Indeks Keparahan Kemiskinan di Babel Terendah Se-Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengungkapkan bahwa Kepulauan Babel menjadi daerah dengan indeks keparahan kemiskinan terendah se-Indonesia.

Indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Samakin rendah nilai indeks maka semakin rendah ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin, begitu pun sebaliknya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Babel, Dwi Retno Wilujeng Wahyu Utami mengatakan sebelum memahami tentang indikator kemiskinan, yang perlu diketahui adalah Garis Kemiskinan (GK).

“Masyarakat yang pengeluarannya berada di bawah garis kemiskinan inilah yang disebut miskin dan yang jauh di bawah garis kemiskinan di sebut sangat miskin (kronis),” kata Dwi Retno, Rabu (18/08/2021).

Diketahui Garis kemiskinan (GK) Bangka Belitung berada pada posisi tertinggi di Indonesia, yaitu Rp 752.203, sedangkan GK Nasional berada pada Rp 472.525.

Dwi Retno mengungkapkan kedalaman kemiskinan yang dialami Babel mengalami penurunan pada Maret 2021 yaitu 0,609, yang semula pada September berada di posisi 0,789.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Menurut Dwi Retno hal ini baik adanya, masyarakat yang miskin mulai memiliki daya beli.

“Selanjutnya Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Pada poin ini Babel berada pada urutan pertama se-Indonesia. Artinya, jumlah pengeluaran masyarakat miskin semakin dekat dengan pengeluaran rata-rata masyarakat miskin,” ungkapnya.

Indeks Kedalaman Kemiskinan atau rata-rata masyarakat miskin mengalami kedekatan dengan GK. Artinya, belanja masyarakat miskin tidak mengalami ketimpangan atau keparahan yang sangat dalam. Sehingga, masyarakat miskin masih memiliki kemampuan untuk membeli.

“Jumlah, pengeluaran masyarakat miskin semakin dekat dengan pengeluaran rata-rata masyarakat miskin, sehingga masyarakat miskin kronis semakin sedikit.” Katanya.

Masyarakat miskin dalam kategori parah atau kronis menjadi lebih sedikit. Dalam 4,9% penduduk Babel yang mengalami kemiskinan, ada beberapa masyarakat ‘miskin parah’ yang bergerak mengalami kenaikan pengeluaran. Hal ini tentu menjadi nilai positif bagi para stakeholder pusat dan daerah yang telah memberikan intervensi kepada masyarakat sangat miskin.

Dengan data ini, pihaknyanya berharap agar bantuan dapat diterima oleh masyarakat miskin dan miskin parah secara tepat sasaran menjadi semakin terlihat. Perlahan, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan menjadi semakin tipis.

“Bantuan dari pemerintah pusat dan daerah tentu menjadi salah satu faktor meningkatnya pengeluaran masyarakat yang memberikan indikasi baik bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari akun instagram @diskominfobabel menuliskan, hal tersebut juga berpengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi Babel Triwulan II 2021 yang mengalami peningkatan yaitu sebesar 6,85%. Angka tersebut merupakan angka tertinggi kedua se-Sumatera setelah Kepulauan Riau.

“Pertumbuhan ekonomi Babel di bawah kepemimpinan Gubernur Babel, Erzaldi Rosman Djohan ini disokong oleh komoditas sektor pertanian yang luar biasa dan memberi kontribusi tinggi pada pertumbuhan ekonomi di mana pada triwulan Il naik sekitar 3.31%,”tulisnya.(dwi.foto.dok.@diskominfobabel)

Related posts