Sohun Aren: Usaha Turun Temurun Desa Manjung

Desa Manjung, Klaten terkenal dengan sebagai sentra industri mi sohun sejak puluhan tahun lalu. Sohun khas Manjung ini bahkan sudah merambah hingga ke negeri tetangga, Malaysia. Bahan baku aren pun menjadi ciri khas dan cita rasa tersendiri dari mi sohun lainnya.

Kurang lebih 68 tahun silam, pria bernama Slamet Somo Suwito memulai usahanya untuk pembuatan mi sohun. Sebelumnya, ia hanyalah seorang pekerja di pabrik mi sohun milik saudagar kaya keturunan tionghoa. Keinginannya untuk memproduksi sendiri mi sohun di desa asalnya, yakni Desa Manjung, nyatanya justru menjadikan mi sohun sebagai penopang perekonomian warga Desa Manjung hingga kini.

Rekam jejak keberhasilan Slamet yang juga dikenal sebagai “bapak sohun” tersebut, rupanya turut membawa Dedy Mustofa untuk merintis usaha mi sohun di desa tersebut. Menurut Dedy, sentra industri sohun yang ada di Desa Manjung ini bahkan sudah menjadi lapangan pekerjaan tetap bagi warga sekitar. Bahkan, hingga di luar Desa Manjung sendiri. “Di luar manjung, ada. Tapi tidak memproduksi. Mereka mengemas dan memasarkan,” tutur Dedy.

Kualitas Alami dari Aren

Di berbagai daerah, mi sohun diproduksi dengan menggunakan berbagai macam bahan baku seperti jagung, sagu, dan lain sebagainya. Ciri khas dari mi sohun kebanggaan Desa Manjung ini adalah bahan bakunya yang justru terbuat dari aren. Menurut Dedy, pemilihan aren sebagai bahan baku utama pembuatan sohun di Desa Manjung tentunya untuk mempertahankan kualitas yang sudah ada dari masa produksi pertamanya. Selain itu, aren dianggap lebih unggul dalam rasa dan memiliki kualitas ketahanan lebih baik dari bahan baku seperti sagu. “Pernah dicoba dengan sagu, malah ngga laku. Aren itu lebih unggul soal rasa karena lebih manis dan tahan lama. Ketahanannya bisa sampai 24 jam sesudah dimasak,” jelasnya.

Namun, bahan baku aren tersebut tidak didapat langsung dari Desa Manjung maupun Kabupaten Klaten. Dinas Koperasi yang ada di wilayah tersebut telah bekerja sama dan membantu para pengusaha mi sohun untuk mendapatkan bahan baku aren dari sejumlah daerah seperti Temanggung, Pekalongan, dan Purwokerto.

Menurut Dedy, walau bahan baku utamannya menggunakan aren, namun proses pembuatannya tak jauh beda dengan pembuatan mi sohun pada umumnya. “Proses pembuatan sama seperti sohun pada umumnya. Bedanya pada pembersihan tepung yang lebih lama dari (tepung) sagu,”papar Dedy. Keunggulan lain dari sohun khas Desa Manjung ini adalah warnanya yang putih alami. “Pemutihnya yang (jadi) keunggulan dari aren. Hasilnya dari aren itu jadi warna putih tulang,” ujar Dedy.

Pupularitas Sohun Desa Manjung

Dengan kualitas produk yang sudah tak diragukan lagi, mi sohun Desa Manjung telah dipasarkan di sejumlah daerah. Menurut Dedy, mi sohun dari Desa Manjung biasa dipasrkan di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Tidak hanya di dalam negeri, melalui sejumlah agen, mi sohun Desa Manjung ini berhasil diekspor hiingga ke negeri jiran, Malaysia.

Tak cukup sampai di ranah pasar, popularitas mi sohun ini pun telah menarik beberapa pihak untuk berkunjung dan melakukan studi banding. “Kalau yang studi banding itu sudah ada dari jaman Presideen Soeharto,” ungkap Dedy. Ia juga menceritakan bahwa pada Desember 2017, terdapat kunjungan dari negeri Tiongkok dan pemerintah Malaysia ke sentra industri mi sohun di Desa Manjung. (RA)

Related posts

Leave a Comment