Tradisi Sambut Tamu di Nusantara

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan masyarakatnya yang ramah. Keramahannya sudah dibuktikan dalam sejarah. Sejak rentang abad ke-7, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara sudah terlibat perdagangan berskala Internasional dengan pedagang dari TimurTengah, India, Tiongkok, & Eropa. Adanya perdagangan internasional tersebut membuktikan bahwa masyarakat lokal sangat terbuka dengan para “tamunya”.

Sebagai negara yang kaya akan adat dan budaya, Indonesia pun memiliki sejumlah tradisi dalam menyambut tamu. Di setiap daerah, tradisi tersebut dilakukan secara berbeda dan masih bertahan hingga saat ini. Berikut kami rangkum 10 tradisi dalam menyambut tamu di Indonesia.

1Tari Makan Sirih (Riau)

Musiknya merupakan perpaduan anatara suara marwas, biola, gendang, gambus, dan akordian. Akordian dikenal sebagai unsur terpenting dalam musik malaya. Alunan musik melayu tersebut mengiringi sebuah pertunjukan tari, yang disebut Tari Makan Sirih.

Tari Makan Sirih merupakan tarian khas Riau yang digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu. Dalam pertunjukannya, salah satu penari dalam tari persembahan akan membawa kotak yang berisi sirih. Kemudian kotak tersebut dibuka, dan tamu yang dianggap agung diberi kesempatan untuk mengambilnya. Hal tersebut merupakan sebuah simbol penghormatan. Sirih, bagi masyarakat setempat adalah simbol perekat dalam bersosialisasi.

2.Tari Tanggai (Sumatera Selatan)

Dipentaskan oleh lima orang penari, Tari Tanggai merupakan tarian khas yang berasal dari Sumatera Selatan. Para penari mengenakan pakaian adat Sumatera Selatan seperti dodot, songket, kalung, pending, rampai atau kembang urat, sanggul malang, kembang goyang, tajuk cempako, dan tanggai berbentuk kuku.

Dalam tarian ini, tanggai terbuat dari bahan sejenis lempengan tembaga. Tanggai atau kuku palsu yang dikenakan oleh para penari juga merupakan salah satu kekuatan dan keindahan dari tarian khas daerah yang terkenal dengan pempek dan Jembatan Amperanya ini.

Tarian ini dikenal sebagai tarian yang khusus dibawakan untuk menyambut para tamu kehormatan. Melalui tarian ini, tercermin masyarakat wong kito galo yang baik, ramah, panyayang, hormat, dan menghargai tamu yang datang berkunjung ke daerahnya.

3.Upacara Bubuka (Jawa Barat)

Merupakan rangkaian pertunjukan yang menyajikan kolaborasi berbagai jenis kesenian sunda, upacara Bubuka dilakukan sebagai simbolisasi penghormatan masyarakat pasundan untuk menyambut tamu. Upacara ini biasanya diadakan sebagai pembuka dari suatu acara maupun perhelatan.

Diawali dengan dibawakannya gunungan sebagai simbol keasrian Parahyangan, enam orang pria kemudian masuk dengan gerakan koreografi nan gagah. Kemudian para penari wanita mulai menari berpasangan dengan para penari pria. Setiap gerakannya melambnagkan ketangguhan, keindahan, dan keharmonisasian yang ada di bumi pasundan. Bubuka biasanya berlatakan intrumen musik tradisional (waditra) sunda seperti gamelan, gendang, suling, rebab, dan kenongan.

4.Tari Gambyong (Jawa Tengah)

Mulanya, Gambyong merupakan nama dari seorang waranggana yang pandai membawakan tarian indah dan lincah. Waranggana sendiri memiliki arti wanita terpilih atau wanita penghibur. Nama lengkap sang waranggana ialah Mas Ajeng Gambyong.

Gambyongan memiliki arti golekan atau boneka yang terbuat dari kayu. Golekan tersebut menggambarkan wanita yang menari di dalam pertunjukan wayang kulit sebagai penutup pentas. Sementara itu, tari gambyong merupakan hasil perpaduan tari rakyat dengan tari keraton Surakarta.

Umumnya, Tari Gambyong terdiri dari tiga bagian berupa awalan, isi, dan akhir, atau dalam istilah gaya Surakarta dikenal sebagai maju beksan, beksa, dan mundur beksan. Gerak kaki, lengan, tubuh, dna kepala menjadi pusat dari keseluruhan tarian ini. Ciri khas utama dari tarian penyambutan tamu khas Jawa Tengah ini ialah pada gerakan kepala dan tangan yang terkonsep. Gerakan mata, arah jari-jari tangan, serta gerakan kaki yang harmonis membuat tari Gambyong menjadi suatu tarian yang elok dipandang.

5.Tari Pendet (Bali)

Bermula sebagai tari pemujaan di pura, tari Pendet dikenal sebagai lambang penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Seiring perkembangan zaman, tari Pendet “diubah” oleh para seniman Bali menjadi sebuah tarian ucapan selamat datang.

