Begini Proses Pengadaan Tanah Hingga Terbangun Sirkuit Canggih di Mandalika

Usai diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Jum’at  (12/11/2021), Sirkuit balap yang berlapiskan teknologi aspal terbaru terletak di dalam Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika atau lebih dikenal dengan sirkuit Mandalika resmi dijadikan ajang balap WSBK.

Gelaran yang berlangsung di Sabtu (20/11/2021) berlangsung dengan lancar meskipun hujan deras mengguyur Mandalika.

Tapi tahukah Anda, bahwa pembangunan sirkuit canggih di Mandalika dan infrastruktur pendukungnya tidak terlepas dari pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum yang salah satunya digawangi oleh Kementerian ATR/BPN.

Dilansir dari laman medsos ATR/BPN pada Senin (22/11/2021) pelaksanaan pengadaan tanah ini sesuai dengan ketentuan tahapan dalam pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.

” Penyediaan lahan mengacu pada Undang-Undang (UU) nomor 2 tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum dan berlanjut dengan UU nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja,” tulis isi laman tersebut.

Berdasarkan UU tersebut, Kementerian ATR/BPR melalui kanwil BPN Provinsi Nusa Tenggara Barat melaksanakan pengadaan tanah di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika. Pengadaan tanah ini merupakan bagian dari kawasan destinasi pariwisata super prioritas untuk pengembangan infrastruktur penunjang pembangunan sirkuit internasional MotoGP.

Pembangunan sirkuit internasional sendiri berada di zona tengah kawasan Mandalika meliputi kurang lebih 140 hektar dengan lahan enclave seluas 11,4 Ha yang terdiri dari lahan enclave penlok I seluas 4,8 hektare dan lahan enclave penlok II seluas 6,6 hektare.

Untuk mendapatkan tanah tersebut, pemerintah pusat melalui ITDC Mandalika memberikan ganti untung sebesar Rp.27,7 Miliar kepada para pemilik lahan yang berada di kawasan sirkuit MotoGP Mandalika.

Harga yang terbilang sepadan mengingat harga tanah di Mandalika, usai ditetapkan sebagai KEK, destinasi pariwisata prioritas dan sirkuit MotoGP mendadak menjadi tinggi. Dilansir dari laman medsos Mandalika Hill-NTB, harga per-meternya  kini mencapai Rp.2,5 Juta rupiah.

Meskipun dinilai tinggi, banyak masyarakat dan juga pengembang untuk tetap membelinya untuk diinvestasikan kembali sebagai homestay.(Hs.Foto.ATR BPN)

Related posts