Mendadak Jadi Tulang Punggung Keluarga di Tengah Pandemi

“Ih, corona jahat banget, sih!” kata Dian, seorang karyawan yang sedang bertahan di tengah pandemi covid-19.

Dian Ayu, berumur 46 tahun, (46) lahir di Bogor, 24 Januari 1974. Ia bekerja sebagai resepsionis di salah satu hotel di Bogor. Pendidikan terakhirnya adalah SMA jurusan IPS, dahulu ia bersekolah di SMA Ganesha atau saat ini dikenal dengan nama SMA Taruna Andigha.Selama masa pandemi ini, ia bekerja sekaligus menjadi tulang punggung bagi keluarganya karena suaminya berhenti bekerja untuk sementara waktu.

Mendapat Kepercayaan

Setelah lulus SMA, ia sempat bekerja di Jakarta selama dua tahun, lalu berhenti dan memutuskan untuk bekerja di Bogor. Ia diterima sebagai resepsionis hotel dan bekerja sampai saat ini. Ia bekerja dari hari Senin sampai Sabtu mulai pukul 08.00-17.00 WIB, . tetapi Namun, terkadang ia juga bekerja pada hari Minggu jika dibutuhkan. Selama bekerja sebagai resepsionis hotel, ia sampai hafal beberapa tamu yang sering menginap di sana. Tamu-tamu yang sering menginap terkadang menanyakan kamar kosong melalui pesan singkat atau SMS, sehingga mereka tidak perlu datang ke hotel.

Hotel tempatnya bekerja bukan hotel besar dan mewah. Terdapat dua lantai yang total keseluruhan kamarnya hanya berjumlah 20 kamar. Ia biasanya melaporkan kamar yang terisi sebanyak dua ratus dalam satu bulan.

Ia merupakan orang yang sangat dipercaya oleh pemilik hotel tersebut. Pemilik hotel itu sudah berusia senja dan sudah lama sakit, sehingga meminta bantuan Dian untuk mengurus hotel tersebut. Ia bahkan kadang-kadang membantu pemilik hotel untuk membagikan gaji dan THR kepada pegawai yang lainnya. Selain karena pemilik hotel tersebut yang sangat baik, ternyata ada hal lain mengapa alasan lain yang membuatnyaia sangat mampu bertahan lama bekerja di hotel tersebut. Ia mendapatkan gaji tambahan. Gaji pokok yang diterimanya dalam satu bulan hanya sebesar Rp2 juta.

“Jadi misalnya harga satu kamar permalamnya itu Rp350 ribu nah saya dapat Rp50 ribu dari uang itu. Biasanya satu bulan kan saya laporan ada dua ratus kamar yang keisi, jadi sebulan saya bisa dapat uang tambahan kurang lebih Rp10 juta,” ujar Dian.

Setelah beberapa waktuBeberapa bulan lalu, pemilik hotel tersebut, Alex (69), meninggal dunia karena sakit. Datanglah anak-anak dari pemilik hotel, ternyata hotel tersebut sudah diwariskan kepada anak-anak dari pemiliknyaHotel itu pun diwariskan kepada anak-anaknya.

“Anak-anaknya pada galak, beda sama bos saya, jadi saya suka ga betah kerja di bawah arahan anak-anaknya,” ucap Dian.

Sejak itu, ia sudah memikirkan jika berhenti dari pekerjaannya, ia akan membuka jasa menjahit di rumahnya. Ia pandai menjahit karena waktu luang atau hari liburnya selalu diisi dengan menjahit pakaian. Ditambah Selain itu, umurnya yang sudah hampir menginjak 50 tahun,  Ia ingin bekerja di rumah, tetapi juga harus memikirkan masa depan anak-anaknya. Ia mempunyai suami yang bekerja di Jakarta dan dua orang anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Dampak Pahit Covid-19

Semenjak adanya pandemi covid-19, seluruh masyarakat Indonesia terkena dampak tak terkecuali Dian dan keluarganya, . Ia merasakan perbedaan dan pekerjaannya menjadi sangat tergangggu. Terlebih, adanya Adanya peraturan social distancing dan penutupan hotel untuk sementara. Ia dan teman-temannya sangat bingung dan sedih. Suaminya yang bekerja di Jakarta berhenti kerja untuk sementara waktu dan anak-anaknya juga belajar dari rumah. Harapan satu-satunya adalah Dian. Mau tidak mau, saat pandemi ini ia menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

“Kalau hotel sepi, apalagi ditutup kan bingung. Gaji saya soalnya dari situ,” ucapnya.

Hotel itu harus tetap buka agar ia dan teman-temannya mempu mampu memenuhi kebutuhan di tengah pandemi ini.

“Hotelnya tetap buka, tapi gerbang depannya ditutup biar gak kena razia. Jadi, ada teman saya yang jaga di depan pintu gerbang, kalau ada tamu yang mau masuk, langsung buru-buru dimasukin habis itu gerbangnya ditutup lagi,” kata Dian.

Tetap saja, tamu yang datang sangat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sebelum adanya pandemi ini. Selama pandemi ini, ia dan suaminya mengandalkan uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain harus memenuhi kebutuhan keluarganya, ia juga harus memenuhi kebutuhan adik perempuannya yang saat ini tidak memiliki suami. “Mana saya juga kan ngehidupin adik saya. Biasanya saya kasih uang Rp4 juta (empat juta rupiah) sebulan sekali soalnya anak-anaknya masih sekolah. Kalau kaya gini saya jadi sedih.” ucapnya dengan nada kesal.

Sebelum ada pandemi ini, ia sempat meminjamkan uang kepada temannya yang terlilit utang. Uang yang dipinjam oleh temannya lumayan besar, sehingga sangat berarti bagi Dian ketika berada di tengah pandemi ini. Ketika ia sedang benar-benar membutuhkan uang, ia menggadaikan gelang emas miliknya yang kemudian uangnya dijadikan uang tambahan untuk memberikan THR kepada pegawai yang lainnya.

“Saya kan udah dipercaya sama mendiang bos saya, jadi saya gadein gelang itu buat nambah-nambahin THR pegawai. Soalnya saya ngerasa itu udah tanggung jawab saya,” tutur Dian.

Selama bulan ramadhan, ia bekerja tiga kali dalam satu minggu. “Jadi saya kerjanya misalnya hari senin, terus selasanya libur. Gitu aja selang-seling,” ucap Dian.

Jika ia pergi bekerja, anak-anaknya dijaga oleh suaminya. Selain menjadi sosok tulang punggung bagi keluarganya di tengah pandemi ini, kini ia menjadi sosok guru bagi anak-anaknya saat belajar di rumah. Ia amat sangat berharap pandemi ini segera berakhir agar ia dan juga semua masyarakat bisa menjalankan aktivitas kembali seperti biasanya.(Sabila Adzkia,Mahasiswi Sastra Indonesia FISIB Universitas Pakuan)

Related posts