Terapi Mengantarkannya Menjadi Pelukis Muda

Terapi disleksia yang dilakukannya ketika masih usia 7 tahun mengantarkan Aqil prabowo menjadi seorang pelukis.

Usia Aqil kini menginjak 12 tahun,tetapi karya-karyanya sudah dikenal Indonesia dan mendapat pujian dari para kurator, pelukis nasional. Berbekal alasan inilah penulis berangkat menuju rumah Aqil yang terletak di Jalan pertanian V Lebak Bulus Jakarta. Sambutan hangat dirasakan penulis begitu tiba dirumahnya pada senin (20/3).

Kepada penulis Aqil bercerita bahwa dirinya mulai senang melukis saat mengikuti terapi disleksia. Terapi-terapi tersebut mampu membantu tangan dan kaki Aqil untuk berkoordinasi lebih sering. Dijelaskan oleh Aqil salah satu terapi yang membuatnya terinspirasi untuk menjadi seorang pelukis adalah ketika melakukan terapi menggambar pola dan berjalan kaki.

Seringnya menggambar pola membuat Aqil jenuh sehingga ibunya yang bernama Amalia Prabowo mengajaknya hiking dan berkunjung ke tempat-tempat wisata alam. “ Hiking dan berkunjung ke wisata alam membuat saya banyak menemukan inspirasi,” ujar Aqil.

Dengan spidol dan kertas A4, Aqil mulai menggambar benda-benda hidup, seperti pohon, jamur, dan bunga. Aqil mengatakan gambar-gambar yang dibuatnya ini memiliki pesan agar kita harus selalu mencintai alam, hutan dan lingkungan sekitar.

Tidak hanya alam, Aqil juga melukis berbagai hal yang dilihatnya seperti lele, ubur-ubur dan benda-benda yang dijumpai. Sama seperti alam, dalam lukisan Aqil semuanya memiliki pesan-pesan kebaikan.

Diajak pameran pertama kali oleh komunitas Do Art

Karya-karya Aqil yang bagus membuat komunitas Do Art mengajaknya pameran di Grand Indonesia pada tahun 2014. Sukses dengan pameran pertamanya hingga menyabet penghargaan dari marketers, Aqil pun membuat pameran keduanya, kali ini dia melakukan pameran tunggal untuk memperingati hari ulang tahunnya di Gunung Pancer. Sama seperti pameran pertamanya, solo exhibition yang digelarnya banyak dihadiri oleh orang dan juga media.

Usai solo exhibition banyak tawaran yang datang kepada Aqil untuk melakukan pameran bersama termasuk dari Artotel dan galeri nasional (galnas). Aqil pun mengiyakan tawaran tersebut.

Di Galnas, Aqil menjadi peserta pameran termuda. Meski demikian, karya-karyanya mendapat banyak pujian termasuk dari Menteri Pendidikan, kurator dan pelukis-pelukis lainnya.

Di Artotel, hasil karya Aqil mendapat banyak pujian termasuk dari petinggi Artotel, Marcio. Marcio juga yang menyarankan kepada Aqil agar mau menggunakan kanvas sebagai media lukisannya supaya lukisannya lebih bagus, lebih formal dan memiliki nilai jual.

Saran tersebut dituruti oleh Aqil meskipun diakuinya pada awalnya amat sulit. Namun berkat ketekunan dan ketelatenannya serta niatnya untuk terus berkembang Aqil pun berhasil melukis dengan kanvas.

Sama seperti lukisan di kertas , gambar Aqil di atas kanvas mendapat pujian dan dibeli oleh mereka. Meskipun menuai pujian Aqil tidak besar kepala, justru memotivasi dirinya untuk melukis lebih baik lagi. Dan terbukti, lukisan-lukisan Aqil semakin bagus serta diminati banyak orang.(HS.Foto:HS)

 

 

 

 

 

Related posts

Leave a Comment