Sinergi Swasta dan Pemerintah Dalam Membangun Kesehatan Kota Tangerang

Tangerang,Gpriority-Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Raker Kesda)2018 yang digelar di Aula Dinas Kesehatan Tangerang bertujuan untuk membangun sinergitas pemerintah dan pihak swasta dalam rangka mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) melalui percepatan eliminasi tuberkulosis, penurunan stunting, serta peningkatan cakupan serta mutu imunisasi.

Raker Kesda dibuka oleh Wali Kota Arief R. Wismansyah. Beliau menegaskan bahwa penanganan masalah kesehatan memerlukan kerjasama semua pihak tidak terkecuali para pengelola RS yang ada di kota Tangerang. Untuk itu, Arief sangat menyayangkan ketidak hadiran beberapa pengelola RS Swasta.

“Coba tunjuk tangan peserta dari rumah sakit swasta ada berapa orang, jabatannya apa? Kemana direkturnya?,” tanya Arief kepada para undangan.

Raker ini menurut Arief bertujuan untuk merumuskan program kerja kedepan yang akan dilakukan oleh seluruh rumah sakit di Kota Tangerang. “Hanya mengalokasikan 1 hari dalam setahun masa enggak bisa,” tegur Arief.

“Seharusnya pihak RS pun juga bisa bersinergi dalam menangani persoalan kesehatan,” tambahnya.

Arief berharap, sosialisai terkait masalah kesehatan bisa juga diberikan kepada para siswa sekolah selain tentunya kepada orang dewasa.

“Karena pengajaran yang ditanamkan sedini mungkin bisa menjadi kebiasaan yang baik kedepannya nya, bahkan bisa membawa dampak untuk keluarga siswa itu sendiri. Semoga mereka bisa menjadi agen-agen yang paham tentang budaya hidup sehat,” imbuh Arief

Menutup sambutannya, Arief berharap agar pelaksanaan Raker Kesda tingkat Kota Tangerang bisa semakin meningkatkan derajat hidup masyarakat.

“Semoga dengan terselenggaranya Raker Kesda, kota Tangerang bisa semakin baik dan warganya semakin sehat dan sadar akan budaya hidup sehat,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr Liza Puspadewi menerangkan bahwa penanganan persoalan kesehatan memerlukan sinergitas dan inovasi dari semua pihak, seperti contoh kasus stunting dimana diperlukan penanganan yang serius dan komprehensif.

“Dinas Kesehatan melalui puskesmas memberikan pendampingan khusus dalam menanganinya. Satu kader satu penderita, supaya angka dapat terus ditekan dan Alhamdulillah penderita stunting terus berkurang hingga 80%,” tutup Liza.(Hs)

Related posts

Leave a Comment