Smart City Menuju Indonesia Digitalisasi

Jakarta,Gpriority-Rabu (6/11) Gerakan menuju 100 Smart City yang berlangsung di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan resmi ditutup.

Dalam sambutannya  Rikard Bagun perwakilan dari Kompas/Gramedia Group mengatakan,  Smart City bisa terjadi karena proses dan dukungan dari pemerintah. Untuk itulah dirinya meminta agar sinergi ini bisa terus terjaga.

Rikard juga mengatakan, makna kota cerdas akan hilang jika tidak saling menghormati dan gotong royong. Karena itu kita harus peduli dan berbagi. Kota Cerdas ini harus terus dirawat. Dan jika dikomitmenkan perawatan ini akan terus meningkat.

Menurut Yusanto selaku perwakilan dari Kemendagri, Indonesia adalah negara besar dan kita harus merawat dan mengembangkannya dengan benar. Salah satunya  dengan menggunakan digital teknologi dalam melaksanakan tugas aparatur negara.

Kemendagri seperti dituturkan Yusanto juga  menganalisis posisi Indonesia yang masih perlu ditingkatkan terkait dengan teknologi berdasarkan urutan dunia. Untuk meningkatkan itu, pemerintah pusat telah melakukan berbagai upaya salah satunya dengan meluncurkan online single submission  (OSS) untuk meningkatkan pelayanan publik.

Terkait dengan Kota cerdas atau Smart City, Yusanto menjelaskan bahwa ini merupakan proses pendayagunaan teknologi secara terpadu antara pemerintah, masyarakat dan swasta dalam pelayanan publik.

“Tanpa adanya komitmen, maka kota cerdas tidak akan terwujud. Sehingga terjadi tumpang tindih dalam pelayanan publik,” ucap Yusanto.

Untuk mendukung smart city, kemendagri telah memerintahkan kepada kepala daerah untuk menerapkan OSS. Kemendagri juga melakukan bimtek kepada pelaksana Smart City yang ada di Indonesia, dan memfasilitasi Smart City menuju Asean, sehingga terwujud Smart City lintas provinsi hingga negara.

Kemendagri  juga sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh kominfo, Kompas dan berbagai pihak yang sudah mendorong terjadinya Smart City.

Menkominfo Johnny G Plate dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah memberikan dukungan yang kuat untuk memastikan Indonesia menuju kota cerdas dengan enam karakter yang ingin dicapai.

Untuk mewujudkan Smart City, Kominfo telah melakukan peresmian palapa ring beberapa waktu lalu. Kominfo juga akan meneruskan pembangunam BTS sebanyak 3444  di wilayah 3T.

Dalam waktu yang tidak lama pemerintah melalui Kominfo juga akan memberikan jaringan telekomunikasi dengan satelit multifungsi yang akan dilaunching pada tahun 2024 sehingga akses internet dan digital telekomunikasi bisa diakses dengan cepat. Sehingga mampu memberikan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di saat yang sama daerah yang masuk ke dalam Smart City dapat memastikan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. ” Kita berharap Smart City bisa terus terbangun meskipun dengan susah payah dengan tantangan yang tidak mudah karena global ekonomi tidak ideal untuk pembangunan dikarenakan perang dagang,” ucap Johnny.

Johnny juga mengatakan bahwa Kominfo pada saat penutupan ini merasa bangga karena melalui kegiatan ini bisa mendorong kabupaten/kota menuju smart city sehingga pelayanan masyarakat bisa semakin meningkat.

“Hal ini penting karena 63 persen penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Sehigga pelayanan digital diperlukan.Digitalisasi akan mempercepat proses dalam memaksimalkan layanan kepada pemerintahan,” tambah Johnny.

Gerakan menuju 100 Smart City seperti dituturkan Johny mendorong pemerintah daerah memberikan pelayanan secara cepat kepada masyarakat. Pemerintah daerah juga semakin serius dalam mewujudkan kota cerdas. Mewujudkan kota cerdas memang tidak mudah, namun kominfo berusaha untuk mewujudkannya sehingga akses internet bisa digunakan siapa saja.

” Kita juga harus memastikan master plant Smart City bisa dilaksanakan dengan benar. Kiranya pelaku kepentingan bisa berkolaborasi demi kepentingan bersama, demi terwujudnya Indonesia menuju digitalisasi, ” tutup Johnny.(Hs.Foto:hs)

Related posts