Tari pendet dilakukan oleh pria maupun wanita, baik yang masih belia maupun dewasa. Tarian ini nyatanya tidak memerukan latihan yang cukup intensif, karena menurut masyarakat Bali, Pendet dapat dilakukan oleh semua orang. Tarian khas pulau dewata ini diajarkan sekadar dengan mengikuti gerakan. Para penari yang masih belia mengikuti gerakan penari dewasa. Hal tersebut dilakukan atas kepercayaan bahwa yang lebih dewasa lebih mengerti dan bertanggung jawab untuk memberikan contoh yang baik.

6.Laluhan (Kalimantan Tengah)

Ketika kapal yang berisikan rombogan tamu datang, para pemuka agama Hindu Kaharingan mulai menabur tepung tawar. Merapat ke dermaga, para tamu kemudian disambut dengan lemparan batang suli–sejenis pohon yang bertekstur lembek–oleh warga Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Tradisi ini dikenal sebagai Laluhan.

Laluhan merupakan salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh suku Dayak Kaharingan dalam menyambut tamu. Tradisi tersebut bertujuan untuk menghilangkan segala hal buruk yang kemungkinan mengikuti para tamu tanpa disadari.Selain taburan tepung tawar dan lemparan batang suli, terdapat pula potong pantan yang merupakan prosesi memotong kayu dengan menggunakan senjata khas suku Dayak, Mindau.

7.Henge’do (Nusa Tenggara Timur)

Jika berjabat tangan atau mencium pipi merupakan suatu cara yang lumrah dilakukan ketika bertemu atau menyambut tamu, lain halnya yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, masyarakat Suku Sabu punya cara dan tradisi unik dalam menyambut tamu, yaitu dengan mencium hidung satu sama lain. Dalam bahasa Sabu, tradisi tersebut disebut sebagai Henge’do.

Menurut masyarakat setempat, dengan mencium hidung, rasa keakraban dan rasa keterikatan antara satu dengan yang lain terjalin erat dan terikat dalam makna persaudaraan.Hidung yang digunakan untuk bernapas, diyakini memiliki arti kehidupan.

Tak hanya itu, menempelkan hidung masing-masing merupakan sebuah tanda penghormatan dari yang muda kepada yang lebih tua dan sebagai tanda kejujuran. Masyarakat Sabu juga memaknai bahwa mencium hidung adalah bentuk lain dari permintaan maaf dan saling menghargai. Dengan filosofi tersebut, Henge’do dimaknai sebagai salah satu unsur dalam menghidupkan rasa kekeluargaan, meski baru pertama kali berjumpa.

8.Umapos (Sulawesi Tengah)

Berparang lengkap dengan tameng, kedua lelaki tersebut menghadang kedatangan rombongan tamu yang kian mendekat ke Banggai. Lelaki lainnya berdiri tegap memegang sosuduk –tombak adat berujung lurus. Dengan suara lantang dan menggunakan bahasa Saluan, kedua lelaki tadi kemudian menanyakan maksud kedatangan para tamu.

Mengetahui maksud kedatangannya baik, para lelaki tersebut kemudian menari dan meminta perlindungan. Para tamu tersebut kemudian disambut dengan hamburan beras kuning ke arah wajah dan kepalanya. Dalam bahasa setempat hamburan beras itu disebut mo kakambuhi pae kinini.Selanjutnya, Hoi, sebuah pujian kepada Tuhan, dilantunkan dengan nada berdendang.

Serangkaian adegan tersebut merupakan tradisi khas masyarakan Saluan, Banggai, Sulawesi Tengah, dalam menyambut tamu. Tradisi ini telah dipertahankan sebagai budaya asli Saluan. Dalam pelaksanaannya, tidak sembarangan tamu dapat diterima kedatangannya menggunakan tradisi ini.

9.Tari Orlapei (Maluku)

Merupakan tarian penyambutan tamu khas Maluku, Tari Orlapei umumnya menggambarkan suasana hati yang riang gembira dari masyarakat sebagai wujud ucapan selamat datang.Kombinasi pola lantai, gerakan, serta ritme musik tradisional Maluku –menggunakan Tifa, suling bambu, ukulele, dan gitar– pun merefleksikan ungkapan kegembiraan dengan datangnya para tamu kehormatan.

Menggunakan properti yang disebut Jaga Sagu atau Gaba-gaba (bagian tangkai pohon sagu), Orlapei dimainkan secara serasi, enerjik, dan dinamis.

10.Taware (Papua)

Dengan menggunakan tauri, rok rumbai-rumbai, upauta, dan ikat kepala yang dihiasi bulu burung kasuari atau cendrawasih, serta badan yang dihiasi berbagai motif dari marganya dengan cat putih, mereka mulai menari dengan mengarahkan tamu dengan tombak komando. Suku Kamoro, Papua, menyebutnya sebagai Taware.

Taware dilakukan untuk menyambut tamu yang dihormati. Biasanya, upacara ini diikuti ohingga ribuan orang dan berlangsung secara meriah. Malam harinya, suku Kamoro akan menggelar upacara Tifa Duduk, dimana para tamu akan disajikan aneka ragam hasil bumi, sebagai bagian lanjutan dari Taware.(*)

Related posts

Leave a Comment