T-50i Golden Eagle dan Eksistensinya


Jakarta, Gpriority.co.id – Pesawat TNI AU T-50i Golden Eagle kembali mengalami kecelakaan di Blora, Jawa Tengah pada senin (18/7). Sebagai respon dari kecelakaan tersebut, TNI AU menghentikan operasional jet tempur T-50i Golden Eagle untuk sementara waktu. Pesawat yang tergolong anyar buatan Korea Selatan ini banyak digunakan negara Asia dan memiliki sejumlah keunggulan. Gpriority mensarikannya untuk anda berikut ini.

Kabar duka kembali menyelimuti jajaran TNI AU, Pesawat T-50i Golden Eagle yang tengah melakukan latihan malam, night tactical intercept, jatuh di hutan kawasan Blora, Jawa Tengah pada Senin (18/7). Pesawat yang lepas landas dari dari Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa timur pada pukul 18.24 WIB itu dipiloti oleh Lettu Pnb Allan Safitra. Pesawat dengan tail number TT-5009 itu kemudian hilang kontak sekitar pukul 19.25 WIB. TNI AU kemudian memastikan T-50i Golden Eagle jatuh di kawasan hutan Desa Nginggil, Kecamatan Kradenan, Nlora, Jawa Tengah. Sang Pilot, Lettu Pnb Allan Safitra juga dipastikan tewas dalam kecelakaan tersebut.

Buntut dari kecelakaan itu, TNI AU menghentikan operasional jet tempur T-50i Golden Eagle untuk sementara waktu. Langkah ini untuk evaluasi kelayakan terbang pasca jatuhnya pesawat. Sebagai informasi, kecelakaan pesawat T50i Golden Eagle bukan kali ini terjadi. Pada tanggal 20 Desember 2015, pesawat T50i Golden Eagle dengan nomor ekor TT5007 jatuh saat melakukan solo aerobatik pada perayaan Gebyar Dirgantara Yogyakarta 2015 di Pangkalan Udara Adisutjipto, Yogyakarta. Menurut Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto Marsekal Pertama Imran Baidirus, pesawat tersebut jatuh setelah melakukan atraksi selama 20 menit. Pilot pesawat tersebut adalah Letnan Kolonel Marda Sarjono. Sedangkan back seater-nya adalah Kapten Dwi Cahyadi. Pada saat kejadian, keduanya tidak sempat menarik dan menggunakan kursi pelontar sehingga menjadi korban dalam musibah tersebut.

Kecelakaan kedua terjadi di Lanud Iswahjudi pada 10 Oktober 2020. Saat itu pesawat tergelincir dan para penerbangnya, yaitu Mayor Pnb Luluk Teguh Prabowo (Instruktur) dan Letda Pnb Muhammad Zacky, mengalami cidera. Letkol Pnb Anumerta Luluk Teguh Prabowo meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta pada Rabu (2/9/2020).

Indonesia dan T-50i Golden Eagle

Indonesia menerima kiriman pertama T-50i Golden Eagle pada tahun 2013 sebanyak 16 pesawat. Kemudian pada 25 Januari 2014 dua pesawat terakhir kembali diterima. Total ada 18 pesawat atau satu skadron T-50i Golden Eagle TNI AU. Indonesia tercatat sebagai pembeli pertama pesawat yang dikembangkan oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat ini. Pada 20 Juli 2021, Korea Aerospace Industries (KAI) selaku produsen T-50i mengungkapkan pihaknya telah menandatangani kontrak pengadaan tambahan untuk jet tempur taktis/latih tempur T-50i dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Seperti dikutip dari mk.co.kr, dalam kontrak disebut KAI akan mengekspor enam unit T-50i dan paket dukungan lanjutan untuk pengoperasian pesawat ke Indonesia. Masih dari sumber yang sama, dikatakan nilai kontrak mencapai 274,488 miliar won (US$240 juta) dengan periode kontrak efektif mulai 16 Desember 2021 sampai 30 Oktober 2024.

Di Indonesia, pesawat ini diberi nama resmi T-50i, dimana fungsinya adalah untuk pesawat LIFT (Lead In Fighter Trainer). Oleh TNI AU T-50i digunakan sebagai pesawat latih calon penerbang tempur. Delapan pesawat memiliki warna biru dan kuning khas tim aerobatik legendaris TNI AU Elang Biru. Sementara delapan pesawat lagi berwarna kamuflase hijau khas misi tempur/ Tempur Taktis. Masuk dalam kelompok penempur taktis, T-50i Golden Eagle yang punya predikat lighweight multirole fighter menjadi pelengkap dari keberadaan Hawk 109 dan Hawk 209. AU Korsel sendiri mendapuk T-50 sebagai jet latih bagi penerbang untuk transisi ke jet F-16 atau F-15.

Selain Indonesia, negara pengguna keluarga T-50 adalah Filipina, Thailand, dan Irak. AU Filipina bahkan telah menerjunkan langsung T-50 dalam konflik di Marawi serta misi pengawasan udara di Laut Cina Selatan (LCS) yang membuat T-50 berpredikat ‘battle-proven’. Belakangan, Polandia selaku negara Eropa juga tertarik untuk memiliki T-50. Pada bulan Juni 2022, Menteri Pertahanan Polandia Mariusz Blaszczak yang mengunjungi pabrik KAI dilaporkan telah menyatakan keinginannya untuk membeli pesawat tempur ringan itu. Ia dilaporkan ingin memperoleh total 48 pesawat yang di Korsel bernama FA 50 itu dengan level Block 20 yang dilengkapi dengan radar AESA. Sejak diproduksi pada tahun 2001, populasi pesawat T-50 Golden Eagle hingga kini telah mencapai sekitar 100 pesawat.

Spesifikasi T-50i Golden Eagle

T-50i Golden Eagle ditenagai mesin General Electric F404-GE-102 yang mampu menghasilkan daya dorong 17.700 pounds. Pesawat ini didesain sanggup terbang hingga ketinggian 48.000 kaki, dengan kecepatan sampai 1,5 kali kecepatan suara (1.600 kilometer per jam). Dalam konfigurasi lengkap pada bobot maksimal 27.322 pounds (14 ton), T-50i Golden Eagle mampu dengan mudah menanjak hingga ketinggian maksimal 55.000 kaki (16,76 km) dari permukaan Bumi.

T-50i sendiri termasuk jenis pesawat tempur generasi keempat (modern). Desain pesawat generasi keempat sangat dipengaruhi dari beberapa fitur yang menyertainya, yaitu meliputi kemampuan manuver yang jauh lebih baik karena stabilitas statis yang rendah. Disamping itu terdapat juga kecanggihan dalam komputer digital dan teknik integrasi sistem serta upgrade sistem radar seperti AESA (actively electronic scanned array), digital avionics buses dan IRST (Infra Red Search & Tracking).

Untuk urusan senjata, T-50i Golden Eagle memiliki senapan mesin gatlin gun Vulcan M197 kaliber 20 mm yang terletak anatara moncong dan kokpit. Pesawat ini juga mampu membawa beragam bom udara ke darat, rudal udara ke darat, roket serang darat hingga rudal udara ke udara seperti sidewinder. Keluarga T-50 secara keseluruhan terdiri dari T-50 (versi dasar), T-50B, TA-50, dan FA-50. Seri paling canggih sudah barang tentu FA-50 yang punya kapabiltas tempur paling tinggi. Tapi secara umum, KAI merancang tipe TA-50 dan FA-50 untuk misi tempur udara ke udara dan udara ke permukaan. (PS/dbs)

Related posts