Stop Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Berdasarkan data yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),  dan juga Komnas Perempuan,  angka kekerasan terhadap anak serta perempuan semakin meningkat.

Sungguh ironis melihat negeri kita sekarang, kekerasan terhadap anak dan perempuan semakin menjadi-jadi, bahkan seperti hal yang biasa dilakukan. KPAI mencatat dalam setiap harinya terjadi 13- 15 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan 35 perempuan dalam setiap harinya dikatakan oleh Komnas Perempuan kerap mengalami kekerasan.

Bentuk kekerasan terhadap anak dan perempuan yang dicatat oleh KPAI serta Komnas Perempuan  diantaranya adalah bentuk kekerasan seksual, kekerasan fisik , pembunuhan, perdagangan manusia (human traficking), narkoba, anak-anak jalanan dan sebagainya.

Ironisnya, hampir sebagian besar yang menjadi pelaku penyiksaan bagi anak adalah orang tua, sedangkan untuk perempuan adalah suami ataupun kekasih tercinta.

Bisa di bayangkan 50 tahun kedepan. Sekitar 185.000 jiwa anak dan perempuan akan menjadi korban. Tentu angka ini bisa meningkat tajam, karena di luar sana masih banyak kekerasan verbal maupun non-verbal yang belum terekspos oleh karena kurangnya perhatian masyarakat atas kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Menurut Psikolog A. Kasandra Putranto dari Kasandra Persona Prawacana ada 12 faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan. Yang pertama ancaman hukuman yang relatif ringan dan sistem penegakan hukum lemah.

Kedua, nutrisi fisik hormon yang terkandung dalam makanan masa kini semakin membuat individu anak matang sebelum waktunya, yang sudah matang menjadi lebih tinggi dorongan seksualnya.

Ketiga,tayangan kekerasan, seks dan pornografi melalui berbagai media telah mencuci otak masyarakat Indonesia dengan karakter iri, dengki, kekerasan, dan porno aksi. Termasuk di dalamnya lagu-lagu yang semakin tidak kreatif, isi dan tampilannya hanya seputar paha maupun dada yang semakin merusak mental masyarakat Indonesia.Keempat, Perkembangan internet dan perangkat gadget yang memungkinkan transfer dan transmisi materi porno secara cepat dan langsung ke telapak tangan. Kelima, fungsi otak manusia yang khas, neuro transmitter, kapasitas luhur manusia telah membuat individu menjadi kecanduan seks, terutama pada individu di bawah 25 tahun dalam masa perkembangan mereka. Keenam, memudarnya pendidikan nilai-nilai pekerti dan karakter bangsa Indonesia.  Ketujuh, gaya hidup dan kesulitan ekonomi yang menuntut kesibukan orang tua yang luar biasa. Kedelapan, Persepsi masyarakat tentang pendidikan kesehatan reproduksi dan upaya perlindungan diri cenderung ditolak, diterjemahkan sederhana sebagai pendidikan seks sehingga langsung diabaikan, akibatnya banyak anak-anak serta kaum wanita menjadi korban kejahatan seksual.

Kesembilan, sistem sosial masyarakat yang masih banyak mengandung kekerasan gender atau tokoh otoritas kerap menjadi penyebab makin suburnya praktek kekerasan seksual karena figur laki laki atau tokoh otoritas pelaku kejahatan seksual dianggap tidak bersalah dan lebih menyalahkan perempuan atau korban sebagai penyebab. Banyak kasus kekerasan seksual oleh tokoh laki-laki dan otoritas (kaya atau berkedudukan) justru dimaklumi oleh masyarakat dan bahkan balik menyerang atau menyalahkan korban. Perilaku seperti itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak maupun perempuan. Sepuluh, fakta bahwa kekerasan dan seksualitas bisa terjadi dimana saja, rumah, sekolah, klub olah raga, pengajian, sekolah minggu dan lain lain. Praktek membela diri dan mengalihkan isu kekerasan seksual kepada hal lain justru semakin menyuburkan kekerasan seksual.

