Mendagri Tito: Pandemi Covid-19 Seperti Perang Dunia Ke-3

Jakarta,Gpriority- Berdasarkan catatan Worldmeter.info.coronavirus Pandemi virus corona atau Covid-19 telah menyebar hingga ke 198 negara diberbagai belahan dunia. Untuk itulah pada saat video telekonferensi bersama seluruh bupati, wali kota, sekretaris daerah se-Indonesia, serta asosiasi dunia usaha,Selasa (7/4) Mendagri Tito Karnavian menyebut jika perang melawan Covid-19 seperti Perang Dunia ke-3.

“Dengan tidak berlebihan dan tidak ingin membuat masyarakat was-wa, menurut saya ini adalah perang dunia ketiga,”ujar Tito.

Tito juga menyebutkan perang melawan Covid-19 ini lebih sulit karena perang yang dihadapi melawan musuh yang tidak terlihat dan melanda hampir semua negara.

“Jika perang dunia 1 dan perang dunia 2 adalah perang militer yang memiliki batasan-batasan dengan target mereka yang sesuai dengan prinsip-prinsip perang internasional yakni kombatan serta tidak menyerang warga sipil. Namun covid-19 tidak menyerang siapa saja, tidak pandang bulu,” papar Tito.

Sebelumnya, lanjut Tito, memang ada pandemi Black Death pada abad ke-14. Namun pandemi ini hanya menyerang benua Eropa dan sebagian wilayah Asia. Ia menambahkan, ada pula pandemi influenza di tahun 1918 yang juga menyerang banyak negara.

“Berbeda dengan pandemi Covid-19 ini yang telah menyerang 198 negara. Ini jumlah yang sangat masif,” ujarnya.

Mengutip ahli strategi perang asal Cina Sun Tzu, Tito mengungkapkan, jika ingin berperang maka terlebih dulu harus mengenali musuh dengan baik, diri sendiri, serta kemampuan yang dimiliki.

“Ibarat perang, Sun Tzu mengatakan, Kenali musuhmu, kenali dirimu, dan seluruh kemampuanmua, maka kamu akan menangkan seribu kali peperangan,”ujarnya.

Tito mengatakan, sebagaimana musuh, virus corona memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan virus ini, katanya, adalah menyerang dan menyebar dengan cepat tanpa memandang suku, ras, agama.

“Yang paling sulit adalah virus ini memiliki kemampuan hidup di objek-objek tertentu tanpa terlihat,” jelasnya.

Sebaliknya, lanjut Tito, virus corona ini juga memiliki beberapa kelemahan yakni tidak tahan jika dipanaskan hingga 50 derajat Celcius selama 30 menit, dilarutkan kedalam cairan sabun, disinfektan, juga alcohol 70%.

“Oleh karena itu, upaya yang harus dilakukan dengan tingkat penyebaran yang cukup tinggi, kita harus bisa membendung segala penularan dengan memperkuat daya tahan tubuh,” imbuhnya.

Tito pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan dalam memerangi wabah virus corona ini.

“Ini waktunya bagi kita untuk bersatu tanpa membedakan suku, agama, ras. Semua elemen masyarakat bersatu dalam menghadapi perang Covid 19,”tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut Tito Karnavian juga mengungkapkan bahwa untuk penanggulangan Corona di seluruh kabupaten/kota kekurangan alat dan sarana kesehatan. Tito mencontohkan Provinsi NTT kekurangan 17 juta liter disinfektan berisi chlorine dan Sumatera Selatan sangat membutuhkan 250 juta masker biasa.”Dan DIY membutuhkan 3,2 juta APD,” kata Tito Karnavian.

” Untuk itulah kita harus memaksimalkan produk dalam negeri. Karena banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) konveksi rumahan yang bisa dimobilisasi untuk memproduksi APD untuk kebutuhan penanganan Corona,” ucap Tito.

Alasan itu pulalah yang membuat Tito membuat tim untuk mendata perusahaan nasional dalam negeri dan kemampuan produksi mereka. Pendataan awal soal kebutuhan dan ketersediaan sembilan bahan pokok (sembako) di daerah juga telah dilakukan.

Tito Karnavian menerangkan dengan membangun komunikasi dan tukar-menukar data antara asosiasi perusahaan dan pemerintah daerah dia berharap semua kekuatan bisa dikerahkan untuk mengatasi wabah Corona dan penyakit Covid-19.

“Diskusi seperti ini perlu dilakukan secara teratur agar terjadi sinergi,” ujar Tito Karnavian.

Tito juga meminta agar para kepala daerah untuk berperan aktif dalam memerangi covid-19. Untuk itulah dirinya telah menerbitkan surat edaran tentang pembentukan gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di daerah yang ditujukan kepada seluruh kepala daerah. Tito meminta gubernur, wali kota dan bupati memimpin langsung gugus tugas di daerah untuk percepatan penanganan. Ia beralasan gugus tugas akan bekerja secara maksimal jika dipimpin langsung kepala daerah yang memiliki kewenangan penuh dibanding pejabat daerah lainnya(Hs)

Related posts