Tidak Ada Yang Instan dan Langsung Jadi

Membentuk sebuah band sama sulitnya dengan membuat sebuah usaha tidak ada yang instan dan langsung jadi. Itulah kalimat yang dikatakan Makki Ungu ketika penulis menanyakan awal mula karirnya bersama band ungu.

Kepada penulis yang menemuinya di Maja Residence, Cipete, Jakarta Selatan, pria yang memiliki nama lengkap Makki Omar Parikesit bercerita bahwa dirinya anak pertama dari enam bersaudara yang semuanya berjenis kelamin pria.  “ Yang dua sudah meninggal kini tinggal berempat,”tuturnya.

Pria kelahiran jakarta 23 oktober 1971 ini mengaku pernah tinggal di beberapa daerah di Indonesia karena mengikuti sang  ayah yang selalu berpindah kerja dari daerah satu ke daerah lainnya.

Sejak kecil Makki mengaku menyukai dunia musik, mulai dari piano, drum hingga gitar klasik dia pelajari. Namun diakui oleh Makki hanya gitar klasiklah yang mengena dihati.

“ Kelas tiga SD aku belajar gitar klasik secara otodidak. Dan tidak seperti alat musik lainnya yang pernah kupelajari  yakni langsung bosan dan tidak mau melanjutkan. Di gitar, aku terus memainkan alat musik petik ini,” katanya.

Piawai memainkan gitar klasik, membuat Makki yang saat itu masih duduk di kelas enam SD membentuk band bersama teman-temannya. Di band tersebut, dia menjadi pemain gitar. Namun dalam sebuah acara pentas seni di suatu tempat, pemain bas mereka tidak bisa hadir, Makkilah yang menggantikan posisi tersebut. Seusai acara Makki berkata pada dirinya sendiri “ seru juga menjadi pemain bas”. Dan setelah kejadian itu, dirinya terus memegang bas hingga saat ini.

Diakui oleh Makki, peralihan posisi dari gitaris (pemain gitar) ke bassis (pemain bas) tidaklah terlalu sulit, karena secara teknisnya memainkan bas sama persis dengan gitar.

“ Yang membedakan hanyalah fungsinya, bas untuk menjaga beat sedangkan gitar untuk memberi warna,” ucap Makki.

Di sekolah Menengah pertama, Makki membentuk grup band. Hal yang sama juga dia lakukan ketika menginjak Sekolah Menengah atas di Surabaya, Makki membentuk band  bersama Piyu padi,  dan Ari Lasso. Selepas SMA, Makki melanjutkan studinya di Indiana University, Amerika Serikat. Makki berusaha memperkaya kemampuan bermusiknya disana dengan bermain bersama di sebuah band yang bernama Joint Session. Selain menjadi band keliling di sekitar Midwest, juga menjadi band pembuka dari konser grup musik yang terkenal seperti Toad the Road Sprocket dan John Mallencamn.

Tahun 1996, Makki kembali ke Jakarta. Di sana ia bertemu dengan Ekky. Dan membentuk band bernama Ungu. Di Ungu  itulah dirinya bertemu dengan Pasha, Roman, Oncy dan Enda. Makki menceritakan bahwa sebelum memulai ketenaran banyak sekali duka yang harus dijalani,seperti harus menjual apa saja untuk rekaman, mendapat penolakan dari  label hingga harus mencari panggung-panggung yang mau menampung band Ungu.

“ Yang paling membekas dan terus diingat oleh saya adalah ketika manggung di Serang ditahun 1998. Di sana, kami disuruh turun panggung, “ ujar Makki.

Pengalaman pahit yang dialami oleh Ungu, tidak membuat Makki dan teman-temannya gentar, justru membuat mereka tambah semangat untuk membesarkan Ungu. Hasilnya di tahun 2002, album perdananya yang berjudul “ laguku” meledak dipasaran dan mampu menjual 150 ribu copy. Alhasil album ini mendapatkan penghargaan Platinum Awards.

Tahun 2003, Ungu kembali mengeluarkan album keduanya yang berjudul “tempat terindah. Album ini pun mendulang sukses dengan penjulan mencapai 80 ribu copy di empat bulan pertama setelah diluncurkan.  Dua tahun setelahnya, band asal Jakarta ini meluncurkan album ketiga yang berjudul “Melayang” (2005). Album ini mendongkrak popularitas Ungu di kancah permusikan Indonesia. “Demi Waktu” (2005), yang menjadi single andalan, telah mengantarkan Ungu meraih beberapa penghargaan penting. Salah satunya, penghargaan “MTV Exclusive Artist” versi MTV Indonesian Awards 2005. 

Beberapa label perusahaan rekaman Malaysia sempat memperebutkan hak edar single “Demi Waktu” di negaranya. Ujung kemenangan album ini ditunjukkan dengan diraihnya penghargaan “Album Pop Rock Duo/Grup Terbaik” di “SCTV Award 2007”. 

Ungu juga merilis mini album bertema religi yang berjudul “SurgaMu” (2006). Album “SurgaMu” mendapat apresiasi yang sangat baik. Bahkan oleh mantan Wakil Presiden, Yusuf Kalla.  Sukses dengan album “SurgaMu”, Ungu merilis juga album religi “Para PencariMu” (2007), “Aku dan Tuhanku” (2008).

Ungu juga membuat gebrakan di industri permusikan. Album keempat yang berjudul “Untuk Selamanya” (2007) dirilis di empat negara sekaligus, yaitu di Indonesia, Singapura, Malaysia dan Hongkong. Album ini mengusung “Kekasih Gelapku” (2007) sebagai single andalan dan sukses mengantarkan Ungu sebagai “Band Paling Ngetop” di ajang “SCTV Music Awards 2007”. 

Ketenaran Ungu telah membawa berkah bagi para personilnya termasuk Makki, pasalnya Makki diajak main film Purple Love oleh Kharisma Starvision Plus. 

Membuat Production House

Makki mengaku tengah sibuk mengurus sebuah production house (PH) bersama istrinya Lala Hamid.  PH yang dibuatnya telah mengeluarkan sebuah film yang berjudul Satria Heroes yang baru saja tayang di tahun 2017 ini.

“ Selain film itu, masih ada dua film yang sedang dalam proses. Jadi tunggu saja tanggal mainnya,” ucap Makki.

Diakui oleh Makki menjadi produser itu sangatlah mengasyikkan, karena  dirinya hanya berada dibelakang layar dan tinggal mengurus-ngurus saja.

Meskipun sibuk di Production House tidak membuat Makki melupakan Ungu. Dikatakan oleh Makki, mereka tetap bertemu meskipun pada saat ini personelnya memiliki kesibukan sendiri-sendiri.

“ Kalau ada yang bilang Ungu bubar itu bohong, buktinya hingga saat ini kami masih sering bertemu dan manggung meskipun hanya sebulan sekali,” tuturnya.

Menurut Makki kesulitan yang mereka rasakan selama delapan tahun lamanya, yang menjadikan Ungu tetap eksis hingga saat ini.(HS.Foto:HS/Istimewa)

Related posts

Leave a Comment