Isi Surat Megawati ke MK Kutip ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, Begini Asal-Usulnya

Jakarta, GPriority.co.id – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyampaikan surat Amicus Curiae atau Sahabat Pengadilan kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Surat untuk perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres itu menyinggung salah satu karya Raden Ajeng Kartini yakni Habis Gelap Terbitlah terang.

Surat tersebut diserahkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Syaiful Hidayat di Gedung II MK, Jakarta Pusat, Selasa (16/4).

Hasto mengatakan maksud dari Megawati menyampaikan surat itu ialah ungkapan bagaimana perjuangan dari Raden Ajeng Kartini itu tidak akan pernah sia-sia karena emansipasi itu merupakan bagian dari demokrasi.

Berikut isi surat Amicus Curiae yang ditandatangani oleh Megawati Soekarnoputri dan tertulis pula seruan merdeka sebanyak tiga kali.

“Rakyat Indonesia yang tercinta, marilah kita berdoa semoga ketok palu MK bukan merupakan palu godam, melainkan palu emas. Seperti kata Ibu Kartini pada tahun 1911: “Habis gelap terbitlah terang”, sehingga fajar demokrasi yang telah kita perjuangkan dari dulu, timbul kembali dan akan diingat terus-menerus oleh generasi bangsa Indonesia” tulis surat itu.

Seperti dilansir kemendikbud.go.id, “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan buku karya Raden Adjeng Kartini atau dikenal RA Kartini. Buku tersebut merupakan Kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini kepada sahabatnya di Belanda, Stella Zeehadelaar pada awal abad ke-20. Buku ini terbit pada tahun 1911, setelah Kartini meninggal dunia pada usia yang 25 tahun.

Dalam buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang”, surat-surat Kartini mengeksplorasi topik-topik yang relevan dengan kehidupan wanita pada masa itu, seperti pendidikan, perkawinan, kesetaraan gender, dan kebebasan berbicara.

Kartini juga mengkritik tradisi yang dianggapnya merugikan perempuan, seperti adat poligami dan perjodohan yang sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan keinginan perempuan yang bersangkutan.

Selain itu, Kartini dalam buku itu juga memperlihatkan kecerdasan, keberanian, dan kegigihan dari seorang wanita muda yang ingin berjuang untuk hak-haknya. Dalam surat-suratnya, Kartini menunjukkan keberaniannya dalam mengkritik budaya patriarki yang sangat mengatur hidup wanita Indonesia.

Foto: Istimewa