Kemenkes: 2,95 Juta Peserta CKG Alami Gangguan Mata

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat melakukan skrining kesehatan mata secara rutin/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat melakukan skrining kesehatan mata secara rutin/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat melakukan skrining kesehatan mata secara rutin untuk mencegah gangguan penglihatan hingga kebutaan.

Upaya deteksi dini ini dinilai penting bukan hanya untuk menjaga kesehatan, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan gangguan penglihatan dapat dialami siapa saja. Namun, banyak kasus dapat dicegah, ditemukan lebih awal, atau dikoreksi apabila masyarakat menjalani pemeriksaan mata secara berkala.

“Gangguan penglihatan dapat terjadi pada siapa saja. Namun, banyak gangguan penglihatan dapat dicegah, ditemukan lebih dini, ataupun dikoreksi apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk melakukan pemeriksaan secara berkala,” kata Andi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa (13/10).

Menurut Andi, skrining mata menjadi langkah awal untuk mendeteksi potensi gangguan penglihatan, termasuk katarak dan glaukoma. Pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat primer, seperti puskesmas, juga terus didorong agar layanan dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Skrining merupakan langkah awal untuk menemukan gangguan penglihatan lebih dini sehingga masyarakat dapat segera memperoleh tindak lanjut yang tepat, baik berupa edukasi, koreksi, tata laksana, maupun rujukan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Urgensi pemeriksaan mata turut terlihat dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026. Kemenkes mencatat sebanyak 2,95 juta dari total 23,35 juta peserta terdeteksi mengalami gangguan mata, atau sekitar satu dari delapan peserta. Sebagian di antaranya belum menyadari masalah penglihatan yang dialami.

Kemenkes telah mengintegrasikan skrining kesehatan mata ke dalam program CKG sebagai upaya memperluas deteksi dini. Masyarakat diimbau tidak menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksakan mata.

Andi menegaskan, kesehatan mata memiliki dampak luas terhadap pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan mental, produktivitas, hingga keselamatan publik. Penglihatan yang baik membantu anak belajar lebih optimal dan mendukung orang dewasa bekerja secara aman serta produktif.

“Karena itu, investasi pada kesehatan mata sesungguhnya adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Andi.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Hari Penglihatan Sedunia 2026 sebagai momentum membangun kebiasaan menjaga kesehatan mata. Kolaborasi pemerintah, fasilitas kesehatan, media, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat kesadaran pemeriksaan berkala.

“Mari kita jadikan Hari Penglihatan Sedunia tahun 2026 sebagai momentum untuk membangun budaya menjaga kesehatan mata. Jangan tunggu mata bermasalah; kenali, skrining, periksa, dan tindak lanjuti sedini mungkin,” kata Andi.