers, Cianjur Sketcher, Indonesia’s Sketchers Jogja, Semarang SketchWalk, Urban Sketchers Medan, Urban Sketchers Semarang, Urban Sketchers Blitar, Urban Sketchers Surabaya, Beranda Seni Online, Kolcai Chapter Gorontalo, dan Perupa Gorontalo. Sebagian peserta lainnya merupakan para sketchers individual. Para peserta tersebut diantaranya adalah Romo Muji, Yusuf Susilo Hartono, Toto BS, Tatas Sehono, Bambang Harsono, Daniel Nugraha, Dharr Chedharr, Deskamtoro, Harry Suryo, Iwan Widodo, Nashir Setiawan, Seto Parama Artho, Jevi Alba, Donald Saluling, Duki Noermala, Zamrud Setya Negara, dan lain-lain. dalam pameran ini juga menampilkan karya-karya para maestro sketsa Indonesia yang dihimpun dan diundang secara khusus untuk memberikan presentasi sejarah sketsa di Indonesia. Diantaranya adalah karya-karya Srihadi Soedarsono, Ipe Ma’aruf, Tedja Suminar, dan karya-karya sketsa yang dikoleksi oleh Galeri Nasional Indonesia/Koleksi Negara seperti karya S. Sudjojono, Oesman Effendi, Henk Ngantung, Tohny Joesoef, X-Ling, dan lain-lain. Sedangkan karya-karya sketsa yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan karya sketsa yang mengutamakan garis, dengan objek beragam seperti gedung/bangunan/monumen, suasana/lanskap, aktivitas, dan figur/potret.

Sketsa dalam pameran ini menurut Kurator Beng Rahadian merupakan representasi wacana perkembangan sketsa dari masa ke masa secara general. Sejauh manapun sketsa berkembang, ada konteks akar seni yang dapat ditelusuri.

Jika dilihat dari tulisan kuratorial Bambang Budjono, penelusuran sketsa di Indonesia terkait dengan dengan latihan melukis di Keimin Bunka Sidhoso (KBS) pada masa Kependudukan Jepang di Indonesia. Ono Saseo mengajak para perupa keluar dari studio dan menggambar langsung objek dan peristiwa di luar ruangan. Dari latihan Ono Saseo itulah muncul sketser-sketser andal antara lain Sudjojono, Affandi, Sudjana Kerton, Henk Ngantung, dan Soerono. Meski KBS telah bubar akibat Jepang kalah perang, namun semangat menggambar sketsa diteruskan oleh SIM (Seniman Indonesia Muda), ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta, juga lembaga pendidikan seni rupa di Bandung yang kini menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (Institut Teknologi Bandung).

Rentetan perkembangan dan eksistensi sketsa yang dipaparkan Bambang kemudian berlanjut hingga masa kini. Menurut Beng Rahadian, perkembangan terakhir bagaimana sketsa kini adalah munculnya sketsa-sketsa urban, yakni dikerjakan oleh warga (urban) yang menggemari kegiatan menggambar sketsa dengan cara sendiri maupun berkelompok, berciri hybrid, ia melepaskan diri dari kuasa akademis yang cenderung definitif. “Kemunculan sketsa-sketsa urban ini tidak lagi mengutamakan fungsi bahwa sketsa merupakan bagian dari sebuah studi atau rencana karya selanjutnya, atau marka artistik sketsa yang (biasanya) hanya terdiri dari garis spontan yang dilakukan secara singkat dan tidak ada kegiatan memperindah baik dengan arsir, blok atau warna. Sketsa urban menjadi sebuah kegiatan yang mengumpulkan semua teknik menggambar dan mengutamakan kesenangan. Hal ini memunculkan sebuah upaya meredefinisi pemahaman mengenai seni sketsa, nilai-nilai lama bertemu dengan nilai baru yang tidak tercegah.

Yang jelas, apapun bentuk sketsa di zaman ini, aktivitas menggambar sketsa dapat dikatakan marak, terlebih dengan penggunaan media sosial yang membantu mempercepat penyebarannya. Meminjam istilah Bambang yang menggunakan kata ‘virus’ untuk menyebut aktivitas menggambar sketsa yang kini marak, menurutnya, virus itu kini menyebar, dan menumbuhkan komunitas-komunitas sketsa di sejumlah kota.

Berbagai komunitas sketsa yang telah ada di Indonesia kini berusaha dikumpulkan oleh Galeri Nasional Indonesia melalui Pameran Sketsa “[Re]Kreasi Garis”. Dipaparkan Teguh Margono, pameran ini setidaknya menunjukkan dua hal: pertama, infrastruktur seni seperti ruang pameran sketsa menjadi penting kehadirannya. Terbukti, kehadiran “[Re]Kreasi Garis” mendapatkan sambutan dan respon positif dari para sketchers di Indonesia, khususnya yang telah lama berkecimpung di dunia sketsa. Kedua, aplikasi yang dikirimkan oleh para sketchers di Indonesia, bagi Galeri Nasional Indonesia bisa dijadikan data awal untuk memetakan penyebaran pegiat/komunitas sketsa di berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut menjadi penting dalam konteks pameran ini sebagai langkah awal menuju penyelengaraan sebuah Festival Sketsa oleh Galeri Nasional Indonesia di masa mendatang.

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto menuturkan, pameran ini ingin melakukan jelajah pemetaan seni rupa melalui karya-karya sketsa di Indonesia sebagai fungsi sketsa yang sangat kompleks, bukan hanya sebagai perekam kejadian tetapi lebih lanjut sebagai ungkapan visual yang artistik, hingga merepresentasikan identitas bangsa. Selain itu pameran ini merupakan suatu wujud peran pemerintah melalui Galeri Nasional Indonesia dalam mengapresiasi sekaligus mengukuhkan penghargaan atas eksistensi karya sketsa beserta dedikasi para sketchers Indonesia dalam dunia seni rupa.

Dengan diselenggarakannya pameran sketsa ini, Pustanto berharap kegiatan ini dapat memberikan kesempatan bagi publik untuk lebih memahami sketsa, baik dari segi kesejarahan maupun berbagai wujud eksplorasinya yang tak terbatas. Selain itu juga diharapkan pameran ini mampu menginspirasi dan memberikan motivasi bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menemukan potensi serta melibatkan diri untuk berkreasi di bidang-bidang yang disenangi, juga bagi para sketchers khususnya untuk terus mengasah dan mengembangkan keahlian di bidang sketsa.(Hs.Foto:Hs)

 

 

Related posts

Leave a Comment