Wajah Baru Jakarta International Velodrome

Sebagai salah satu arena pertandingan Asian Games 2018, Velodrome Rawamangun tengah membenahi diri sesuai standar internasional untuk cabang olahraga balap sepeda.

Arena olahraga yang sebelumnya bernama Gelanggang Olahraga Velodrome ini pertama kali didirikan di tahun 1973. Namun kemudian dihancurkan untuk pembangunan stadion baru di tahun 2016. Pembangunan kembali arena balap sepeda tersebut didasarkan pada kebutuhan Asian Games 2018. Sebab, arena  sebelumnya sama sekali tidak memenuhi standar untuk pertandingan olahraga internasional.

“Jadi mulai dibangun ini 2016. Saat itu kontraknya 2 tahun, sampai Juni 2018, dengan kalau dilihat dari progresnya bisa lebih cepat lah,” ungkap Irwan Takwin Project Director Jakarta Propertindo (Jakpro). Velodrome tersebut dibangun kembali dari nol. Tentunya dengan mengikuti standar Internasional dari Union Cycliste Internationale (UCI). “Dulu veledrome lama, tapi tidak sesuai dengan standar internasional, jadi dibongkar total kemudian dibangun baru. Luasnya juga tidak sesuai standar, treknya juga, jadi kita bangun dari nol,” jelasnya.

Manager Corporate Communication Jakarta Propertindo Tito Suharto mengatakan bahwa pihak Jakpro sebagai kontraktor pelaksana dalam membangun Velodrome ini sesuai dengan satndar internasional dan diawasi langsung oleh UCI. “Kalo ini kita diawasi langsung oleh federasi sepeda internasional.  Jadi ini mempunyai standar internasional. Ya kita ikuti terus arah-arah mereka seperti apa,” paparnya. Pemantauan serta pengawasan dari UCI sendiri dilakukan hingga Velodrome ini rampung. Tidak hanya itu, atlet balap sepeda pun juga akan dilibatkan untuk uji coba landasan pacu sepeda.

Desain dan Fasilitas

Berdiri di atas kawasan seluas 5 ha, Velodrome Rawamangun memiliki luas bangunan 1,6 ha. Arena balap sepeda ini didesain oleh seorang arsitek asal Australia. Arena ini dapat menampung hingga 3.500 penonton. Pihak Jakpro sendiri mempercayai tim dari United Kingdom (UK) dan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung sebagai kontraktor pelaksana untuk melaksanakan design and build.

Menurut Irwan, proses desain dan konsep arsitektur Velodrome sendiri melalui tahapan loka karya yang sudah dilakukan sebanyak empat kali. “Grand desainnya, interiornya, kita terbuka,” ungkap Irwan.  Walau dengan desain berstandar internasional, Velodrome tetap mempertahankan filosofi budaya Indonesia. Salah satunya dengan ukiran Betawi di fecade terakotanya.

Kecepatan yang ditempuh oleh para para atlet saat pertandingan adalah diatas 100 km/jam. Untuk itu, salah satu syarat kebutuhan arena balap sepeda adalah arena tersebut harus aman dipakai saat pertandingan. Untuk landasan atau trek balapnya, Jakarta International Velodrome menggunakan Siberian Wood yang diimpor langsung dari Eropa. Kayu tersebut dipilih karena bentuknya yang ringan, kuat, dan halus. Luas dari trek tersebut ialah 250 meter.

Penataan kayu untuk trek balap sepeda itu juga tak bisa sembarangan. Sebab, urutan seratnya harus dirancang searah agar menghindari kecelakaan saat pertandingan. “Artinya kalau atlet mereka terpeleset, jatuh, (landasan sepeda) tidak akan melukai. Dan dia menatanya itu ngga sembarangan. Jadi urutan seratnya itu harus searah,” jelas Tito.

Demi keselamatan para atlet, tidak hanya kayu pilihan yang menjadi bahan dasar trek, terpasang pula barrier yang membentang di sepanjang sisi trek tersebut. Di dalam stadion Velodrome pun terpasang lampu-lampu pemancar dan bangku penonton dengan warna merah dan putih. Jakarta International Velodrome juga dibalut megah dengan atap membrane. Semua bahan-bahan untuk membangun Velodrome ini tentunya sudah melalui tahapan verifikasi oleh UCI terlebih dahulu.

Guna menunjang performa atlet yang mengikuti ajang balap sepeda di Asian Games 2018, Jakarta International Velodrome juga menyediakan fasilitas seperti ruang reparasi sepeda yang juga mengikuti standar internasional. Terdapat pula area komersil dan area penunjang seperti ruang pengelola, klinik, ruang atlet, ruang VIP, toilet, cafetaria, dan function room.

Dalam pengerjaannya, menurut  Irwan, Jakarta International Velodrome menghabiskan dana sebesar 665 Milyar Rupiah. Usai Asian Games, untuk langkah ke tahap pengembangan berikutnya, area Velodrome tidak hanya fokus pada area balap sepeda saja. Menurut Tito dan Irwan, rencananya akan ada pemugaran di area-area pendukung Velodrome seperti lapangan bulu tangkis, jogging track, lapangan basket, dan futsal.

Tito mengatakan bahwa Velodrome merupakan venue yang paling menarik. Untuk itu, perlu dimanfaatkan dengan maksimal. “. Nah venue ini dari awal kita sudah merencanakan, prosedurnya sudah kita ikuti, selanjutnya pemanfaatannya harus maksimal,” ujarnya. Balap sepeda juga merupakan salah sau cabang olahraga dengan kebutuhan standar yang tinggi. Dengan demikian, Tito juga mengatakan bahwa hal tersebut justru dapat menjadi sebuah tantangan bagi para atlet dalam negeri untuk latihan lebih giat karena mereka kini sudah benar-benar didukung untuk menjadi atlet berstandar internasional. (RA)

Related posts

Leave a Comment