Indonesia’s Occupational Employment outlook dan Indonesia’s Occupational Tasks and Skills

Jakarta,Gpriority-Dalam rangka membangun sumber daya manusia Indonesia secara holistik dan terintegrasi melalui pengembangan sistem informasi pasar tenaga kerja yang kredibel dan berkelas dunia, sebagai bagian dari upaya reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia, Kementerian PPN/Bappenas menggandeng Bank Dunia untuk meluncurkan program Indonesia’s Occupational Employment outlook dan Indonesia’s Occupational Tasks and Skills.

Menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam siaran persnya pada Selasa (25/5/2021), Indonesia’s Occupational Employment Outlook (IOEO) dan Indonesia’s Occupational Tasks and Skills (IndOTaSk) merupakan sebuah laporan yang dibuat untuk membangun sumber daya manusia Indonesia secara holistik dan terintegrasi melalui pengembangan sistem informasi pasar tenaga kerja yang kredibel dan berkelas dunia.

“Laporan IOEO dan IndOTaSk ini mempelajari dinamika lapangan kerja dan keterampilan tenaga kerja di Indonesia memberikan satu pandangan dan bahkan seyogianya dapat menjadi dasar yang baik untuk mengembangkan sistem informasi pasar kerja. Selain itu, kedua laporan ini dapat membantu kita dalam merencanakan pembangunan human capital Indonesia secara lebih baik,” jelas Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Pengembangan sistem informasi pasar kerja di Indonesia mencakup empat fungsi utama, yaitu bimbingan karier, jobmatching,analisis pasar kerja, danbasis kebijakan publik (activelabormarketpolicy). Pengembangan sistem informasi pasar kerja ini akan menghasilkan data dan informasi ketenagakerjaan yang kuat dan akurat. Selanjutnya, masyarakat pekerja dan pencari kerja dapat mengambil manfaat, serta intervensi kebijakan ketenagakerjaan dapat lebih efektif dan efisien. “Keempat fungsi sistem informasi pasar kerja tersebut harus dapat disediakan dengan baik sehingga masyarakat bekerja dan pencari kerja dapat memperoleh manfaatnya. Di sisi lain, sistem informasi pasar kerja yang baik tentunya dapat menjadi intervensi kebijakan publik di bidang ketenagakerjaan hingga lebih tepat sasaran,” jelas Menteri Suharso.

IOEO yang merupakan hasil OccupationalandEmploymentVacancySurvey (OEVS) pada 2019 tersebut menghasilkan data prospek atau prediksi pekerjaan dalam jangka pendek, serta mengidentifikasi prospek pekerjaan “cerah” (bright) sampai “redup” (dim) dalam jangka pendek. Sementara itu,IndOTaSk merupakan data tambahan terkait keterampilan dan tugas untuk pekerjaan “cerah”. Metode IndOTaSk mengadaptasi metodologi yang dipakai Amerika Serikat dan diakui secara global, yaitu OccupationalInformation Network (O*NET). IndOTaSk menguraikan tugas dan keterampilan pada 51 okupasi yang diidentifikasi sebagai okupasi dengan kebutuhan tinggi dan atau strategis untuk Indonesia.

“Dalam upaya mendukung Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dengan masyarakat kelas menengah yang kuat, dibutuhkan investasi sumber daya manusia yang lebih baik. Investasi diperlukan untuk secara efektif memenuhi permintaan sektor tenaga kerja yang berubah dengan cepat. Dua studi yang dipersiapkan oleh Bank Dunia bertujuan untuk mendukung Pemerintah Indonesia menjawab pertanyaan terkait jenis pekerjaan yang kemungkinan besar akan dibutuhkan di masa depan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut,” ungkap Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen. “Bank Dunia akan terus mendukung upaya Pemerintah menciptakan tenaga kerja yang berketerampilan tinggi dan produktif, yang merupakan hal penting dalam meraih tujuan-tujuan Indonesia tersebut,” tambahnya.

Diseminasi Laporan IOEO dan IndOTaSk 2020 ini diharapkan dapat semakin meningkatkan awareness seluruh pemangku kepentingan, seperti kementerian/lembaga, dunia usaha dan dunia industri, lembaga pendidikan dan pelatihan, lembaga riset, dan mitra pembangunan, akan pentingnya informasi yang detail tentang kebutuhan keahlian dan keterampilan di pasar kerja sebagai dasar pembangunan sumber daya manusia. Kedua laporan ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi agar lebih efisien dan mampu membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.(Hs.foto.dok.Humas Bappenas)

Related posts