Sebelas,persepsi sosial yang berkembang di masyarakat membuat korban tidak berani melapor, akibatnya pelaku pun lepas begitu saja. Alasan masyarakat tidak berani melapor disebabkan tidak ditangani dengan baik oleh pihak aparat keamanan dengan berbagai macam alasan. Dua belas, Hampir tidak ada tindakan berarti sejak kasus RG tahun 1996 yang telah berakibat pada ledakan kekerasan seksual di masa kini.

Kasandra sendiri berharap setelah masyarakat mengetahui apa yang menjadi penyebabnya, dimohon peran aktifnya sehingga kasus kekerasan yang terjadi pada anak dan juga perempuan bisa diatasi.

Senada dengan Kasandra, Ketua KPAI, Asrorun Ni’am Sholeh yang dihubungi via telepon mengatakan bahwa peran serta yang aktif dari masyarakat dan juga orang tua bisa mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Caranya, ajarkan nilai-nilai kebudayaan dan sopan santun kepada anak.  Proteksi tayangan yang berbau porno aksi, pornografi dan kekerasan. serta warga yang melihat dan mengetahui segala bentuk tindak kekerasan terhadap anak segera melapor kepada KPAI. Dan kekerasan terhadap perempuan bisa melapor kepada Komnas Perempuan ataupun Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan anak.

 

Pemerintah bertindak aktif

Maraknya kasus kekerasan yang menimpa anak dan juga perempuan ternyata mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Presiden Jokowi usai melakukan rapat bersama Kapolri, Jaksa Agung dan BNN mengatakan bahwa aparat penegak hukum harus menangani kasus ini dengan sangat luar biasa, karena masuk ke dalam kejahatan luar biasa.

Dituturkan Jokowi, kebijakan baru tersebut bersinergi dengan dengan revisi Undang-Undang Perlindungan Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Perppu-nya baru diproses. UU-nya nanti kami akan revisi, tapi yang paling penting tadi bahwa penanganannya harus dengan cara-cara yang luar biasa,” ujar Jokowi.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan, perppu yang tengah dirancang pemerintah adalah bentuk dari respon banyaknya kasus kejahatan seksual yang marak terjadi belakangan ini.

Ada dua poin pemberatan hukuman yang dimaksud. Pertama, penerapan hukuman mati atau seumur hidup bagi pelaku kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak.

Kedua, memperkuat perlindungan bagi pelaku kejahatan seksual yang masih di bawah umur. “ Artinya, selain diberikan hukuman badan atau penjara, pelaku kejahatan seksual di bawah umur juga akan dikenakan hukuman berupa rehabilitasi psikologis dengan maksud tidak mengulangi hal itu kembali dan kembali ke jalan yang benar,” ujar Puan.

Menurut dia, rehabilitasi psikologis kepada pelaku kejahatan seksual di bawah umur juga merupakan implikasi dari asas perlindungan anak yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise, saat ditemui di Plaza Barat Gelora Bung Karno beberapa waktu yang lalu juga mengatakan, kasus kekerasan pada anak dan perempuan yang bak fenomena gunung es.

Untuk itulah beliau menuturkan, butuh upaya yang lebih besar dengan melakukan strategi khusus. Di antaranya meluncurkan Kampanye Gerakan Perlindungan Perempuan dan Anak.

Ditambahkan Yohana, ada beberapa poin penting yang perlu digaris bawahi untuk kampanye ini.  Yang pertama dukung pengasuhan anak berkualitas, kedua, akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak,  dan terakhir penegakan hukum terhadap perempuan dan anak yang pada saat ini tengah gencar dilakukan oleh pemerintah pusat. Yohana juga mengajak masyarakat terlibat dalam kampanye ini, antara lain dengan memberikan dukungan masif terhadap pembentukan Kota Layak Anak (KLA).

“Di Indonesia, sudah ada 287 kabupaten kota yang menerapkan konsep KLA. Surakarta, Denpasar dan Halmahera Barat sudah menjadi model terbaik yang sudah bisa dicontoh,” kata dia.

Lewat kampanye ini, Yohana mengharapkan angka kekerasan khususnya pada anak bisa ditekan.  HS.Foto:HS

Related posts

Leave a Comment