Sarasvati Menggelar Diskusi Bertajuk Kritikus Seni: Seteru atau Sekutu?

JAKARTA- Sarasvati Art Management & Publication merespons atas rendahnya eksistensi kritikus dan kurangnya minat terhadap profesi kritikus seni rupa dalam skema industri seni rupa di Indonesia. Maka dari itu, Sarasvati mengundang Prof. Dr. M Dwi Marianto (Dosen Apresiasi dan Kritik Seni Rupa Indonesia), Citra Smara Dewi (Kurator Galeri Nasional dan Dosen Fakultas Seni Rupa IKJ) dan Drs. Asmudjo Jono Irianto (Kurator, seniman, dan Dosen FSRD ITB) dalam seminar yang bertajuk “Kritik Seni: Seteru atau Sekutu”.

Para pembicara akan mengulas 3 tema yang berkaitan dengan pasang surutnya kritik seni di Indonesia, yaitu: ” Apresiasi dan Kritik Seni Rupa”, “Peran Berkelindan Kurator dan Kritikus Seni” serta “Problem Kritik Dalam Seni Rupa Kontemporer”.

Di Indonesia, kritikus seni sendiri sudah lahir di era tahun 1940-an sejak kritik terhadap lukisan “Mooi Indie” bermunculan. Namun, kritik seni pertama kali dirintis oleh Surjono dengan tulisan yang berjudul ” Seni Loekis, Kesenian, dan Seniman”. Selanjutnya, di era 60-an muncul kritik terhadap kritikus yang tidak objektif. Sanento Tukiman menulis sebuah artikel berjudul “Kritik Atas Nama” yang didimuat di surat kabar Sinar Harapan pada tahun 1969. Tulisannya memotret kondisi lingkungan seni di Indonesia pada saat itu belum terbiasa dengan budaya kritik.

Baru di era awal 80-an, perbincangan mengenai acuan kritik ramai bergulir. Di tahun 1983 untuk pertama kalinya digelar diskusi mengenai penulisan kritik seni rupa berdasarkan respons seniman serta kajian sejarah seni rupa Indonesia. Kemudian di tahun 1997, pedoman kritik seni rupa dibukukan dalam “Beberapa Pandangan Kritik Seni Rupa” yang berisi empat asas kritik yang memaparkan pokok kritik seni rupa sebagai apresiasi kritis berupa interpretasi yang mampu menggambarkan realitas karya dimana harus ada keterbukaan mengenai pengetahuan dan informasi yang dimiliki dan dibagikan sehingga evaluasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan sebagai nilai mutu sebuah karya.

Lalu di era 90-an, peran kritikus tampaknya tergeser oleh kehadiran kolektor. Puncaknya di tahun 1998 saat krisis moneter menyebabkan harga rupiah turun. Seperti aji mumpung para kolektor mancanegara berlomba-lomba memburu koleksi baik sebagai gaya hidup atau investasi. Keadaan tersebut membuat harga sebuah karya seni berdasarkan kepada nama sebanyak apa karya seorang seniman dibeli oleh para kolektor. Kolektor seperti berada di jalur utama dan menjadi barometer baru setelah kritikus.

Michaela Anselmini seorang art konservator dan restorator asal Italia juga akan memaparkan pengalamanya selama 2 tahun belakangan melatih 2 mahasiswa ITB untuk menjadi Art Conservator & Restorator. Program tersebut telah berjalan dengan dukungan dari Instituto Italiano di Cultura Jakarta, Kedutaan Besar Italia, dan FSRD ITB Bandung.(Mila)

Related posts